KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Arus informasi yang bergerak cepat di era digital membawa tantangan baru bagi dunia jurnalistik. Di tengah maraknya hoaks dan informasi tanpa sumber yang jelas, media massa dituntut tetap menjadi rujukan publik.
Melalui pemberitaan yang akurat, berimbang, dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Peran tersebut dinilai semakin penting seiring berkembangnya teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Menurut Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, bahwa media memiliki tanggung jawab besar dalam meningkatkan literasi informasi masyarakat. Sedangkan di sisi lain, jurnalisme juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan prinsip dasar kerja jurnalistik.
Baca Juga: Ditresnarkoba Polda Kaltim Edukasi 576 Siswa Baru, Cegah Narkoba Sejak Hari Pertama Sekolah
"Jurnalisme harus menjadi smart journalism. Kita juga perlu menggunakan big data dan teknologi seperti AI untuk memperkuat informasi yang kita berikan kepada masyarakat, bukan sebaliknya mengandalkan AI tanpa menggunakannya secara cerdas," ujarnya dalam Workshop Penguatan Peran Radio dan Televisi Kalimantan Timur sebagai Media Informasi, Edukasi, dan Hiburan Berkualitas di Era Digital di Hotel Mercure Samarinda, Sabtu (19/7).
Dia menjelaskan, derasnya arus informasi membuat masyarakat perlu dibekali kemampuan memverifikasi setiap informasi yang diterima. Sikap kritis menjadi bekal penting agar publik tidak mudah terjebak pada informasi yang menyesatkan.
"Kalau melihat informasi yang terasa kurang pas, masyarakat harus punya rasa ingin tahu untuk mencari sumber asalnya. Jangan langsung dipercaya lalu disebarkan," jelasnya.
Dia menambahkan, media juga berfungsi sebagai penghubung antara masyarakat dengan para pengambil kebijakan. Melalui pemberitaan yang kredibel, media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menyalurkan aspirasi publik kepada pemerintah.
Baca Juga: Asy-Syifa Balikpapan Pastikan Santri Didampingi 24 Jam, Utamakan Pendidikan Karakter
"Pegiat media menjadi jembatan untuk mengamplifikasi informasi yang perlu diketahui masyarakat, sekaligus menyampaikan aspirasi dan keluhan masyarakat kepada para pembuat kebijakan," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim Ririn Sari Dewi mengatakan, penguatan literasi digital masih menjadi pekerjaan besar pemerintah daerah. Karena itu, pihaknya menggandeng sekolah hingga media massa untuk membangun budaya bermedia yang sehat.
"Tantangan kami adalah bagaimana membersamai masyarakat agar melek membaca informasi. Salah satunya melalui sosialisasi literasi digital di SMP, SMA, dan SMK agar masyarakat lebih cerdas bermedia sosial," tuturnya.
Menurut Ririn, media merupakan mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Ia menegaskan pemerintah tidak antikritik, namun setiap informasi perlu disampaikan secara utuh dan berimbang melalui mekanisme klarifikasi maupun hak jawab.
"Teman-teman media adalah mitra utama kami untuk menyampaikan informasi yang baik, tegas, dan akurat. Kami juga menggunakan hak jawab apabila ada pemberitaan yang perlu diluruskan," tegasnya.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kaltim Fitriansyah menilai perkembangan teknologi semestinya menjadi penguat, bukan ancaman, bagi media penyiaran. Menurutnya, kolaborasi riset antara pemerintah, akademisi, dan insan pers diperlukan agar radio dan televisi tetap relevan di era digital.
"AI jangan sampai menggantikan fungsi radio dan televisi, tetapi harus menjadi pendukung utama bagi kemajuan penyiaran. Ke depan kami juga berharap dapat berkolaborasi dengan para jurnalis untuk melakukan berbagai kajian," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo