KALTIMPOST, SAMARINDA - Kekeringan yang melanda Samarinda tak hanya berdampak pada keterbatasan air baku Perumda Tirta Kencana. Kondisi tersebut juga mulai menjadi perhatian dari sisi kesehatan, menyusul peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta potensi munculnya penyakit lain akibat terbatasnya air bersih.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda dr Ismid Kusasih mengatakan, kasus ISPA mengalami peningkatan sekitar 20 persen sepanjang Agustus jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, terutama Juni dan Juli.
“Yang jelas, kenaikan itu di sepanjang bulan Agustus. Kalau dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, peningkatannya sekitar 20 persen,” ujarnya Minggu (13/9).
Baca Juga: Kebakaran Lahan Meluas di Sambutan Samarinda, DPRD Buka Peluang Anggaran Darurat bagi Relawan
Dia menjelaskan memasuki September, kasus ISPA berdasarkan pemantauan harian disebut masih berada pada level yang relatif sama dengan Agustus. Meski terjadi peningkatan, kondisi tersebut dinilai masih terkendali.
"Di sisi lain, keterbatasan air bersih akibat kondisi Sungai Mahakam juga perlu diantisipasi. Terlebih, intrusi air laut yang masuk ke sungai berpotensi memengaruhi produksi air bersih," jelasnya.
Menurut dr Ismid, kondisi tersebut perlu diperhatikan dari aspek kesehatan. Termasuk apabila kadar klorin dalam proses pengolahan air meningkat. Keterbatasan air juga dapat berdampak pada kebutuhan mandi, mencuci, hingga sanitasi masyarakat.
Baca Juga: Barang Impor Tiongkok Banjiri Kaltim, BPS Catat Kenaikan Hampir Dua Kali Lipat
"Kami meminta tim di puskesmas agar turut memantau kasus diare yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih. Kendati demikian, hingga September belum terlihat peningkatan signifikan," tambahannya.
Sebagai bagian dari Satuan Tugas Penanganan Bencana Kekeringan, Dinkes Samarinda mengikuti arahan dalam satu komando pemerintah kota. Untuk kebutuhan logistik medis, Ismid memastikan persediaan sementara masih mencukupi.
"Kami mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak penting, terutama saat paparan matahari tinggi. Bagi warga yang harus beraktivitas di luar, perlindungan diri seperti masker, topi, dan alat pelindung diri lainnya perlu digunakan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo