Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sebelum Nasi Itu Datang, Cerita Pendek Karya Sahari Nor Wakhid

Redaksi KP • Minggu, 2 November 2025 | 06:22 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Sejak bel masuk berbunyi, Bu Dian tak henti-hentinya menjawab pertanyaan murid-muridnya tentang kabar yang sedang ramai dibicarakan. Kabar tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang katanya sebentar lagi akan sampai juga di sekolahnya.

“Bu, nanti kita dapat ayam goreng tiap hari, ya?” tanya Dito, sementara yang lain bersorak membayangkan makanan gratis.

Bu Dian tersenyum seadanya. Ia mencoba menenangkan kelas yang riuh, tapi dalam hatinya ada sesuatu yang tak tenang. Batinnya terus digerogoti pertanyaan, “Kalau program itu benar datang, siapa yang sebenarnya akan kenyang? Anak-anak atau orang-orang yang bersembunyi di balik proyeknya?”

Udara di halaman sebuah SMP masih dibasahi embun. Dari kejauhan, suara ayam tetangga bersahut dengan bunyi motor tukang bubur yang tak pernah alpa. Bu Dian berdiri di depan kelas, menatap deretan muridnya yang baru saja mengikuti upacara dan menyanyikan lagu nasional dengan semangat setengah mengantuk.

Ia tersenyum, tapi pikirannya jauh melayang. Kabar tentang MBG terus tersiar dari mulut ke telinga hingga sampai pada mulut kembali. Ia bukan menolak programnya. Ia hanya … gelisah. Ada desir aneh di dadanya setiap kali mendengar MBG. Ia paham betapa pentingnya gizi bagi masa depan anak-anak, terutama di daerah seperti Kutai Timur, tempat sebagian murid datang ke sekolah tanpa sarapan. Namun, di balik semangat besar itu, ia juga merasakan bayang-bayang kekacauan. Laporan tentang keracunan, dapur yang belum siap, dan guru-guru yang tiba-tiba harus memikul tanggung jawab di luar tugas mengajarnya. Hatinya ingin percaya bahwa niat baik akan membawa kebaikan, tetapi pikirannya terus bertanya, apakah semua ini benar-benar untuk anak-anak atau sekadar untuk angka dan citra?

Jam istirahat pertama, ruang guru dipenuhi obrolan ringan. Di sudut meja, Bu Dian menatap gawainya yang menyiarkan siaran langsung konferensi pers. Seorang pejabat tampil percaya diri di layar, berbicara dengan nada tegas tentang program MBG yang digadang-gadang akan menjamin anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan cerdas, tanpa ada yang tertinggal. Bu Dian menyesap teh manisnya perlahan, matanya tak lepas dari layar. Setiap kata terdengar rapi dan terukur, tetapi di telinganya terasa kaku. Kalimat yang terucap seperti dihafal demi kamera, bukan diucapkan dari hati.

Ia masih ingat instruksi kepala sekolah yang sengaja dipaksakan masuk ke telinga tanpa bisa didebat, “Ini program presiden. Tolong jangan sampai gagal di tingkat sekolah.”
Sore hari, kelasnya terasa lengang. Anak-anak sudah pulang, hanya tersisa beberapa yang menunggu dijemput. Fina, murid yang sering membawa bekal dari rumah, datang menghampirinya dengan senyum kepolosan.

“Bu, nanti kalau program makan gratis itu datang, apa saya masih boleh bawa bekal sendiri?” tanya Fina.

Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk hati Bu Dian. Ia ingin menjawab “boleh”, tapi tak yakin itu benar. Dari brosur yang dikirim ke sekolah, jelas tertulis, “Semua peserta didik penerima manfaat wajib mengonsumsi makanan dari MBG.”

“Entahlah, Nak. Mungkin saja boleh. Tapi, nanti Ibu tanyakan dulu, ya!” jawabnya pelan.
Fina mengangguk, lalu tersenyum. “Tapi, saya suka masakan Ibu. Kalau makan dari dapur lain, rasanya pasti beda.”

Bu Dian tersenyum kecut. Dalam diam, ia berpikir. Apakah tujuan program ini benar untuk anak-anak seperti Fina, yang setiap hari sudah makan cukup di rumah? Bukankah seharusnya bantuan itu untuk mereka yang benar-benar kekurangan, yang mungkin sarapannya hanya dengan teh manis dan singkong rebus?

Bagi Bu Dian, gizi bukan hanya soal memberi makan. Ini soal memahami siapa yang lapar dan siapa yang hanya ikut antre.

Menjelang waktu pulang, kepala sekolah meminta semua guru untuk berkumpul di ruang guru. Sekolah menerima surat resmi. Stempelnya masih basah. Isinya pemberitahuan bahwa dalam dua minggu ke depan, sekolah akan menjadi salah satu penerima tahap pertama program MBG.
Keributan pun tak terelakkan. Kursi-kursi bergeser. Suara tanya bersahutan seperti riuh pasar pagi.

“Berarti kita harus siapkan tempat makan, Pak?” tanya Bu Rani, guru IPA yang selalu teratur dan tak pernah suka hal mendadak.

“Katanya nanti dikirim dari dapur induk,” sambung Pak Wahyu, guru olahraga, sambil mengangkat alis.

Bu Tika, guru BK yang dikenal cerewet, ikut menimpali, “Saya baca di berita, di kabupaten sebelah ada yang keracunan, lo. Kalau basi gimana? Kita yang harus tanggung jawab?” Nada suaranya naik setengah oktaf, antara cemas dan kesal.

Pak Heru, kepala sekolah yang sejak tadi duduk, menghela napas panjang. Ia menatap para guru satu per satu sebelum akhirnya berkata dengan nada datar, “Sudah, jangan ribut dulu. Kita ikuti petunjuk. Ini perintah dari atas.”

“Tapi, Pak,” sahut Bu Dian, “kalau sampai terjadi sesuatu, orang tua pasti datangnya ke sekolah, bukan ke dapur induk. Kita juga yang disalahkan.”

Pak Heru mengangguk pelan. Ia seolah mengerti, tapi tak punya kuasa. “Saya tahu. Tapi suratnya jelas, tanggung jawab teknis di lapangan ada di sekolah. Kita cuma jalankan kebijakan. Kalau ada masalah, nanti dilaporkan pada pihak terkait.”

Suasana mendadak hening. Hanya bunyi beberapa kipas tua yang malas berdecit di sepanjang dinding atas ruang guru. Beberapa guru saling pandang, sebagian menunduk, mencoba menelan rasa tak nyaman yang menggantung di udara. Program itu belum juga dimulai, tapi beban yang ditinggalkannya sudah terasa berat di dada masing-masing.

Langkah kaki Bu Dian terasa berat saat meninggalkan gerbang sekolah menuju rumahnya yang tak terlalu jauh. Tas jinjing di tangannya terasa lebih berat dari biasanya, seolah ikut memikul beban pikirannya. Ia berjalan perlahan, sementara suara tawa anak-anak dari kejauhan justru membuat dadanya makin sesak.

“Katanya, program ini untuk masa depan anak-anak agar tak stunting, agar belajar dengan perut kenyang. Aku setuju, sungguh. Namun, mengapa caranya membuat kami para guru justru takut? Kami bukan tukang logistik, bukan pengawas dapur, tapi tiba-tiba harus memastikan ribuan nasi kotak aman dan bergizi. Kami disuruh percaya semuanya baik-baik saja, padahal berita di luar sana berkata sebaliknya.”

Ia menarik napas panjang, menatap tanah yang mulai gelap oleh bayangan sore.
“Aku ingin anak-anak sehat, tentu saja. Tapi, kalau program ini terburu-buru, kalau dapurnya belum siap, kalau anak-anak yang sebenarnya cukup ikut menerima, sementara yang benar-benar butuh malah terlewat, bukankah semua ini cuma angka-angka untuk laporan?”

Langkahnya terhenti ketika pikirannya terlalu jauh. Sebuah batu kecil di tepi jalan tak sengaja tersandung ujung sepatunya. Bu Dian kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Ia menatap batu itu lama, terkejut sekaligus sadar. Kadang yang membuat seseorang tersandung bukanlah batu besar di depan mata, melainkan pikiran yang terlalu penuh untuk melihat jalan. (*)

Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 9 buku solo dan 46 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Jeremba (Kumpulan Cerpen Remaja, 2025). Bisa dikontak melalui Instagram @saharienwe

Editor : Duito Susanto
#Makan Bergizi Gratis (MBG)