KALTIMPOST.ID - Suatu ketika, bapak membuka pintu rumah dan masuk ke dalam dengan menenteng sebuah tas jinjing hitam. Ia letakkan tas itu di atas meja makan dan menurunkan kainnya. Mataku menyambut sebuah kotak berwarna gradasi putih hingga biru muda. Gambar gelas berkaki terlihat di sana. Kebetulan, aku yang baru saja menghabiskan sepotong mangga pada waktu itu masih duduk di sana, tepat di hadapan bapak dan kotak gelas kaca barunya.
“Gelas dari kantor?” suara Ibu terdengar dari arah tempat cuci piring.
“Bukan.” Bapak menarik kursi dan duduk di hadapanku. Tangannya bergerak membuka kotak itu. “Kubeli di pinggir jalan, katanya gelas anti pecah.”
“Tapi itu kaca?” aku menyahut.
“Loh, memangnya tidak mungkin kaca anti pecah?”
Mendengar bapak menyahut seperti itu, aku diam. Mungkin memang ada. Tapi setahuku semua kaca yang kulihat, ketika terlempar atau terjatuh selalu pecah. Tapi mungkin memang aku yang tidak tahu kalau ada kaca yang anti pecah.
“Ada jembatan di China itu yang anti pecah, mungkin bahannya sama.” Ibu kembali menyahut usai mematikan keran air wastafel dan mengeringkan tangannya. Ia mendekat ke meja makan. “Iya nih, gelasnya tebal.”
Di bayanganku, meskipun tampak tebal, apabila jatuh di lantai marmer rumah kami, tentu akan pecah juga. Minimal retak. Atau mungkin satu serpihan yang jatuh dan menghilang tanpa diketahui.
“Iya ‘kan?” sahut Ayah mendukung pernyataan Ibu. “Mahal kok, pasti betulan anti pecah.”
Aku mengulurkan tangan, menyentuh gelas kaca yang kurasa tidak berbeda dari gelas kaca pada umumnya. Sama seperti gelas kaca lainnya, dingin menjalar di telapak tangan waktu aku menyentuh gelas kaca itu.
Aku mengangkatnya, melihat pantulan wajahku yang cembung pada permukaan gelas kaca itu. Tidak ada yang berbeda. Seperti gelas kaca pada umumnya. Saat hendak mengembalikannya ke atas meja, perhatianku teralihkan sehingga gelas kaca itu tidak berdiri dengan seimbang. Tangan Ibu dengan sigap menangkap gelas kaca baru saja meluncur dan hampir menyentuh lantai marmer rumah kami. Ibu menghela napas. “Duh, kamu ini,” serunya seraya membenarkan letak gelas itu di atas meja. “Hati-hati,” lanjutnya.
Padahal katanya gelas itu anti pecah. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan meskipun gelas itu terjatuh. Namun, aku menyimpan semua pikiranku dalam-dalam tanpa menyahut lebih lanjut.
Baik bapak maupun ibu, keduanya melanjutkan hidup dengan keyakinan bahwa gelas itu anti pecah. Meskipun begitu, mereka tetap menjaga gelas itu agar tidak terjatuh ataupun terbentur. Mereka bahkan tak segan meninggikan nada suara ketika aku ataupun kedua adikku tak sengaja membuat gelas itu terjatuh, terbentur, atau bahkan sekadar menghasilkan suara. Entah mengapa, gelas itu kemudian menjadi suatu hal berharga di dalam rumah. Melebihi anak mereka.
Pernah suatu ketika, adik ketigaku menjatuhkannya ke lantai tatkala menggunakannya untuk minum setelah bermain. Ternyata benar, gelas itu tidak pecah begitu saja. Hanya air yang berhamburan di lantai. Namun, suara ibu yang memarahinya terdengar ke seluruh rumah hingga semua orang berkumpul di dapur. Padahal, gelas itu tidak kenapa-napa. Sang pelaku pun memasuki kamar sambil menangis dan aku mengambil kain lap, membereskan sisa kekacauannya.
Tatkala mengangkat gelas dan hendak meletakkannya di tempat cuci piring, aku memperhatikan gelas itu dan memang tidak terjadi apa-apa. Retak pun tidak, bahkan serpihan kecil pun tidak ada. Malamnya, ketika adik keduaku sedang mencuci piring, gelas itu tidak sengaja jatuh dari tangannya dan terbentur lagi. Saat itu bapak dan ibu sedang tidak ada di rumah dan adikku itu mengatakan dengan yakin kalau gelasnya baik-baik saja.
“Hanya terbentur kecil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” katanya pada saat itu.
Pada hari-hari setelahnya, kejadian seperti itu masih terus berulang. Tidak hanya kedua adikku, tetapi bapak dan ibu juga terus-terusan tanpa sengaja membuat gelas itu terbentur. Bedanya, tentu tidak ada yang berani menegur mereka. Mereka yang membuat aturan tidak tertulis untuk menjaga gelas itu baik-baik, tetapi mereka juga melakukan kesalahan yang sama.
Aku hanya diam saja melihat mereka menjatuhkan ataupun menyenggol gelas anti pecah itu. Di rumah ini, hanya aku yang tidak pernah melakukan kesalahan serupa. Seingatku. Namun, setiap harinya, aku selalu memperhatikan gelas anti pecah itu. Setiap harinya setelah ia jatuh untuk pertama kali, retakan kecil terus muncul. Perlahan, ujung gelas itu terkikis sedikit demi sedikit tanpa ada yang menyadari.
Baca Juga: Orkes Musik Cilik, Cerita Anak Oleh May Wagiman
Pernah pada suatu waktu, kakiku terinjak serpihan beling yang berukuran kecil. Setelah membersihkannya, aku menghampiri meja makan tempat gelas itu sedang berdiri tepat di tengah-tengah. Aku memperhatikan bagian bibir gelas yang melingkar, ada bagian yang hilang sehingga menciptakan lengkungan di sana.
Saat itu, bapak kebetulan masuk ke dapur. Aku menunjukkan temuanku padanya. “Atas gelasnya pecah.”
Bapak menghampiri. Mengambil gelas itu dari tanganku. “Kalau pakai hati-hati,” katanya.
Aku ingin membalas perkataannya, bukan aku yang melakukannya justru kakiku baru saja terkena serpihannya, tapi ku urungkan niat itu. Bapak melewatiku dan melangkah menuju lemari kaca tempat menyimpat alat makan di sudut kanan dapur. Sementara aku membiarkannya dan hendak kembali menuju kamar.
Saat kakiku melangkah, aku mendengar suara khas pintu lemari yang terbuka. Saat kakiku melangkah lagi, aku mendengar suara kaca yang terbentur di lantai marmer rumah kami, disusul suara kaca yang berserakan dan suara bapak yang berdecak kesal. “Kok pecah sih?”
Aku berbalik dan menyaksikan gelas anti pecah itu kini sudah melebur menjadi serpihan kaca di atas lantai. Aku menahan napas. Gelas anti pecah itu akhirnya pecah dengan sendirinya. Di tangan bapak. (*)
Widya Amanda, lahir di Berau pada 2004. Saat ini sedang menempuh pendidikan di program studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman. Karya lainnya dapat dilihat di bio instagram @widyaamd_
Biodata
Nama Lengkap : Widya Amanda
Tempat, Tanggal Lahir : Berau, 14 Mei 2004
Alamat : Jl. Kandang Muntik, Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pendidikan : S1 Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman
No. Hp : 0812-6411-0320
No. Rekening : 1449509157 Widya Amanda (BNI)