Pertengahan triwulan tiga pada 2024, Unis Sagena lahirkan dua buku antologi puisi berjudul Buat Apa Rindu Kau Terjemahkan dan Tiada Jembatan yang Tak Luka.
LIMA bulan berselang, Ahad (26/1), di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kaltim, bersama Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GMPB) Kaltim, Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kaltim, dan Jaringan Penulis Kaltim (JPK), menginisiasi untuk bedah kedua buku Unis tersebut.
Unis menuturkan, kedua bukunya merupakan antalogi puisi yang telah ditulis selama lebih satu dekade. Baginya setiap karya merupakan cerminan proses pencarian jati diri dan pemaknaan hidup.
"Buku pertama, ‘Buat Apa Rindu Kau Terjemahkan’, saya anggap lebih sebagai eksperimen. Mencoba memahami romansa dalam berbagai aspek kehidupan, tidak hanya dalam hubungan antar perempuan dan laki-laki, juga sebagai perempuan, ibu, pekerja sosial, dan akademisi," ujar perempuan yang juga dosen di Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Mulawarman.
Sementara itu, buku kedua, Tiada Jembatan yang Tak Luka, lebih banyak menggali perjalanan batin dan intelektual yang membentuk dirinya sebagai penulis. Filosofi kehidupan yang lebih dalam.
“Itu sebenarnya upaya pengarsipan karya-karya puisi saya selama ini. Sudah tidak terhitung berapa puisi yang ada di buku-buku antologi dalam dan luar negeri, bahkan sebagian filenya banyak yang hilang,” sebutnya.
Terbitnya buku tersebut tujuannya non-profit. 70 persen terbitan pertama didonasikan untuk komunitas-komunitas baca di Kaltim, dan perpustakaan di seluruh daerah Bumi Etam.
Itu jadi rasa terima kasihnya sebagai penulis yang merasa terinspirasi dari gerakan literasi di daerah. Unis punya harapan bukunya bisa memotivasi perempuan di Kaltim untuk terus menulis.
Dalam sesi bedah buku, Dahri Dahlan, akademisi sekaligus penulis mengapresiasi karya-karya Unis. Ia menilai bahwa tidak banyak akademisi yang mampu menulis fiksi, apalagi puisi. Menurutnya, puisi adalah bentuk sastra yang mampu menyampaikan kebenaran yang kadang tidak bisa diungkapkan dengan cara lain.
"Puisi itu adalah peristiwa puitik, sesuatu yang sederhana namun bisa menyentuh jiwa. Seperti halnya kita merasa terinspirasi setelah menikmati keindahan alam, puisi memiliki fungsi yang sama untuk merefleksikan perasaan dan memberi kedamaian," jelas Dahri.
Dia berharap Unis terus produktif menulis, mengingat potensi besar yang dimiliki perempuan itu.
Di sisi lain, sebagai seorang kurator pada dua buku yang dilahirkan Unis, Amin Wangsitalaja menyampaikan, puisi-puisi Unis memiliki kekuatan penyampaian pesan dan penggunaan bahasa yang tajam.
"Puisi Unis ini tidak hanya indah dalam aspek estetika, kuat dalam kritik sosial dan refleksi pribadi. Setiap kata yang dia pilih punya bobot, dan itu yang membuat puisinya khas dan menarik," tutup dia.
Editor : Dwi Restu A