Karhutla Samarinda Tembus 608 Hektare, Helikopter Water Bombing Ditarik ke Provinsi Tetangga

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 16:46 WIB
KARHUTLA: Kebakaran lahan kembali melanda kawasan Sambutan, tepat di tepi Jalan Sultan Sulaiman, Senin (5/10). (RAMA SIHOTANG/KP)
KARHUTLA: Kebakaran lahan kembali melanda kawasan Sambutan, tepat di tepi Jalan Sultan Sulaiman, Senin (5/10). (RAMA SIHOTANG/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan di Kota Samarinda kian meluas hingga menembus angka 608,18 hektare, dengan titik terparah terkonsentrasi di kawasan gambut dan tambang Kecamatan Sambutan.

Kondisi tersebut diperberat oleh ditariknya armada helikopter pengebom air (water bombing) dari wilayah Kalimantan Timur ke provinsi tetangga sejak empat hari terakhir.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso mengungkapkan, sebaran titik api saat ini merata di sejumlah kecamatan, mulai dari Palaran, Samarinda Utara, hingga Sambutan.

"Sampai dengan kemarin, kurang lebih 608,18 hektare lahan terbakar tersebar di Kota Samarinda. Kejadian tertinggi dan paling sering terbakar berada di Kelurahan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan," ujarnya, Senin (5/10). 

Ia membeberkan, luasan lahan yang terbakar di kawasan Pulau Atas saja telah mencapai sekitar 53 hektare dalam rentang waktu sepekan terakhir.

Karakteristik tanah di kawasan tersebut membuat api sangat sulit dijinakkan dan cepat membesar ketika tertiup angin.

"Lahan di sana banyak semak belukar kering, sebagian berupa gambut, dan di bawahnya terdapat lapisan batu bara. Kondisi itu mengakibatkan belukar sangat mudah terbakar," tuturnya.

Di tengah eskalasi kebakaran yang makin masif, tim gabungan di lapangan justru harus kehilangan dukungan pemadaman udara.

Helikopter water bombing yang sebelumnya disiagakan di Kaltim telah dialihkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ke Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

"Helikopter sudah bergeser sejak empat hari lalu karena penilaian BNPB ada wilayah lain yang kondisinya lebih parah. Namun kami terus mengirimkan data visual titik api di Samarinda yang tidak terjangkau tim darat agar heli bisa kembali diperbantukan ke sini," jelasnya.

Ketiadaan armada udara memaksa petugas BPBD bersama para relawan mengandalkan pemadaman manual lewat jalur darat.

Langkah ini menghadapi hambatan berat lantaran medan yang terjal, jalan masuk yang sempit, serta minimnya pasokan air di sekitar titik kebakaran.

"Kendala utama kami adalah medan yang curam dan jauh ke dalam, sehingga tidak bisa ditembus kendaraan penyuplai air. Kami akhirnya memakai sistem estafet dengan water tank, menyedot air dari sungai untuk disalurkan menuju titik api," ungkapnya.

Salah satu lokasi yang menguras energi petugas berada di kawasan Jalan Pelita 8, Kelurahan Sambutan, tepatnya di sekitar poros Jalan Sultan Sulaiman.

Kebakaran di area tersebut diperkirakan telah melahap sekitar 10 hektare lahan dan sempat memutus kelancaran lalu lintas akibat kepulan asap pekat.

"Api sempat melompat menyeberangi jalan utama pada sore hari kemarin dan mengganggu pengguna jalan. Malam harinya tim satgas kembali berjibaku memadamkan api yang mendekati kawasan gardu PLN hingga dini hari," pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
BPBD Kota Samarinda Helikopter Water Bombing Suwarso karhutla