SAMARINDA – Tim dosen Universitas Mulawarman yang terdiri dari Ir. Dutho Suh Utomo, S.T., M.T., D.Eng., Ridzky Zul Asdi, S.T., M.T., dan Dora Dayu Rahma Turista, S.Si., M.Pd. melaksanakan kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat di UMKM Amplang Deluga, Samarinda.
Program ini mengangkat judul “Pemberdayaan UMKM dengan Pembuatan Mesin Penggoreng Otomatis dan ManajemenRisiko Bahan Baku serta Meningkatkan Higienitas dalam Produksi Amplang”.
UMKM Amplang Deluga merupakan usaha rumahan yang berlokasi di Gang Delima, PasarKedondong, Samarinda, dan memproduksi amplang berbahandasar ikan pipih.
Kegiatan ini didanai pada Tahun 2026 oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program ini berfokus pada dua aspek utama, yaitu sosialisasi penerapan higieniyas dalam proses produksi serta perancangan alatpenggorengan otomatis guna meningkatkan efisiensi dankapasitas produksi UMKM.
Dalam pelaksanaannya, tim dosen tersebut turut dibantu olehempat mahasiswa Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Industri Universitas Mulawarman, yaitu Sadewa Praditya Rahman, Lupita Salsabila Subagyo, Sherina Nur Zahra, dan Natanael Julio Landa Katupayan.
Selain itu, terdapat juga dua mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Mulawarman, yaitu Richard Nursinggih dan Adelya Fitriana Kaitam yang turut membantu pelaksanaan kegiatan Program Pengabdiankepada Masyarakat pada UMKM Amplang Deluga tersebut.
Berdiri Sejak Pasca Pandemi, Kini Telah Berjalan Lima Tahun
UMKM Amplang Deluga telah berdiri sejak tahun 2021 pasca pandemi COVID-19, dan saat ini telah beroperasi selama kurang lebih lima tahun. Usaha ini dikelola oleh Bapak Agus Fitriyadi bersama Ibu Eka Susanti. Nama "Deluga" diambil dari gabungan dua nama gang, yaitu gang Delima dan gang Duatiga, wilayah yang dinaungi oleh pemilik UMKM yang juga menjabat sebagai ketua komunitas peduli sungai setempat.
Berdasarkan informasi yang disampaikan pemilik UMKM saat wawancara, proses produksi amplang diawali dari bahan baku ikan pipih yang diperoleh dari daerah Tanah Hulu. Ikan pipih tersebut kemudian melalui proses pengerikan dan didiamkan selama satu malam sebelum diolah lebih lanjut menjadi produk amplang siap jual.
Sosialisasi Higienitas Tingkatkan Pemahaman Pelaku UMKM
Salah satu rangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah sosialisasi mengenai higienitas produksi pangan yang disampaikan oleh Dora Dayu Rahma Turista, S.Si., M.Pd.
Sosialisasi ini membahas prinsip dasar kebersihan dan keamanan pangan dalam proses produksi amplang, mulai dari penanganan bahan baku hingga pengemasan produk.
Pemilik UMKM mengungkapkan bahwa sosialisasi tersebut memberikan pemahaman baru mengenai sumber-sumber kontaminasi, baik dari bahan kimia maupun non-kimia, serta perbedaan antara kuman fisik dan non-fisik yang sebelumnya belum banyak dipahami oleh pihaknya maupun para karyawan.
"Materi mengenai higienitas sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman tentang cara menjaga kebersihan produk dan penerapan SOP kepada para karyawan," ujar pemilik UMKM Amplang Deluga.
Meski sosialisasi baru berjalan sekitar satu minggu, dampaknya sudah mulai terasa, khususnya dalam penerapan Standard Operating Procedure (SOP) yang kini diperketat oleh UMKM Amplang Deluga demi menjaga kekompakan dan konsistensi kerja antarkaryawan.
