SAMARINDA-Tawa anak-anak yang memenuhi ruang belajar menjadi pemandangan yang terus dijaga khususnya di Sekolah Rimba, sebuah sekolah nonformal yang berada di Batu Besaung Kecamatan Samarinda Utara. Sekolah yang didirikan Yurni Handayani ini merupakan salah satu binaan Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan.
Bagi PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, penyediaan energi tak hanya soal memastikan pasokan bahan bakar tetap tersedia, tetapi juga ikut menyalakan semangat belajar generasi muda. Momentum Hari Anak Nasional yang diperingati tiap 23 Juli, menjadi pengingat bahwa investasi terbesar dimulai dari pendidikan dan pembentukan karakter.
Melalui Program Pengembangan Pendidikan dan Kreativitas Anak (Pendikresa), Pertamina menghadirkan pendampingan belajar, penguatan literasi, pendidikan keagamaan, hingga ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Program tanggung jawab sosial perusahaan itu dijalankan dengan melibatkan relawan, masyarakat, pemerintah, dan berbagai mitra agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Edi Mangun mengatakan seluruh program sosial perusahaan disusun berdasarkan hasil pemetaan sosial di sekitar wilayah operasional. Dari pemetaan tersebut, diketahui tantangan utama bukan rendahnya minat belajar anak, melainkan minimnya ruang belajar berbasis komunitas yang mampu melibatkan keluarga dan masyarakat.
"Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-citanya," ujarnya, Jumat (24/7). Sejak berjalan pada 2023, Pendikresa terus berkembang dengan empat fokus utama, yakni pendidikan, lingkungan, pemberdayaan, serta kreativitas dan pembentukan karakter.
Hingga 2026, tercatat 70 anak mengikuti bimbingan belajar, 250 anak bergabung dalam kelas minat dan bakat, serta 35 pemuda lokal menjadi relawan yang mendampingi kegiatan.
Dia menambahkan, keterlibatan pemuda menjadi kunci keberlanjutan program karena mereka tidak hanya membantu proses belajar, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di lingkungan masing-masing. Program ini juga melahirkan The Recycle Room, pusat edukasi pengolahan sampah kertas yang mengajarkan kepedulian lingkungan sejak dini.
“Atas dampak sosialnya, Pendikresa meraih ENSIA Awards 2025 kategori Inovasi Sosial, sementara penggagas program, Yurni Handayani, menerima penghargaan pada kategori Pengurangan Kesenjangan,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki