KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Keterbatasan ruang belajar membuat TK Negeri 02 Samarinda belum mampu menampung seluruh calon peserta didik. Tahun ajaran ini, sekitar 20 hingga 30 calon murid terpaksa ditolak karena kapasitas ruang kelas yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah peminat.
Kepala TK Negeri 02 Samarinda, Mila Susanti mengatakan, saat ini sekolah memiliki 140 murid dengan hanya tiga ruang kelas. Bahkan, ruang UKS terpaksa disekat dan dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk mengatasi keterbatasan tersebut.
Hal itu disampaikannya setelah kunjungan lapangan Komisi IV DPRD Samarinda bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Rabu (12/8). Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau sejumlah sarana dan prasarana sekolah, termasuk ruang kelas, perpustakaan, UKS, serta fasilitas lainnya.
Baca Juga: Gedung Baru DPRD Balikpapan Siap Digunakan Penuh, Tinggal Tunggu Surat Pengalihan Aset
“Memang kami kekurangan ruang kelas. Dari 140 murid, ruang kelas yang tersedia hanya tiga. Ruang UKS kami sekat dan jadikan ruang kelas tambahan,” ujar Mila.
DPRD Samarinda meminta data calon murid yang selama ini tidak dapat diterima akibat keterbatasan kapasitas. Data tersebut akan menjadi bahan pertimbangan untuk pengajuan penambahan ruang kelas.
Mila berharap sekolah dapat memiliki enam ruang kelas. Artinya, diperlukan penambahan tiga ruang kelas dari tiga ruang yang tersedia saat ini.
Kondisi tersebut semakin terlihat dari jumlah murid di setiap kelas. Idealnya, satu kelas diisi sekitar 30 murid dengan dua guru. Namun, saat ini setiap kelas terpaksa menampung hingga 36 murid.
“Kalau enam orang kelebihan di setiap kelas, dikali empat sudah 24 anak. Seharusnya itu sudah dapat satu kelas lagi. Ditambah yang kami tolak sekitar 30-an anak, mestinya bisa dua kelas lagi,” jelasnya.
Selain persoalan ruang kelas, kebutuhan tenaga pendidik juga menjadi perhatian. Saat ini, TK Negeri 02 Samarinda memiliki tujuh guru berstatus PNS dan tiga tenaga honorer.
Baca Juga: Komang Teguh Sebut Persaingan Bek Tengah Borneo FC Ketat, Siap Tunjukkan Kemampuan di Setiap Latihan
Persoalan tersebut diperkirakan semakin serius dalam beberapa tahun ke depan. Satu guru PNS akan memasuki masa pensiun pada 2027, disusul tiga guru lainnya pada 2028. Jika tidak ada penambahan tenaga pendidik, jumlah guru PNS yang tersisa pada akhir 2028 hanya dua orang.
Mila menyebut, sekolah setidaknya membutuhkan empat guru tambahan untuk menggantikan tenaga pendidik yang memasuki masa pensiun. Ia berharap kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui pengangkatan PNS maupun PPPK.
“Perbandingannya satu guru maksimal menangani 15 anak. Kalau 140 anak, bisa dihitung sendiri berapa guru yang dibutuhkan. Kami berharap ada pengangkatan guru lagi, entah PPPK atau PNS,” katanya.
Tak hanya ruang kelas dan guru, sejumlah fasilitas sekolah juga membutuhkan perbaikan. Dua toilet mengalami masalah karena saluran pembuangan tersumbat, sementara musala mengalami kebocoran.
Menurut Mila, persoalan toilet tersebut telah berlangsung sekitar empat hingga lima tahun. Sumbatan diduga disebabkan akar pohon yang masuk ke saluran dan terus tumbuh meski telah dilakukan penyedotan.
Ia berharap hasil kunjungan lapangan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui penganggaran perbaikan sarana dan prasarana, termasuk penambahan ruang kelas serta tenaga pendidik. (*)
Editor : Ery Supriyadi