Kemarau Panjang Bikin Sawah Betapus Retak, Panen Petani Terancam Anjlok

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 08:57 WIB
Sekitar seperempat hektare sawah milik Arlan di Betapus, Lempake, Samarinda Utara, terdampak kekeringan. (HAFIZ/KALTIM POST)
Sekitar seperempat hektare sawah milik Arlan di Betapus, Lempake, Samarinda Utara, terdampak kekeringan. (HAFIZ/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Harapan Arlan untuk memanen padi dari sawahnya mulai menipis. Kemarau panjang membuat tanah persawahan di kawasan Betapus, Jalan Usaha Tani, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, retak-retak. Tanaman padi yang baru berusia sekitar satu bulan pun mulai mengering.

Arlan yang telah lama mengelola lahan tersebut mengatakan kondisi ini membuat dirinya kesulitan merawat tanaman. Bahkan, pemupukan tidak lagi dilakukan karena tanah terlalu kering.

“Ya mungkin panen, ya kecil-kecil saja. Sebagian kayak mengering. Kalau kayak begini enggak ada harapan sudah,” ujarnya.

Baca Juga: Siapkan 1.000 Atlet Porprov 2026, Paser Gelontorkan Rp5,2 Miliar untuk TC

Lahan yang kini dikelolanya sekitar seperempat hektare. Sebelumnya, keluarganya memiliki lahan sekitar satu hektare, tetapi sebagian telah dibagi kepada anak dan cucu serta terdampak pembangunan jalan.

Dalam kondisi normal, seperempat hektare sawah tersebut mampu menghasilkan sekitar satu ton gabah dalam sekali musim tanam. Namun, akibat kemarau panjang, ia memperkirakan hasil panen kali ini hanya sekitar satu kuintal.

“Ya dikit-dikit masih ada harapan lah untuk makan,” tuturnya.

Padi yang ditanam merupakan varietas unggul dengan usia panen sekitar tiga bulan lebih. Jika kondisi normal, tanaman yang kini berusia satu bulan seharusnya mulai memasuki fase bunting. Namun, minimnya pasokan air membuat pertumbuhannya tidak maksimal.

Selama kemarau, sawah Arlan tidak mendapat pengairan. Sumber air dari parit bendungan kini ikut mengering. Ia hanya bisa memantau kondisi sawah sembari berharap hujan turun.

“Ya gimana lagi, ya pasrah saja sudah. Ini saja sudah ambang-ambang saya mau merumput rasanya sudah malas. Karena nanti kalau merumput buang-buang waktu juga, percuma kalau enggak panen,” ungkapnya.

Baca Juga: Solong Tengkalang Menjelma Karya Seni, Bawa Identitas Paser ke Ruang Publik

Arlan biasanya dapat menanam padi dua kali dalam setahun. Saat musim hujan, air parit cukup untuk mengairi sawah. Namun, ketika kemarau, ia harus menggunakan pompa untuk memasukkan air ke lahannya.

Kini, ia menaruh harapan pada rencana Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk mengalirkan air ke lahan pertanian di Betapus. Ia berharap bantuan pengairan segera direalisasikan agar tanaman tetap bisa dipanen.

“Ya, mudah-mudahan bisa terlaksana secepatnya dan bisa mengaliri. Ya bisa panen, dikit-dikit masih ada harapan untuk makan,” pungkasnya. (*)

Editor : Ery Supriyadi
kekeringan Samarinda petani Samarinda sawah Betapus kemarau panjang lempake