Rancangan Alat Penggorengan Otomatis yang Disambut dengan Antusias
Selain sosialisasi higienitas, tim Pengabdian kepada Masyarakat juga memaparkan rancangan alat penggorengan otomatis kepada pemilik UMKM yang dirancang oleh Ridzky Zul Asdi, S.T., M.T. Rancangan ini disambut dengan antusias tinggi, mengingat proses penggorengan manual yang selama ini dilakukan memakan waktu cukup panjang.
Dalam praktiknya, satu kali proses penggorengan membutuhkan waktu 40 hingga 60 menit dengan pengadukan tanpa henti. Aktivitas penggorengan biasanya berlangsung dari pukul 09.00 WITA hingga pukul 16.00 WITA yang dikerjakan oleh dua orang pekerja secara bergantian karena proses tersebut tidak dapat dihentikan di tengah jalan.
"Kami sangat setuju sekali, ibaratnya itu adalah yang kami tunggu-tunggu," ungkap pemilik UMKM menanggapi rencana pengadaan alat tersebut. Ia berharap alat penggorengan otomatis ini dapat meningkatkan kualitas hasil penggorengan sekaligus kapasitas produksi UMKM secara keseluruhan.
Penguatan Manajemen Risiko Bahan Baku
Selain sosialisasi higienitas dan rancangan alat penggorengan otomatis, tim Pengabdian kepada Masyarakat juga memperkenalkan sistem manajemen risiko bahan baku kepada pemilik UMKM. Selama ini, pengelolaan stok ikan pipih sebagai bahan baku utama amplang sepenuhnya bertumpu pada ingatan dan perkiraan pemilik usaha, tanpa pencatatan yang terstruktur, sehingga fluktuasi pasokan akibat faktor musim, cuaca, serta ketergantungan pada pemasok tertentu berisiko mengganggu kelancaran produksi.
Melalui pelatihan yang disampaikan tim, mitra dikenalkan pada konsep dasar manajemen risiko bahan baku, mulai dari sumber-sumber risiko, analisis sederhana terhadap rantai pasok, hingga dampaknya terhadap kontinuitas dan biaya produksi.
Mitra juga dibekali pemahaman awal mengenai pentingnya diversifikasi pemasok agar tidak bergantung pada satu sumber pasokan saja. Sebagai tindak lanjut, tim turut menyiapkan alat bantu pencatatan berbasis spreadsheet yang mencatat data bahan baku dan stok minimum (reorder point), sehingga pemilik usaha dapat memantau kekurangan maupun kualitas bahan baku secara lebih terencana, tanpa lagi mengandalkan ingatan semata. Melalui pendekatan ini, pengelolaan bahan baku diharapkan dapat perlahan bergeser dari yang semula bersifat reaktif menjadi lebih sistematis dan terukur.
Harapan untuk Perluasan Pasar
Pemilik UMKM Amplang Deluga berharap alat produksi baru ini dapat terus meningkatkan hasil produksi dan penjualan. Produk Amplang Deluga saat ini dipasarkan melalui sekitar 40 titik penitipan di warung, toko oleh-oleh, dan pasar lokal, serta telah menjangkau pasar luar kota, namun pemilik berharap jangkauannya diperluas ke daerah yang masih sulit dijangkau. Dengan target peningkatan kapasitas produksi dari program ini, pemilik optimistis amplang khas Samarinda semakin dikenal luas dan mampu bersaing di pasar yang lebih besar.
Kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 yang digagas tim dosen Universitas Mulawarman, dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta melibatkan mahasiswa, diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong UMKM Amplang Deluga terus berkembang.
Pendampingan tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, tetapi juga efisiensi proses serta perluasan jangkauan pemasaran. Penerapan higienitas yang lebih baik, pengembangan alat penggorengan otomatis, dan penguatan manajemen risiko bahan baku diharapkan dapat meningkatkan daya saing Amplang Deluga sebagai produk khas Samarinda agar semakin dikenal hingga ke luar daerah.
Editor : Thomas Priyandoko