SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda memperkuat langkah pengendalian inflasi di tengah kondisi tanggap darurat kekeringan dan dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda menggelar pasar murah di sejumlah wilayah yang terdampak kondisi tersebut.
Kepala Disdag Samarinda Nurrahmani mengatakan, pasar murah digelar untuk memastikan kondisi darurat tidak ikut mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan Disdag terhadap penanganan tanggap darurat kekeringan dan dampak asap karhutla.
“Semua pihak diaktifkan, termasuk Disdag. Kami mengondisikan jangan sampai kondisi ini menjadikan inflasi melonjak,” ujarnya, Minggu (6/9).
Pasar murah telah digelar pada Jumat (4/9) di dua titik di Kecamatan Palaran serta masing-masing satu titik di Kecamatan Samarinda Utara dan Samarinda Ulu. Kegiatan kembali dilaksanakan Sabtu (5/9) dan dijadwalkan berlanjut Senin (7/9) di halaman Kantor Kelurahan Makroman dan Kantor Kelurahan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan, mulai pukul 09.00 Wita.
Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Samarinda-Jakarta
Nurrahmani menjelaskan, penentuan lokasi pasar murah mengacu pada laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait wilayah yang terdampak kekeringan. Jika status tanggap darurat diperpanjang, cakupan pasar murah akan diperluas ke seluruh kecamatan.
“Terutama wilayah pinggiran kota yang paling terdampak kekeringan dan karhutla,” jelasnya.
Untuk pelaksanaan kegiatan tersebut, Disdag menyiapkan anggaran sekitar Rp20 juta. Namun, sebagian besar kebutuhan barang berasal dari Bulog dan distributor, sementara Disdag berperan dalam mobilisasi dan koordinasi.
Sejumlah produsen air minum dalam kemasan (AMDK) lokal juga turut berpartisipasi dengan menyediakan produk untuk dijual dalam kegiatan tersebut.
“Bahkan ada produsen AMDK lokal yang turut berpartisipasi, bersedia menyediakan barang dan jika tidak terjual dapat dikembalikan,” sebutnya.
Komoditas yang tersedia di antaranya beras SPHP, elpiji 3 kilogram, telur, gula, dan ikan beku. Harga sejumlah kebutuhan tersebut dipatok di bawah harga pasar.
Untuk elpiji 3 kilogram, misalnya, masyarakat dapat membeli dengan harga Rp18 ribu dengan syarat membawa fotokopi KTP dan kartu keluarga (KK).
Nurrahmani berharap masyarakat memanfaatkan pasar murah tersebut, terutama di tengah kondisi kualitas udara yang membuat sebagian warga enggan bepergian jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Harapannya masyarakat bisa memanfaatkan pasar murah ini. Apalagi kalau kondisi udara seperti sekarang membuat masyarakat enggan bepergian jauh,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan