KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara yang berlangsung selama dua hari. Api membakar lahan seluas sekitar 20,5 hektare dan sempat mendekati permukiman warga.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, kebakaran pertama terjadi Sabtu sekitar pukul 17.00 Wita hingga Minggu pukul 03.00 Wita. Api kembali muncul pada Minggu sekitar pukul 12.00 Wita dan berhasil dikendalikan sekitar pukul 21.00 Wita. "Betapus ini sudah dua hari, Sabtu dan Minggu yang akhirnya totalnya itu sekitar 20,5 hektare," ujarnya, Senin (7/9).
Penanganan dilakukan dengan mengepung titik api dari sejumlah sisi. Relawan dan petugas pemadam kebakaran melakukan penyekatan agar api tidak meluas. Hingga Senin, tidak lagi ditemukan titik api di lokasi.
Meski demikian, BPBD tetap mewaspadai kemunculan api baru. Relawan terus melakukan patroli dan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.
"Alhamdulillah sampai detik ini tidak ada lagi titik api meskipun mungkin masih ada potensi. Teman-teman relawan selalu melakukan patroli dan pemantauan. Ketika ada api kecil, langsung dilakukan tindakan pertama dan memberikan laporan ke BPBD selaku pos komando kedaruratan," jelasnya.
Suwarso menyebut, medan yang jauh dari jalan besar menjadi salah satu kendala utama. Kendaraan pemadam tidak dapat mendekati titik api sehingga petugas harus menarik selang hingga lebih dari 12 rol untuk menjangkau lokasi.
Keterbatasan sumber air juga menyulitkan proses pemadaman. Petugas menerapkan sistem estafet air dengan memanfaatkan sumber dari anak Sungai Karang Mumus di kawasan Bengkuring. Semak dan tanaman kering yang mudah terbakar serta angin kencang turut mempercepat penyebaran api.
Terkait penyebab kebakaran, Suwarso mengatakan sempat muncul dugaan lahan dibakar untuk ditanami singkong. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan karena petugas tidak menemukan pelaku pembakaran. "Awalnya di hari Sabtu itu memang ada dugaan. Katanya orang mau tanam singkong, tapi itu baru omong-omongan. Kita cari juga enggak ketemu," ungkapnya.
Api sempat bergerak mendekati permukiman warga yang berjarak sekitar 50 meter. Kobaran kemudian mengarah ke belakang Gang Limau Asri dengan jarak sekitar 100 meter. Petugas dan relawan terus melakukan penyekatan agar api tidak meluas ke kawasan permukiman.
Suwarso menegaskan, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. Kondisi lahan yang kering dan angin kencang membuat potensi kebakaran masih perlu diwaspadai. (*)
Editor : Ismet Rifani