KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ancaman musim kemarau panjang mulai menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda. Meski hujan masih sesekali mengguyur Kota Tepian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda tidak ingin lengah menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kekurangan pasokan air bersih akibat fenomena El Nino.
Baca Juga: Lepas Ketergantungan LPG, Warga Desa Bukit Permata di Kutim Andalkan Biogas dari Kotoran Sapi
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, pihaknya telah menyiapkan langkah mitigasi dengan memperkuat koordinasi lintas instansi. Fokus utama saat ini adalah mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
"Kami sudah berkoordinasi dengan KPH, Disdamkarmat, BPBD Provinsi Kalimantan Timur, dan pihak terkait lainnya untuk bersama-sama melakukan penanganan," ujarnya, Minggu (2/8/2026).
Baca Juga: Mobilisasi Side Dump Trailer Roda 26 di Trans Kalimantan Diprotes, Jalan Baru Dikhawatirkan Rusak
Selain karhutla, BPBD juga mengantisipasi kemungkinan berkurangnya debit air yang dapat memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Jika kondisi itu terjadi, distribusi air bersih akan dilakukan bersama Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda dan Disdamkarmat.
"Kalau ada daerah yang kekurangan debit air, kami akan berkolaborasi untuk menyuplai air bersih. Mudah-mudahan saja tidak terjadi intrusi air laut," katanya.
Meski demikian, Suwarso menilai kondisi Samarinda masih relatif aman karena hujan masih turun di beberapa waktu sehingga debit air tetap terjaga. Namun, seluruh armada, kolaborasi antarinstansi, dan sumber daya manusia tetap disiagakan.
Sepanjang Juli 2026, BPBD mencatat sekitar 13 kasus karhutla di Kota Samarinda. Kebakaran terluas terjadi di Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran, dengan luasan sekitar dua hektare.
"Karhutla yang paling luas terjadi di Bantuas sekitar dua hektare. Lokasinya cukup jauh dengan medan berat, tetapi berhasil kami padamkan. Sementara kejadian lainnya relatif kecil, sekitar 200-300 meter persegi," ungkapnya.
Baca Juga: Cosplay Jadi Magnet Indosat 5G Fest, Komunitas Kreatif Balikpapan Unjuk Kebolehan
Berdasarkan pemetaan BPBD, wilayah yang paling rawan karhutla berada di Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Utara. Kebakaran tidak hanya dipicu faktor alam, tetapi juga human error (kelalaian manusia). Seperti membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan.
"Sebagian karena faktor alam, tetapi banyak juga akibat human error. Belukar dan ilalang kering sangat mudah terbakar, sehingga itu yang terus kami antisipasi," kuncinya. (*)
Editor : Sukri Sikki