KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda memperluas langkah penanganan status tanggap darurat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Tepian. Penanganan dampak kemarau panjang ini difokuskan pada pemenuhan air bersih warga serta penyelamatan lahan pertanian yang terancam gagal panen.
Baca Juga: Antisipasi Pengetap, 8 Stasiun Pengisian BBM di Sangatta Diawasi Polisi
Langkah strategis penanganan bencana tersebut dibahas dalam rapat dengar pendapat antara BPBD Kota Samarinda bersama Komisi III DPRD Kota Samarinda, Selasa (15/9). Komisi III mendorong pemerintah daerah untuk memaksimalkan dukungan anggaran dari pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca Juga: 4 Peserta Asal Paser Tampil di MTQ Nasional XXXI 2026
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso menyampaikan bahwa, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merealisasikan tiga dukungan utama untuk penanganan karhutla dan kekeringan di Kalimantan Timur. Bantuan tersebut meliputi helikopter water bombing, armada pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta pasokan bahan semai.
"Mulai tadi malam armada pesawat Cessna Grand Caravan C208 (PK-SNL) milik PT Smart Cakrawala Aviation untuk melakukan OMC atau operasi modifikasi cuaca sudah standby di Bandara APT Pranoto Samarinda. Tadi pagi sekitar 60 ton garam dari Danlanud Dhomber juga sudah datang, dari sisi pilot semuanya siap," ungkapnya, Selasa (15/9).
Baca Juga: Pedagang Belum Bergairah Naik ke Lantai 6-7 Pasar Pagi
Saat ini tim gabungan terus memantau potensi pertumbuhan awan konvektif yang berpeluang menurunkan hujan di langit Kaltim. Menurut Suwarso, instruksi dari pimpinan pusat sangat tegas untuk tidak menyia-nyiakan peluang cuaca sekecil apa pun.
"Perintah Kepala BNPB jelas, sekecil apa pun potensinya harus tetap dilakukan operasi modifikasi cuaca. Ini karena memang kekeringan kita sudah berbeda dengan tahun 2015, jadi perintahnya jelas bahwa sekecil apa pun peluangnya, gas untuk melakukan OMC," tegasnya.
Baca Juga: Fraksi ADB Soroti Penyertaan Modal Bankaltimtara, DPRD Bontang Diminta Bentuk Pansus
Operasi modifikasi cuaca dijadwalkan berlangsung intensif mulai 15 hingga 19 September. Rentang waktu tersebut dipilih berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mendeteksi adanya potensi pembentukan awan hujan di wilayah Kaltim.
Mengenai jadwal penerbangan, Suwarso menyebut awalnya direncanakan mulai pukul 07.00 Wita hingga 20.00 Wita. Namun pihak otoritas Bandara APT Pranoto meminta sistem pemantauan ditingkatkan secara penuh.
"Ini ada permintaan dari otoritas Bandara APT Pranoto Samarinda supaya dilakukan 24 jam pemantauan. Di mana ada titik awan yang berpotensi menjadi hujan, maka akan langsung dilakukan OMC," tambahnya.
Pusat komando dan penyiagaan armada pesawat sengaja dipusatkan di Bandara APT Pranoto Samarinda untuk menjangkau seluruh kawasan Kaltim. Rute penerbangan akan menyesuaikan radius kemampuan jelajah armada dan koordinat sebaran awan potensial.
Selain operasi hujan buatan, penanganan karhutla melalui udara juga didukung helikopter water bombing. Helikopter tersebut telah beroperasi di Kaltim selama sepekan terakhir untuk memadamkan kobaran api di medan terjal.
"Water bombing hari ini belum bisa bergerak karena kantong airnya mengalami sedikit trouble, tapi perbaikan terus dilakukan. Mudah-mudahan nanti kalau ada titik api yang sulit dijangkau satgas darat, helikopter water bombing langsung bekerja kembali," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki