KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Timur mencapai 116.801 kasus selama periode minggu ke-30 hingga minggu ke-40 tahun 2026.
Dari 10 kabupaten dan kota se-Kaltim, Balikpapan mencatat 31.536 kasus. Sementara itu, Samarinda mencatat 23.327 kasus dan Kukar sebanyak 16.757 kasus.
Ketiga daerah tersebut menyumbang 71.620 kasus atau sekitar 61,3 persen dari total kasus yang tercatat dalam data tersebut. Sebaliknya, Kabupaten Mahakam Ulu mencatat jumlah kasus paling rendah, yakni 605 kasus.
Tingginya angka kasus ISPA menjadi perhatian di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di sejumlah wilayah Kaltim.
Paparan partikel halus dari asap berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Andi Muhammad Ishak mengatakan, pihaknya mulai melihat pengaruh kabut asap terhadap kasus ISPA dan pneumonia. Kendati demikian, kenaikan kasus kedua penyakit tersebut sejauh ini belum signifikan.
“Memang ada pengaruh sedikit dari asap ini terhadap ISPA maupun pneumonia. Ada peningkatan, meskipun tidak signifikan,” katanya, Jumat (16/10).
Menurutnya, partikel halus yang terkandung dalam asap menjadi salah satu ancaman bagi kesehatan karena dapat terhirup ketika masyarakat beraktivitas di luar rumah.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh kondisi kabut asap, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Andi mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. (*)
Jika harus keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker untuk membantu mengurangi paparan partikel dari asap.
Di sisi lain, pihaknya juga mengingatkan bahwa dampak musim kemarau tidak terbatas pada gangguan pernapasan.
Beberpa penyakit lain seperti diare dan demam berdarah dengue (DBD), yang berpotensi meningkat selama perubahan kondisi lingkungan, patut diwaspadai.
“Selain karena asap, ada juga kondisi kemarau. Kalau kemarau, itu berkaitan dengan diare dan DBD. Ada peningkatan, meskipun tidak signifikan,” kuncinya.
Editor : Ismet Rifani