Cerpen Karya: Sahari Nor Wakhid
Kafe kecil bernama “Simpang Diksi” ini adalah tempat yang sering dikunjungi para penikmat kopi dan diskusi. Kafe ini terletak di salah satu kota yang dikenal sebagai kota pelajar. Kota yang tidak pernah tidur, yang setiap waktu selalu memberi ruang konstruktif terhadap pikiran.
Suasana sore penuh dengan aroma biji kopi yang baru disangrai. Suara musik jazz lembut mengalun, menambah kenyamanan suasana. Di sudut ruangan, tiga sahabat lama, Raka, Maya, dan Dimas, duduk mengelilingi sebuah meja kayu bundar. Mereka sering berkumpul di sini, berbicara tentang berbagai hal, dari yang remeh hingga yang mendalam.
“Jadi, apa topik kita sore ini?” tanya Maya, sambil menyeruput kopinya yang hangat. Matanya memandang ke luar jendela, melihat hujan rintik-rintik yang mulai turun di kota dingin.
Raka, yang dikenal sebagai pemikir serius, menatap kedua sahabatnya dengan senyum kecil. “Aku baru membaca buku tentang identitas diri. Bagaimana kalau kita membahas tentang ‘Siapa diri kita sebenarnya?’”
Dimas, yang selalu penuh semangat dalam setiap diskusi, langsung menanggapi. “Menarik! Menurutku, diri kita adalah apa yang kita pikirkan. Pikiran kita membentuk siapa kita. Seperti yang pernah dikemukakan oleh Descartes, sang filsuf ternama dari Prancis, cogito ergo sum, artinya aku berpikir maka aku ada.”
Maya menggelengkan kepalanya. “Tidak sepenuhnya, Dim. Memangnya kamu tahu pikiran itu milikmu sendiri? Bukankah pikiran yang kita miliki dibentuk dari pikiran orang lain yang kita adopsi? Berarti pikiran pun sebenarnya bukan milik kita.”
“Aku sependapat dengan Maya. Bukan hanya pikiran. Kita lihat saja barang-barang yang kita kenakan saat ini. Bukankah semua itu dibuat oleh orang lain. Jadi, sebenarnya kita tidak memiliki apa-apa.”
“Memang, asal mula manusia adalah tidak memiliki apa-apa. Kita lahir saja tanpa sehelai kain pun,” tambah Maya.
“Ya, itu memang awalnya. Tapi, lambat laun akan bertumbuh dengan pikirannya. Pada akhirnya, pikiran yang membentuk identitas manusia. Kita lihat saja saat ini. Orang-orang di sekitar yang kita tahu, pasti menjadi apa karena pikirannya,” bantah Dimas.
“Aku ragu, apakah sesungguhnya kita memiliki hak untuk mengakui pikiran sebagai identitas kita,” tambah Maya sambil menyeruput kopinya lagi, “sambil diminum kopinya, keburu dingin, lo.”
“Jika bukan pikiran yang membentuk diri kita, lalu apa?” tanya Dimas.
“Pikiran kita penting, tapi yang lebih penting adalah tindakan kita. Apa yang kita lakukan setiap hari, itulah yang membentuk identitas kita,” jawab Maya.
Raka tersenyum mendengar pendapat sahabat-sahabatnya. “Aku setuju dengan Maya. Tindakan kita adalah cerminan dari siapa kita. Tapi, aku juga berpikir bahwa perasaan kita memainkan peranan. Apa yang kita rasakan dalam hati, bagaimana kita merespons kehidupan, itu juga bagian dari identitas kita.”
Dimas mengangguk, namun tetap terlihat tak sepenuhnya setuju. “Tapi, bagaimana dengan persepsi orang lain? Bagaimana mereka melihat kita juga membentuk identitas kita. Kita hidup di dunia sosial dan pandangan orang lain tentang kita juga penting.”
Maya menatap Dimas dengan serius. “Ya, tapi jika kita terlalu bergantung pada pandangan orang lain, kita bisa kehilangan diri kita sendiri. Kita harus menemukan keseimbangan antara bagaimana kita melihat diri sendiri dan bagaimana orang lain melihat kita.”
Raka menyela dengan suara lembut namun tegas. “Kalian berdua punya poin yang bagus. Identitas diri adalah perpaduan antara pikiran, tindakan, perasaan, dan persepsi orang lain. Tapi yang paling penting, kita harus jujur pada diri sendiri.”
