Kasus ISPA Mahulu Capai 653 Kasus dalam 13 Hari, Long Bagun Tertinggi

Jody Kristianto • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 21:15 WIB
Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Mahulu, dr. Berce Tenda saat diwawancarai usai rakor bantuan pangan II di Cafetaria Kantor Bupati Mahulu, Rabu (2/9). (JODY KRISTIANTO/KP)
Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Mahulu, dr. Berce Tenda saat diwawancarai usai rakor bantuan pangan II di Cafetaria Kantor Bupati Mahulu, Rabu (2/9). (JODY KRISTIANTO/KP)

UJOH BILANG – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) meningkat di tengah kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah. Dalam kurun waktu sekitar 13 hari, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Mahulu mencatat 653 kasus dari enam fasilitas kesehatan (faskes) yang dipantau.

Sekretaris Dinkes P2KB Mahulu dr. Berce Tenda mengatakan, angka tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan berdasarkan data kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan.

“Selama kurang lebih 13 hari tercatat 653 kasus ISPA dengan berbagai variasi kasus. Tentu saja karena di ISPA itu sendiri diagnosa umum, di bawah itu ada diagnosa yang lebih detail lagi. Tapi itu kurang lebih ada 653 kasus dan itu artinya meningkat cukup signifikan,” ujar Berce usai rapat koordinasi bantuan pangan II di Cafetaria Kantor Bupati, Rabu (2/9).

Dari data sementara, Kecamatan Long Bagun menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 239 kasus. Berikutnya Kecamatan Long Hubung dengan 161 kasus.

Berce mengatakan jumlah kasus perlu dilihat bersama dengan jumlah penduduk masing-masing wilayah. Dengan jumlah penduduk yang relatif lebih banyak, Long Bagun dan Long Hubung juga menjadi daerah dengan kasus ISPA terbanyak.

Baca Juga: BPBD Mahulu Tunggu Data ISPU untuk Pastikan Kualitas Udara

“Untuk sementara ini yang masih, karena kita melihat selain jumlah kasus kan jumlah penduduk. Tentu di wilayah Kecamatan Long Bagun yang paling banyak, kemudian Kecamatan Long Hubung. Itu yang kasus-kasus tertinggi yang ada dan memang jumlah penduduknya juga banyak,” jelasnya.

Peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian Dinkes P2KB, terutama karena kondisi kabut asap masih terjadi. Namun, Berce menekankan masyarakat tidak cukup hanya menunggu penanganan ketika sudah sakit. Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah penting untuk menekan risiko gangguan pernapasan.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah membagikan masker melalui fasilitas kesehatan di wilayah Mahulu. Meski demikian, perlindungan terhadap masyarakat juga membutuhkan kesadaran individu.

“Dalam situasi kondisi seperti ini, preventif sangat penting untuk kita semua. Kami harapkan peran serta dari masyarakat karena memang yang bisa kita bagikan secara umum adalah masker untuk preventif,” katanya.

Masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh, antara lain dengan mencukupi kebutuhan cairan dan menjaga kebugaran. Berce menyebut konsumsi suplemen dapat dilakukan bila diperlukan sesuai kondisi masing-masing.

“Masyarakat harus bisa menjaga dan mengetahui kondisi diri sendiri, termasuk juga dengan suplemen, banyak minum air putih dan kemudian melakukan proteksi untuk hal-hal yang kita sendiri pahami tentang diri kita,” ujarnya.

Perhatian khusus diberikan kepada masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, seperti asma. Kelompok tersebut disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum membaik.

“Misalnya kita paham bahwa saya punya risiko atau punya penyakit sebelumnya, asma atau penyakit pernafasan, sedapat mungkin itu tidak beraktivitas di luar tanpa masker. Kalaupun memang harus, gunakan alat pelindung,” jelasnya.

Perlindungan juga perlu diperkuat terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak, balita, dan lanjut usia. Berce menilai kelompok tersebut membutuhkan pendampingan karena tidak seluruhnya mampu memahami risiko paparan asap.

“Sedapat mungkin untuk anak-anak, balita dan kelompok-kelompok risiko tinggi, proteksi dilakukan oleh orang tua atau orang terdekat,” katanya.

Ia mengingatkan orang tua tidak menganggap kondisi kabut asap sebagai sesuatu yang biasa bagi anak. Lansia yang membutuhkan pendampingan juga harus mendapat perhatian dari keluarga.

“Sebagai orang tua tentu kita harus melakukan proteksi terhadap anak kita. Begitu juga terhadap lansia yang mungkin berkebutuhan khusus yang memang harus didampingi oleh keluarganya,” ujarnya.

Dengan kasus ISPA yang terus bertambah, Berce menilai peran masyarakat menjadi bagian penting dalam mengendalikan risiko kesehatan selama kabut asap masih berlangsung.

“Peran serta masyarakat itu sangat penting untuk mencegah, dan lebih baik pasti daripada mengobati,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
Kabut asap Mahulu ISPA Mahulu Dinkes Mahulu long bagun