KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Harapan puluhan calon siswa SMP yang sempat terancam tidak memperoleh sekolah mulai menemukan titik terang. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memastikan sebagian besar dari 36 siswa yang sebelumnya dilaporkan belum mendapatkan sekolah kini telah tertampung, baik di sekolah negeri melalui sisa kuota maupun di sekolah swasta. Saat ini, hanya tersisa lima siswa yang masih dalam proses penelusuran.
Plt Inspektur Daerah Kota Samarinda Firdaus Akbar mengatakan, berdasarkan informasi terakhir yang diterima dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, mayoritas siswa yang sebelumnya masuk dalam daftar aduan telah memperoleh sekolah. "Informasi terakhir dari 36 siswa yang diadukan itu, sebagian besar sudah bersedia bersekolah di sisa kuota yang masih tersedia. Sebagian lainnya juga sudah diterima di sekolah swasta," ujarnya, Kamis (16/7).
Secara umum penanganan terhadap 17 siswa yang sebelumnya masih dalam proses fasilitasi telah menunjukkan perkembangan signifikan. Meski demikian, masih terdapat beberapa siswa yang keberadaannya terus ditelusuri. "Kalau informasi terakhir, tinggal sekitar lima siswa yang belum mendapatkan sekolah. Tetapi untuk data pastinya tentu ada di Disdikbud yang melakukan pendataan secara langsung," katanya.
Ia menambahkan, ditargetkan seluruh calon siswa yang belum tertampung dapat memperoleh sekolah sebelum berakhirnya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Jumat mendatang.
Karena itu, Disdikbud Samarinda mendapat penugasan untuk menelusuri satu per satu calon siswa yang masih belum bersekolah. "Dari hari ini sampai Jumat, kami tugaskan secara khusus Disdikbud untuk kembali menelusuri siswa yang memang belum mendapatkan sekolah. Targetnya sampai akhir MPLS, semaksimal mungkin seluruh anak-anak itu sudah memperoleh sekolah," tegasnya.
Firdaus mengakui proses pendataan tidak selalu mudah karena tidak semua orang tua melaporkan perkembangan terbaru apabila anaknya telah diterima di sekolah swasta. Kondisi tersebut membuat verifikasi lapangan tetap diperlukan agar data yang dimiliki benar-benar akurat. "Penelusuran terus dimaksimalkan hingga hari terakhir MPLS dan anak-anak itu mendapatkan sekolah," pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani