BMKG Prediksi El Nino Lebih Kering, BPBD Samarinda Imbau Warga Hemat Air dan Hindari Bakar Lahan

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:34 WIB
Mengantisipasi fenomena El Nino 2026 yang diprediksi lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya, BPBD Kota Samarinda mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar serta bijak menghemat penggunaan air bersih. (DOK KALTIM POST)
Mengantisipasi fenomena El Nino 2026 yang diprediksi lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya, BPBD Kota Samarinda mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar serta bijak menghemat penggunaan air bersih. (DOK KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ancaman musim kemarau mulai mendapat perhatian serius Pemerintah Kota Samarinda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus mengantisipasi potensi berkurangnya pasokan air bersih akibat cuaca kering yang diprediksi lebih panjang.

Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Suwarso mengatakan, berdasarkan informasi BMKG, periode Juni hingga September 2026 berpotensi mengalami fenomena El Nino dengan kondisi lebih kering dibanding periode sebelumnya.

Langkah antisipasi pun telah dilakukan sejak awal, mulai dari pemasangan spanduk imbauan hingga sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. "El Nino tahun ini diprediksi lebih kering daripada El Nino sebelumnya. Kami sudah menyampaikan imbauan dan memasang spanduk di setiap kecamatan," ujar Suwarso. 

Baca Juga: Jabatan Kepala OPD Samarinda Banyak Kosong, Pengisian Serentak Disiapkan September

Masyarakat diminta tidak membakar sampah, membuka lahan dengan cara dibakar, maupun membuang puntung rokok sembarangan. BPBD juga meningkatkan pemantauan di wilayah yang memiliki risiko kebakaran sedang hingga tinggi, termasuk kawasan yang beberapa kali mengalami kejadian berulang.

Data Pusdalops BPBD Samarinda mencatat, sepanjang Januari hingga 14 Agustus 2026, telah terjadi 46 kejadian karhutla dengan total luas area terbakar mencapai 46,04 hektare.

Kasus terbanyak tercatat di Kecamatan Palaran dengan 12 kejadian, disusul Samarinda Ulu 11 kejadian dan Samarinda Utara delapan kejadian. Selain itu, karhutla juga tercatat di Sungai Kunjang, Samarinda Kota, Loa Janan Ilir, Sungai Pinang dan Sambutan.

Baca Juga: Teras Samarinda Tahap II Dikebut, Peresmian Ditarget 29 Agustus

Suwarso mengatakan, pencegahan dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur. BPBD telah menggelar apel gabungan bersama TNI, Polri dan relawan yang menjadi bagian dari kekuatan terdepan dalam melakukan langkah preventif maupun penanganan karhutla.

Selain ancaman kebakaran, kondisi kemarau juga berpotensi berdampak terhadap ketersediaan air bersih. Terlebih, Perumdam Tirta Kencana Samarinda telah mengingatkan potensi pengurangan produksi apabila terjadi intrusi air laut ke Sungai Mahakam.

Karena itu, masyarakat diminta menghemat penggunaan air dan mulai menyiapkan cadangan. Penampungan air, termasuk air hujan saat turun, juga dianjurkan sebagai langkah antisipasi. "Kami mengimbau untuk menghemat air, melakukan penampungan. Kalau ada hujan, silakan air hujannya ditampung, jangan dibuang," katanya.

Baca Juga: APBD Samarinda 2027 Makin Ketat, Jalan yang Dibangun Dipangkas tapi Pembangunan Tak Berhenti

BPBD juga menyiapkan skema kolaborasi dengan Perumdam Tirta Kencana, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta pihak lain yang memiliki armada tangki air. Langkah tersebut untuk mengantisipasi wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air selama kondisi kemarau.

Menurut Suwarso, wilayah yang mengalami kendala distribusi air nantinya akan dimitigasi untuk menentukan kebutuhan suplai. Namun, distribusi air harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan karena armada tangki juga dibutuhkan untuk penanganan karhutla.

"Kalau terjadi keterlambatan harap maklum karena kami juga sedang menangani kebakaran lahan. Tapi tetap diupayakan kolaborasi semaksimal mungkin untuk membantu menyuplai daerah yang airnya tidak mengalir," tuturnya.

Sementara terkait kualitas udara, Suwarso menyebut kondisi Samarinda masih dalam kategori aman berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Kendati demikian, masyarakat tetap diminta mengikuti perkembangan informasi dan meningkatkan kewaspadaan. "Untuk sementara Samarinda per hari ini kategorinya untuk kualitas udara masih aman," pungkasnya. (riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
karhutla Samarinda krisis air samarinda El Nino Kaltim 2026 Perumdam tirta kencana bpbd samarinda