Boleh Percepat Riset Tapi Ada Batasnya, Kepala Brida Kaltim Larang Keras Pakai AI Penuh untuk Karya Ilmiah

Denny Saputra • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 19:31 WIB
DUKUNGAN: Hetifah Sjaifudian memberikan pemaparan pemanfaatan AI di sela pembukaan workshop di Hotel Aston Samarinda, Minggu (19/7). (DENNY SAPUTRA/KP)
)
DUKUNGAN: Hetifah Sjaifudian memberikan pemaparan pemanfaatan AI di sela pembukaan workshop di Hotel Aston Samarinda, Minggu (19/7). (DENNY SAPUTRA/KP) )

SAMARINDA-Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di lingkungan perguruan tinggi dinilai tak lagi bisa dihindari. Namun, pemanfaatannya harus dibarengi dengan pemahaman etika agar teknologi tersebut menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir akademik.

Hal itu menjadi pesan utama dalam Workshop "Optimisasi Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Meningkatkan Kualitas Penelitian dan Publikasi Ilmiah Bagi Dosen" yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR RI di Hotel Aston Samarinda, Minggu (19/7).

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengatakan AI harus dipandang sebagai teknologi yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kerja dosen, peneliti, hingga jurnalis. Karena itu, peserta workshop tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung penggunaan AI.

 "Kini, tidak mungkin bisa bersaing kalau orang lain menggunakan AI sementara kita tidak. Paling penting adalah etika penggunaannya tetap dijaga," ujarnya dikonfirmasi di sela kegiatan. Politikus Partai Golkart itu menjelaskan bahwa kemampuan dosen memahami AI menjadi kunci agar dapat memberikan pedoman yang tepat kepada mahasiswa.

Dia menilai larangan penggunaan AI secara mutlak bukan solusi, melainkan perlu dibangun pemahaman mengenai batasan dan cara penggunaan yang bertanggung jawab. "Kalau dosennya memahami dulu, mahasiswanya juga akan tahu koridor penggunaan AI yang benar," jelasnya.

Terpisah, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kalimantan Timur, Fitriansyah menilai bahwa workshop tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia iptek sekaligus memperkuat etika dalam pemanfaatan AI untuk penelitian dan publikasi ilmiah.

AI, kata dia, dapat mempercepat pekerjaan akademik, tetapi tidak boleh digunakan sepenuhnya untuk menghasilkan karya ilmiah. "Yang harus diperhatikan adalah etikanya. Jangan sampai AI digunakan penuh untuk membuat karya penelitian maupun publikasi," tegasnya.

Menurut Fitriansyah, Brida Kaltim selama ini telah menjalin kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi melalui program Kolaborasi Riset Inovasi Strategis (KRIS). Kerja sama tersebut mencakup berbagai riset, termasuk pengembangan teknologi AI bersama program studi teknik informatika di sejumlah kampus di Kalimantan Timur. "Hampir seluruh perguruan tinggi di Kalimantan Timur telah bekerja sama dengan kami, termasuk dalam riset-riset yang berkaitan dengan AI," pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
BRIDA Kaltim Artificial Intelligence (AI) BRIN samarinda hetifah sjaifudian