Khawatir Banjir Terulang, Warga Selili dan Sambutan Desak Pelebaran Drainase ke DPRD Samarinda

Bayu Rolles • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 22:24 WIB
Anggota DPRD Kota Samarinda Suparno mendengarkan keluhan dan aspirasi warga Kelurahan Selili serta Kelurahan Sambutan dalam forum dialog reses yang berlangsung di Giazima Resto and Cafe, Samarinda, Minggu malam (4/10/2026).
Anggota DPRD Kota Samarinda Suparno mendengarkan keluhan dan aspirasi warga Kelurahan Selili serta Kelurahan Sambutan dalam forum dialog reses yang berlangsung di Giazima Resto and Cafe, Samarinda, Minggu malam (4/10/2026).

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Meski musim hujan belum tiba, warga Selili dan Sambutan khawatir banjir yang kerap melanda mereka nantinya. Kekhawatiran itu disampaikan warga saat mengikuti reses anggota DPRD Samarinda Suparno bersama perwakilan warga dari dua kelurahan tersebut, Minggu Malam, 4 Oktober 2026.

Lewat forum dialog yang digelar di Giazima Resto and Cafe itu, warga menyampaikan persoalan yang selama ini mereka hadapi, terutama soal air yang kerap meluber ke permukiman ketika hujan dengan intensitas tinggi turun.

Madi, warga Selili RT 23, mengatakan kondisi saat ini memang masih relatif aman karena Samarinda belum memasuki musim penghujan. Namun situasinya berbeda ketika hujan datang. “Sekarang memang masih aman karena kemarau. Tapi kalau hujan, air selalu meluber dan membuat banjir,” kata Madi.

Baca Juga: Karhutla Samarinda Tembus 246 Kejadian, BPBD Sebut 608 Hektare Lahan Ludes Terbakar

Suparno memahami kekhawatiran warga itu, lantaran jika mengacu pola curah hujan tahun-tahun sebelumnya, Samarinda memiliki potensi hujan dengan intensitas tinggi yang dapat meningkatkan debit air di sejumlah kawasan.

Memperlebar drainase, kata dia, bisa jadi opsi yang dilakukan. Tapi pekerjaan itu sejauh ini lebih banyak menyasar sejumlah titik di jalan utama dan belum sepenuhnya menjangkau drainase di jalan lingkungan warga.

“Yang di gang-gang belum. Masih bertahap. Mudahan tahun depan bisa direalisasikan,” ujar Suparno. Persoalannya, pelebaran drainase di jalan lingkungan tidak semudah memperbesar saluran air. Ada ruang warga yang berpotensi ikut terdampak. Jalan lingkungan yang sudah sempit bisa semakin menyempit jika pelebaran drainase dilakukan dengan mengambil sebagian lahan di sisi jalan. 

Karena itu, menurut Suparno, persetujuan warga diperlukan agar pekerjaan bisa berjalan. “Ini juga jadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Karena jalan lingkungan kan sudah terbatas ukurannya. Kalau pelebaran drainase mengorbankan jalan, tentu makin sempit akses warga,” kata Ketua DPD PAN Samarinda itu.

Baca Juga: Kalap Uang Proyek Habis untuk Judi Online, Karyawan di Samarinda Larikan Triton dan Alat Las

Selain persoalan kapasitas drainase, Suparno menyoroti jalur aliran air di Selili yang erat berkaitan dengan Sambutan. “Mulai dari depan SPBU di Sambutan sampai Sungai Mahakam melewati daerah Selili,” ujarnya.

Masalahnya bukan soal besar-kecilnya drainase. Di sepanjang jalur itu banyak anak sungai yang berkelok dan sebagian ruangnya telah dimanfaatkan warga dengan menambah bagian rumah di atas anak sungai. 

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat kelancaran aliran air menuju Sungai Mahakam. Ketika hujan deras datang, debit air dari anak sungai meningkat. Pada saat bersamaan, drainase dan parit di permukiman tidak lagi mampu menampung seluruh volume air.

Karena itu, Suparno menilai perlu ada pembahasan lebih menyeluruh antara DPRD dan Pemkot Samarinda mengenai penataan jalur air tersebut.

Salah satu gagasan yang dapat diwacanakan adalah pembangunan satu folder atau kolam retensi di kawasan tersebut. Fungsinya untuk menahan sementara limpasan air sebelum mengalir menuju Sungai Mahakam. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
dprd samarinda banjir samarinda