KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Gerimis yang mulai turun di sejumlah kawasan Samarinda memberi sedikit harapan di tengah ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda menilai curah hujan yang masih rendah belum cukup untuk menekan risiko karhutla secara signifikan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, hujan tetap memberikan dampak terhadap kondisi lahan. Namun, efektivitasnya bergantung pada intensitas serta lokasi turunnya hujan.
"Pasti ada dampak, cuma dampaknya tergantung besar atau kecilnya. Titik hujan itu apakah di daerah permukiman atau daerah yang rawan lahan terbakar, seperti gambut atau belukar," ujarnya, Selasa (25/8).
Baca Juga: Insentif Guru Bontang Naik Jadi Rp1,5 Juta, Mulai Berlaku Tahun Depan
Menurut Suwarso, operasi modifikasi cuaca (OMC) dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu mengatasi dampak kemarau panjang. Selain membantu memadamkan titik api, hujan dari OMC juga dapat mengairi lahan pertanian dan meningkatkan debit sungai.
"Kalau dilakukan OMC, menurut pandangan saya malah lebih cepat dan tepat karena bisa memadamkan api. Area pertanian juga bisa teraliri air dan debit sungai bisa bertambah," katanya.
Meski demikian, Suwarso menyebut hujan gerimis yang turun di beberapa titik Samarinda sejauh ini baru memberikan dampak kecil terhadap kondisi karhutla.
Di sisi lain, Pemkot Samarinda terus memperkuat koordinasi menghadapi dampak kemarau panjang dan fenomena El Nino. Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) diminta mengidentifikasi kondisi di wilayah masing-masing, termasuk menentukan status penanganan mulai dari normal, waspada, siaga hingga kritis.
Baca Juga: Digitalisasi Retribusi Bontang Capai Rp73,9 Miliar, RSUD Jadi Penyumbang Terbesar
Setiap langkah penanganan harus berdasarkan data dan analisis yang jelas. Hal tersebut diperlukan agar kebutuhan anggaran yang disiapkan dapat dipertanggungjawabkan.
Pemkot juga menginventarisasi sumber air yang masih tersedia, seperti void tambang, sumur dan sumber lainnya. Sumber air tersebut dipetakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari air minum, penyiraman lahan hingga kebutuhan peternakan dan perikanan.
Camat dan lurah juga diminta melakukan pemantauan serta patroli secara sinergis bersama TNI dan Polri. Titik api yang masih kecil diharapkan segera dilaporkan agar dapat ditangani sebelum meluas.
"Di kelurahan kita juga ada kelurahan tangguh bencana, relawan dan masyarakat peduli api. Itu bisa menangani kalau skalanya masih kecil. Kalau sudah membesar, BPBD, Disdamkarmat, relawan dan perusahaan bisa bersama-sama membantu pemadaman," jelasnya.
Terkait kebutuhan anggaran, Suwarso mengatakan BPBD bersama OPD terkait masih melakukan inventarisasi. Usulan anggaran nantinya diverifikasi terlebih dahulu oleh Inspektorat agar kebutuhan yang diajukan sesuai kondisi dan dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Disdukcapil Balikpapan Jemput Bola Rekam KTP-el Siswa, Sasar Seluruh SMA dan SMK hingga Akhir 2026
"Tidak hanya BPBD. Distapangtani juga berkaitan dengan kebutuhan petani setelah panen, Dinas Kesehatan menyiapkan kebutuhan obat-obatan. Semua kita inventarisasi dulu," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo