Waduk Benanga Darurat Kekeringan, Produksi IPA Gunung Lingai Dipangkas 40 Persen

Denny Saputra • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 16:32 WIB
KRITIS: Kondisi kekeringan menerpa waduk Benangan di Samarinda Utara yang turut berdampak pada kebutuhan irigasi hingga air baku Perumda Tirta Kencana Samarinda, Kamis (17/9). RAMA SIHOTANG/KP
KRITIS: Kondisi kekeringan menerpa waduk Benangan di Samarinda Utara yang turut berdampak pada kebutuhan irigasi hingga air baku Perumda Tirta Kencana Samarinda, Kamis (17/9). RAMA SIHOTANG/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kondisi Waduk Benanga di Samarinda memasuki status darurat akibat kemarau panjang dan minimnya curah hujan. Penurunan muka air waduk mulai berdampak langsung terhadap ketersediaan air baku untuk Perumda Tirta Kencana.

Dampak tersebut turut dirasakan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Lingai yang mengandalkan pasokan air baku dari yang dikelola BWS Kalimantan IV tersebut.

Untuk menjaga keberlangsungan produksi, kapasitas pengolahan air di IPA tersebut kini telah dikurangi menjadi sekitar 40 persen dari kapasitas rata-rata.

Pengelola Bendungan Benanga dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Hayu Wardana mengatakan, tinggi muka air (TMA) Bendungan Benanga saat ini berada di level 6,4 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Baca Juga: Ancam Estetika Kota Penyangga IKN, Bisnis Tanah Kavling Skala Besar di Balikpapan Dikendalikan

Kondisi tersebut sudah masuk tahap darurat sehingga pengambilan air untuk kebutuhan produksi Perumda Tirta Kencana harus dibatasi. “Untuk kondisi kekeringan sudah tahap darurat. Sehingga untuk PDAM pengambilan airnya kami batasi,” ujarnya, Kamis (17/9).

Menurut Hayu, kondisi tersebut diperkirakan akan semakin kritis apabila hujan tidak segera turun. Jika TMA terus menyusut hingga batas minimum 6 meter, pengambilan air untuk produksi PDAM terpaksa dihentikan.

“Kalau sampai TMA 6 meter, PDAM akan menyetop produksi airnya. Dengan kondisi sekarang, mungkin tinggal empat atau lima hari lagi,” jelasnya.

Dia menjelaskan, kemarau yang menyebabkan penyusutan tampungan telah berlangsung sejak pertengahan Juli. Sempat terjadi hujan singkat pada periode tersebut, namun setelahnya tidak kembali turun hujan dalam jumlah signifikan sehingga tampungan bendungan terus berkurang.

Baca Juga: Investor Pasar Modal Tembus 31,14 Juta, Fundraising Korporasi Rp128,80 Triliun

“Sekarang tampungannya hanya mencapai sekitar 200 ribu meter kubik untuk tampungan di Bendungan Benanga. Sementara intake irigasi telah dihentikan karena kondisi muka air tidak lagi memenuhi batas minimum untuk operasional,” sambungnya.

Sementara itu, Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana Cevy Wahyudi mengatakan pihaknya terus memantau kondisi air baku di Waduk Benanga. Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Samarinda melalui DPUPR mulai melakukan penggalian jalur dari kawasan venue cabang ola Dayung menuju area intake Benanga.

“Apabila kondisi tanpa hujan terus berlangsung dalam empat hari ke depan, berpotensi dilakukan pengurangan kembali terhadap kapasitas produksi IPA Gunung Lingai,” jelasnya.

Sementara itu, Asisten Manajer IPA Gunung Lingai Tri Sudarwianto mengatakan penurunan ketersediaan air baku berpengaruh langsung terhadap produksi. Saat ini produksi IPA Gunung Lingai dipertahankan sekitar 40 persen untuk menjaga kontinuitas layanan. “Sebagai langkah antisipasi menjaga kontinuitas, maka IPA pada 40 persen dari kapasitas rata-rata,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Perumda Tirta Kencana Krisis Air Bersih Samarinda IPA Gunung Lingai waduk benanga samarinda