KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Samarinda terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga awal Agustus 2026, jumlah warga yang telah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis menembus lebih dari 30 ribu orang. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda pun terus memperluas jangkauan layanan dengan menyasar sekolah hingga lembaga pemasyarakatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Samarinda Ismed Kusasih mengatakan, capaian tersebut didorong pelaksanaan CKG secara jemput bola di berbagai lokasi. Salah satunya pemeriksaan kesehatan bagi sekitar 750 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 2.
"Capaian CKG di Samarinda sudah lebih dari 30 ribu sasaran. Sekarang kami banyak melakukan pelayanan keluar, termasuk hari ini di Rutan Kelas I Samarinda. Selanjutnya program ini akan dilaksanakan bertahap di Lapas Kelas IIA dan Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda," ujarnya, Senin (3/8).
Kegiatan di Rutan Kelas I Samarinda menggabungkan tiga layanan sekaligus, yakni CKG, skrining tuberkulosis (TBC), dan donor darah bagi petugas pemasyarakatan. Pemeriksaan melibatkan tenaga kesehatan dari Puskesmas Sempaja, Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), serta mobil donor darah RSUD Inche Abdoel Moeis (Dorami). "Ini kolaborasi tiga layanan sekaligus. Untuk donor darah kami menargetkan 100 kantong dari petugas rutan yang bersedia mendonorkan darah," katanya.
Selain memperluas CKG, Diskes juga terus memperkuat skrining penyakit menular, terutama TBC dan HIV. Menurut Ismed, keberhasilan pengendalian penyakit tersebut sangat bergantung pada tingginya cakupan skrining sehingga penderita dapat segera diobati. "Semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati. Itu kunci pengendalian penyakit menular," tegasnya.
Ia menjelaskan, obat bagi penderita TBC maupun HIV seluruhnya disediakan pemerintah pusat karena keduanya merupakan bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Samarinda juga menjadi salah satu daerah dengan capaian skrining yang tinggi sehingga mendapat perhatian Kementerian Kesehatan. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk sekolah dan lembaga pemasyarakatan.
Sementara itu, hingga akhir 2025 tercatat sekitar 4.000 kasus HIV di Samarinda. Namun, sekitar 2.000 penderita yang menjalani pengobatan. Karena itu, ia mengajak masyarakat menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV) agar mereka tidak takut menjalanipemeriksaan dan pengobatan. "Jangan jauhi orangnya, tapi jauhi penyakitnya. Yang paling penting mereka mau diperiksa dan diobati," pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani