Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengintip Cewek Mandi

Duito Susanto • Minggu, 13 Oktober 2024 | 08:37 WIB
Photo
Photo

Cerpen Oleh: Inui Nurhikmah

Pernah bercita-cita jadi komikus dan komika, suka bermain harmonika tapi tidak becus dan peka.
Waktu kecil punya penyewaan komik, dan lihatlah nasibnya kini, jadi pustakawan.
Surel:  inui.nurhikmah@gmail.com
Instagram: @inui.nurhikmah


 
“Mau mangkal, Kak?”  tanya Ucup senyum-senyum genit.

Tia melangkah semakin cepat, kepalanya tertunduk.

“Diantarkah?” Zamhari ikut menggoda.
Seakan tak mendengar, gadis itu terus berjalan. Rambutnya yang panjang sebahu, sebagian bercat pirang, dibiarkan hampir menutupi wajah. Beberapa meter melewati kami, dia berhenti. Ternyata seorang pengemudi ojek telah menunggu. Tia, sang gadis, langsung duduk ke boncengan, dan sepeda motor itupun pergi membawanya.

“Berapa, sih, harga dia?” Darman bertanya sambil terus memandangi kendaraan yang membawa Tia ditelan keramaian lalu lintas.

“Mau booking?” Zamhari melirik.

“Mana mungkinlaaah ….” ejekku, “Utang pulsanya bulan lalu aja belum dibayar.”

Aku bersama ketiga temanku biasa nongkrong di depan gang seperti ini, mengobrol, bercanda, atau mengganggu orang yang lewat; dan itu hampir setiap malam dilakukan.

Kami semua seusia. Aku dan Ucup bersekolah di SMA yang sama, Darman di SMK, sedangkan Zamhari putus sekolah dan bekerja di bengkel.

Tia, gadis yang baru saja lewat, adalah tetangga sebelah rumahku. Kata orang, dia penjaja seks. Entah benar atau tidak, sebetulnya aku tidak terlalu peduli. Warga di sekitar rumahku punya beragam profesi, mulai dari pegawai negeri, pedagang, preman, bahkan pengedar narkoba. Jadi, seorang penjual diri tidaklah luar biasa.

Aku tinggal bersama orangtua dan saudaraku di sebuah jalan sempit dan buntu, yang di plangnya tertulis Gang 7B, tetapi lebih dikenal sebagai Gang Kapuk. Konon, dahulu daerah ini adalah kebun kapuk, walau sekarang tak ada satu pohon pun yang tertinggal, sebagai gantinya, rumah kumuh berhimpitan nyaris tanpa halaman. Di depan gang terdapat jalan raya yang ramai, dan di situlah kami anak-anak Gang Kapuk menghabiskan waktu senggang.  
***
 
Minggu pagi Ucup bertandang ke rumahku. Waktu bertemu mamaku, dia bilang mau mengerjakan tugas sekolah. Tentu saja itu cuma alasan, karena setelah berdua saja di kamar, dia mengajak main gim Free Fire.  
Setelah bermain beberapa saat, aku bermaksud menyeduh kopi, maka aku pergi ke dapur, yang diikuti Ucup karena mau buang air kecil.

Tengah aku mengaduk kopi dan gula di mug, Ucup keluar dari kamar mandi dan bertanya, “Rumah Tia di sebelah, ‘kan?”

“Iya,” jawabku.

“Aku tadi dengar suara orang siram-siram. Mungkin dia lagi mandi ….”  

Aku menatap wajahnya yang tiba-tiba menyeringai. “Ternyata kamar mandimu berdempetan dengan kamar mandinya ….”  

“….”

“Katamu tadi, mama, bapak dan adikmu lagi belanja keluar?”

Aku menjawab dengan anggukan.
Seringai Ucup tambah lebar. Lalu dia melangkah balik ke kamar mandi, sementara aku mengikutinya.

Masih terdengar suara siraman dari balik kamar mandi. Ucup perlahan-lahan memanjat bak air, lalu menempelkan matanya ke lubang di dinding. Aku bingung harus berbuat apa. Karena sejak dahulu aku beraktivitas di kamar mandi ini, dan hampir setiap hari pula kudengar suara orang mandi dari rumah sebelah, jadi menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Dan kini, tiba-tiba Ucup menunjukkan suatu kemungkinan kepadaku. Sesuatu yang membuatku gugup sekaligus tergelitik.

“Sial!” tiba-tiba Ucup melompat turun dari bak mandi.

“Kenapa? Ketahuan?” aku berbisik takut.
 
“Mamaknya berak!”

Aku tertawa mengakak.
***
 
Tia tinggal berdua mamanya yang tak punya pekerjaan tetap, biasanya hanya diupah tetangga untuk membantu membersihkan rumah. Kata orang, Tia-lah yang sesungguhnya mencari nafkah dengan menjual diri.

Sejak keluarga mereka pindah ke rumah sebelah sekitar tiga tahun yang lalu, keluarga kami memang tidak akrab. Aku juga tidak pernah melihat Tia bersekolah. Sesekali kudapati dia melintas depan rumahku hanya untuk pergi ke warung atau “jalan malam“. Dan itu pun dilakukannya dengan menunduk tanpa pernah menyapa. Mamaku selalu berpesan kepadaku untuk tidak menegur Tia, karena katanya, dia bukan gadis baik-baik.

Sejak kejadian Ucup berniat mengintip itu, aku jadi lebih memperhatikan Tia. Saat berpapasan dengannya, kuperhatikan lenggok pinggulnya ketika melangkah, atau rambutnya yang selalu sebagian tergerai ke depan.

Beberapa kali, saat berkurung di kamar mandi, aku memanjat bak air dan mengintip dari sela dinding kayu yang renggang. Terlihat kamar mandinya. Namun tak pernah kulihat dia beraktivitas di dalam situ.

Pernah sekali tampak dia di dapur, karena pintu kamar mandinya terbuka. Dia sedang membersihkan sayur, dengan pakaian lebih minim dibanding kalau keluar rumah. Perasaanku gugup luar biasa, berharap dia ke kamar mandi dan menanggalkan pakaian. Tapi harapanku sirna, karena terdengar teriakan adikku dari luar kamar mandi. Ya, kamar mandi keluarga kami cuma satu, dan di situlah kami bergantian mandi dan buang hajat.

Lalu tibalah kesempatan itu.
Baru lewat Isya, dan aku sedang buang air kecil, ketika kudengar sebuah  suara dari rumah sebelah, “Mandi sana kau, Tia!”
 
Cepat-cepat kukancingkan celana dan memanjat bak mandi. Dari lubang di dinding, terlihat jelas kamar mandi dan dapur rumah sebelah. Mama Tia sedang mengaduk sesuatu di panci sambil terus berkata-kata dengan nyaring.

“Jangan bilang kau tidak mau pergi lagi malam ini!”

Tia muncul di belakangnya dengan rambut berantakan.

“Aku masih tidak enak badan, Mak,” ujarnya dengan suara hampir tak terdengar.

“Halah, mana bisa cuma sakit sedikit tidak mau kerja. Ayok, mandi sana! Dari pagi tidak mandi, mana ada laki-laki yang mau dekat.”

Didorongnya Tia ke dalam kamar mandi. Gadis itu melangkah terseret, dan terhenti di tengah kamar mandi dengan lunglai.
Mama Tia pergi sebentar, lalu muncul lagi dengan handuk di tangannya.

“Kalau kau malas begini, bagaimana kita bisa bayar kontrakan rumah. Mana voucher listrik mau habis.”  Dilemparkannya handuk, dan tersangkut di kepala Tia.

“Sudah, cepat mandi!  Nanti mama siapkan parasetamol supaya pusingmu hilang.”

Dihempaskannya pintu kamar mandi hingga tertutup. Sejenak aku tak tahu harus berbuat apa. Sempat terlihatku wajah Tia yang pucat dengan tatapan mata kosong. Lalu ketika dia mulai membuka bajunya, aku merayap turun dari bak air.

Sejak itu, tak pernah lagi aku berusaha untuk mengintip. Bahkan ketika berpapasan dengannya, aku yang lebih dahulu membuang muka. (dwi)
 

 
 
 
 


 

Editor : Duito Susanto