Kekeringan Mahakam Mengancam Akses Air Bersih dan Kesehatan

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:13 WIB
DAMPAK KEMARAU: Pemantauan kualitas perlu diperkuat terutama pada wilayah yang mengalami penurunan debit signifikan atau mulai menggunakan sumber air alternatif. (Nasya Rahaya/KP) 
DAMPAK KEMARAU: Pemantauan kualitas perlu diperkuat terutama pada wilayah yang mengalami penurunan debit signifikan atau mulai menggunakan sumber air alternatif. (Nasya Rahaya/KP) 

SAMARINDA – Kekeringan yang menekan debit Sungai Mahakam berpotensi membawa persoalan baru. Ketika sumber air semakin terbatas, masyarakat dapat terdorong menggunakan sumber alternatif yang kualitasnya belum tentu aman, sehingga risiko terhadap higiene, sanitasi dan kesehatan ikut meningkat.

Dosen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman, Dr. Ida Ayu Indira Dwika Lestari, mengatakan dampak kekeringan perlu dilihat dari dua sisi sekaligus, yakni ketersediaan air dan keamanan air yang digunakan masyarakat.

“Ketika sumber air semakin terbatas, masyarakat dapat terdorong menggunakan sumber air alternatif yang kualitasnya belum tentu memenuhi persyaratan kesehatan.”

Menurut dia, persoalan tersebut dapat berkembang menjadi risiko kesehatan apabila masyarakat kesulitan mempertahankan higiene dan sanitasi.

WHO, dalam perspektif yang dikutip Ida dalam tulisannya, menekankan bahwa kekeringan dapat menimbulkan kekurangan air dan pangan, mengganggu higiene dan sanitasi, serta meningkatkan risiko penyakit menular dan gangguan pelayanan kesehatan.

Karena itu, pengelolaan air ketika tekanan iklim meningkat tidak cukup hanya menghitung jumlah air yang tersedia.

“Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa perhatian tidak hanya diberikan terhadap berapa banyak air yang tersedia, tetapi juga apakah air yang sampai ke masyarakat aman digunakan.”

Pemantauan kualitas air, kata Ida, perlu diperkuat terutama pada wilayah yang mengalami penurunan debit signifikan atau mulai menggunakan sumber air alternatif.

“Pemantauan kualitas air perlu diperkuat, khususnya pada wilayah yang mengalami penurunan debit signifikan atau beralih menggunakan sumber air alternatif.”

Risiko tersebut tidak dirasakan secara sama oleh seluruh masyarakat. Kelompok dengan kemampuan adaptasi terbatas akan menghadapi tekanan lebih besar ketika akses air dan pelayanan dasar terganggu.

“Kelompok rentan harus menjadi prioritas: anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, masyarakat berpenghasilan rendah, serta warga di kawasan pedalaman dengan pilihan akses yang terbatas.”

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana kekeringan dapat bergerak dari persoalan lingkungan menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Ketika air semakin sulit diperoleh, masyarakat tidak hanya menghadapi persoalan kuantitas, tetapi juga kualitas dan akses.

Persoalan air juga tidak berdiri sendiri. Kekeringan yang mengganggu distribusi melalui Sungai Mahakam dapat menambah tekanan terhadap wilayah pedalaman. 

Pemerintah Provinsi Kaltim bahkan telah mengirim sekitar 62 ton bahan pokok melalui jalur darat ke Mahakam Ulu setelah surutnya sungai menghambat distribusi melalui kapal.

Dalam kondisi seperti ini, pelayanan dasar perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan menghadapi tekanan iklim.

Ida menilai penanganan kekeringan harus berbasis penilaian risiko dari sumber air hingga masyarakat sebagai pengguna.

“Pengelolaan air pada kondisi tekanan iklim karena itu perlu berbasis penilaian risiko dari sumber sampai ke konsumen," pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
Dr. Ida Ayu Indira Dwika Lestari dampak kemarau debit sungai mahakam turun Faskesmas Unmul