Tekan Kasus Stroke di Samarinda, Diskes Fokus Kendalikan Hipertensi dan Diabetes

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 18:48 WIB
Kepala Diskes Kota Samarinda, dr Ismed Kusasih.  (HAFIZ/KP)
Kepala Diskes Kota Samarinda, dr Ismed Kusasih.  (HAFIZ/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tingginya kasus stroke di Kota Samarinda menjadi perhatian serius. Namun, Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Samarinda menegaskan bahwa upaya menekan angka stroke tidak cukup hanya berfokus pada penanganan pasien. Kunci utamanya justru berada pada pengendalian dua penyakit tidak menular yang menjadi penyebab terbesar, yakni hipertensi dan diabetes.

Kepala Diskes Kota Samarinda dr Ismed Kusasih mengatakan, stroke pada umumnya merupakan komplikasi dari penyakit dasar yang tidak terkontrol. Karena itu, Kementerian Kesehatan menetapkan penanganan hipertensi dan diabetes sebagai bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang wajib dipenuhi pemerintah daerah.

"Kalau bicara stroke, sebenarnya stroke itu adalah komplikasi dari penyakit dasar. Penyebab terbesar terjadinya stroke adalah hipertensi dan diabetes. Jadi kalau dua penyakit ini bisa dikendalikan, insyaallah stroke bisa dihindari," ujarnya, Selasa (28/7).

Ia menjelaskan, pengendalian kedua penyakit tersebut dilakukan melalui edukasi, promosi kesehatan, pemeriksaan rutin, hingga pengawasan terhadap penderita agar tekanan darah dan kadar gula darah tetap terkontrol.

Baca Juga: Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, RSKD Balikpapan Gelar Workshop Nakes Puskesmas

Menurut dr Ismed, capaian pelayanan kesehatan Samarinda untuk dua penyakit tersebut sudah berada di atas target nasional. Pada 2025, cakupan pelayanan penderita hipertensi mencapai 99,5 persen dari sasaran 217.024 orang. Sementara pelayanan penderita diabetes mencapai 97,99 persen dari 24.757 sasaran.

"Yang penting itu jangan sampai penderita hipertensi dan diabetes jatuh ke komplikasi. Kalau tekanan darah dan gula darahnya terkontrol, risiko stroke, penyakit jantung, sampai gagal ginjal kronis bisa ditekan," jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pengendalian penyakit juga didukung Program Rujuk Balik (PRB) melalui BPJS Kesehatan. Melalui program tersebut, pasien hipertensi dan diabetes dapat menjalani kontrol kesehatan serta memperoleh obat secara rutin tanpa biaya.

"Prinsipnya promotif dan preventif harus diutamakan. Jangan hanya bicara kuratif atau tindakan pengobatan. Yang lebih penting adalah mencegah supaya komplikasi itu tidak terjadi," tutupnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Diskes Samarinda hipertensi samarinda kasus stroke samarinda kesehatan samarinda