Percakapan mereka berlanjut, dengan setiap argumen disampaikan dengan semangat dan ketulusan. Mereka saling berdebat, namun selalu dengan rasa hormat dan keinginan untuk memahami lebih dalam.
“Tapi, Raka,” Maya berkata, “Bagaimana kita bisa benar-benar jujur pada diri sendiri? Bukankah terkadang kita juga tidak tahu apa yang kita inginkan atau siapa kita sebenarnya?”
Raka terdiam sejenak, merenungi pertanyaan itu. “Maya, mungkin itu adalah bagian dari perjalanan kita sebagai manusia. Mencari tahu siapa diri kita adalah proses seumur hidup. Kita berubah seiring waktu. Itu adalah bagian dari keindahan hidup.”
Dimas menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap langit-langit kafe. “Jadi, kesimpulannya adalah identitas diri kita kompleks dan terus berubah. Tidak ada jawaban pasti.”
Maya tersenyum. “Ya, mungkin itu yang membuat hidup ini menarik. Kita terus belajar dan berkembang, menemukan diri kita di setiap langkah.”
Tiba-tiba, seorang pria tua yang duduk di meja sebelah, yang sejak tadi diam memperhatikan, menghampiri mereka.
“Maaf, aku tidak bisa menahan diri untuk ikut mendengarkan diskusi kalian. Bolehkah aku berbagi pemikiran?”
Ketiganya saling berpandangan dan mengangguk.
“Tentu, Pak. Silakan,” kata Raka.
Pria tua itu, dengan senyum bijak di wajahnya, mulai berbicara, “Aku sudah hidup cukup lama untuk memahami bahwa identitas diri adalah sesuatu yang sangat pribadi dan unik. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda dalam mencari tahu siapa diri mereka. Namun, ada satu hal yang aku pelajari. Identitas kita juga dibentuk oleh pengalaman kita, oleh hubungan kita dengan orang lain, dan oleh bagaimana kita menghadapi tantangan hidup.”
Maya terlihat tertarik. “Jadi, menurut Bapak, pengalaman hidup juga memainkan peran besar dalam membentuk siapa kita?”
“Benar,” jawab pria tua itu. “Setiap pengalaman, baik atau buruk, membentuk kita. Cara kita merespons setiap pengalaman itulah yang membentuk karakter dan identitas kita. Ingatlah bahwa identitas kita tidak pernah statis, terus berkembang seiring waktu.”
Raka, Maya, dan Dimas terdiam, merenungi kata-kata bijak itu. Mereka menyadari bahwa pencarian identitas diri adalah perjalanan yang kompleks dan mendalam, yang tidak bisa diselesaikan dengan satu diskusi saja.
Pria tua itu berdiri, bersiap untuk pergi. “Terima kasih telah mengizinkanku berbagi. Semoga kalian terus mencari dan menemukan diri kalian dalam setiap langkah kehidupan.”
Setelah pria tua itu pergi, ketiganya saling memandang dengan senyum. Mereka sadar telah belajar sesuatu yang berharga hari ini. Identitas diri bukan hanya tentang pikiran, tindakan, perasaan, atau persepsi orang lain, tetapi juga tentang pengalaman dan bagaimana kita tumbuh melalui setiap pengalaman itu.
Namun, ada satu hal yang mengejutkan mereka. Ketika mereka keluar dari kafe, mereka melihat sebuah plakat di dinding kafe yang tertulis, “Didedikasikan untuk Pak Harun, pendiri kafe ini, yang telah menginspirasi banyak orang melalui bijaknya.” Foto pria tua tadi terpasang di sebelah plakat itu. Mereka tertegun, menyadari bahwa mereka baru saja mendapatkan pelajaran berharga dari seorang legenda hidup.
Di tengah rintik hujan yang semakin deras, mereka berjalan pulang dengan hati yang lebih ringan dan pikiran yang lebih dalam. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka dalam mencari tahu siapa diri mereka baru saja dimulai. Mereka siap untuk menghadapi setiap tantangan yang akan datang. (dwi)
SAHARI NOR WAKHID, guru SMP 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 6 buku solo dan 33 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Aku Sibuk dengan Kekafiranku (kumpulan cerpen 2024). Bisa dikontak melalui IG @saharienwe
Editor : Duito Susanto