Klorida Air Baku Samarinda Tembus 250 PPM, Pemkot Siapkan Skenario Darurat Air Bersih

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 19:32 WIB
KIAN SURUT: Tepian sungai tepatnya di muara Sungai Karang Asam Kecil, terlihat daratan imbas menurunnya debit sungai Mahakam, Minggu (23/8). (DENNY SAPUTRA/KP)
Sungai Mahakam. (DENNY SAPUTRA/KP)

KALTIMPOST.ID-Ancaman intrusi air laut mulai meningkatkan kewaspadaan Pemkot Samarinda terhadap keberlangsungan pasokan air bersih.

Kadar klorida pada salah satu intake air baku di Kecamatan Palaran sempat melampaui ambang 250 part per million (ppm) ketika air pasang.

Kondisi tersebut membuat Pemkot menyiapkan sejumlah skenario jika kadar klorida kembali meningkat.

Mulai penghentian sementara operasional intake, mengandalkan pasokan dari titik lain, hingga distribusi air menggunakan tandon atau tangki.

Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, kualitas air baku terus dipantau secara berkala. Perhatian terutama diberikan terhadap intake di Palaran karena lokasinya lebih dekat dengan pengaruh air laut.

Baca Juga: Bidik Pasar Ekspor, UMKM Binaan BI Balikpapan Bertemu Buyer dari Enam Negara di KKI 2026

Menurutnya, peningkatan kadar klorida terjadi ketika air pasang. Saat air surut, konsentrasi klorida dapat kembali menurun sehingga produksi bisa dilanjutkan.

“Kalau dia sudah melewati ambang batas 250 ppm, maka untuk sementara kita off sambil menunggu surut. Jika pada saat surut terjadi penurunan, mesin intake kembali berfungsi,” kata pejabat yang akrab disapa AH itu.

Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan berarti intake harus ditutup permanen. Operasional dilakukan secara dinamis berdasarkan hasil pemeriksaan kualitas air.

Andi membantah anggapan seluruh air baku Sungai Mahakam di Samarinda telah mengalami intrusi air laut.

Menurutnya, potensi tersebut memang ada, tetapi kualitas air baku harus dilihat berdasarkan kandungan klorida di setiap titik.

“Jadi tidak benar dan hoaks bahwa itu sudah terintrusi air. Ada potensi terintrusi, iya. Tapi untuk produksi air bersih dari air baku kita seutuhnya didasarkan pada kandungan klorida pada air baku kita,” ujarnya.

Meski secara keseluruhan masih aman, pemerintah tidak mengabaikan kemungkinan kondisi memburuk.

Intake lain dapat menghadapi persoalan serupa apabila pengaruh air laut bergerak semakin jauh ke wilayah hilir Mahakam.

Baca Juga: UMKM Kaltim Bersinar di KKI 2026, Tiga Produk Wastra Raup Transaksi Lebih dari Rp 80 Juta

Karena itu, Perumdam Tirta Kencana diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Pasokan dari intake lain menjadi salah satu opsi apabila produksi pada titik tertentu harus dihentikan sementara.

“PDAM pada wilayah-wilayah tertentu untuk menyiapkan kesiagaan suplai air dari daerah intake lain, pembelian tandon atau bahkan kalau ada sumber air bersih di wilayah tersebut kita bisa kelola untuk dijadikan sebagai bahan baku air,” jelasnya.

Masyarakat, khususnya di Palaran, juga diminta mulai mengantisipasi kemungkinan gangguan dengan menampung air secukupnya.

Langkah tersebut diperlukan jika kenaikan kadar klorida dalam beberapa hari ke depan mengharuskan penghentian produksi sementara.

Andi menuturkan, kondisi air baku masih memungkinkan pelayanan berjalan selama kadar klorida berada di bawah ambang yang ditentukan.

“Amannya itu belum melewati 250 ppm. Kecuali pagi kemarin ada salah satu intake kita yang sudah melewati batas 250 di salah satu intake di Palaran,” ujarnya.

Palaran menjadi wilayah dengan tingkat kewaspadaan lebih tinggi karena posisinya paling dekat dengan laut dibandingkan intake di kawasan perkotaan.

“Tapi namanya klorida karena dia berbatasan paling dekat dengan laut, maka siaganya lebih tinggi dibanding intake-intake yang berada di wilayah kota,” katanya.

Pemkot juga berharap hujan segera turun untuk membantu memperbaiki kondisi air baku. Hujan yang mulai terjadi di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara diharapkan memberikan pengaruh terhadap debit dan kualitas air di hilir Sungai Mahakam.

Baca Juga: Karhutla Kubar Mengancam Permukiman, Prajurit Brigif TP 85 dan Warga Bergerak Cepat Padamkan Api

“Kita berharap dalam minggu ini ada hujan turun. Dan juga yang kita dapat beritakan di daerah Kukar sudah mulai kena hujan. Nah, itu akan berpengaruh terhadap kualitas air baku kita yang ada di daerah hilir,” tuturnya.

Kewaspadaan tidak hanya diarahkan terhadap ketersediaan air baku. Pemkot juga memantau dampak kemarau terhadap kemunculan hotspot, kebakaran lahan, pertanian, inflasi, hingga ketersediaan dan rantai pasok pangan.

“Pemerintah Kota Samarinda siaga 24 jam mengantisipasi semua efek dampak El Nino. Apakah itu hotspot titik api, pengaruh terhadap lahan pertanian, inflasi terutama harga, stok dan rantai pasok, kemudian termasuk air baku,” jelasnya.

Pemantauan kualitas air akan terus dilakukan setiap hari sebagai dasar menentukan operasional setiap intake.

Warga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan distribusi, tetapi tidak panik. “Secara keseluruhan kita masih dalam kondisi aman,” pungkas Andi Harun. (rd)

Editor : Romdani.
letjen lucky avianto intrusi air laut sungai mahakam kebakaran hutan Wali Kota Samarinda Andi Harun