Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Detak-Detik Mesin Tik, Cerita Pendek Karya Shanti Agustiani

Redaksi KP • Minggu, 28 Desember 2025 | 07:18 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Tinggal dua hari lagi menuju tahun baru. Udara Desember di loteng sempit terasa semakin pengap dan dingin, di sana meringkuk di kursi rotannya seorang lelaki gaek yang masih setia pada mesin tik Royal Standard tahun 50-an. Tubuh rentanya berselimut sarung, mesin tikya tampak lebih tua dan berkarat daripada si empunya. “Clack …clack …clack” gerakannya semakin lelet dan lemah.

Mesin tik tua itu telah menemani jurnal kepenulisan Narendra selama puluhan tahun, pendamping hidup yang setia membantunya mencari nafkah dari honor ke honor sampai beberapa harian yang menjadi sumber nafkahnya gulung tikar dan akhirnya berimbas pada pembatasan honor dan karya tulis yang diterima.

Era digitalisasi telah menggilas kertas-kertas koran yang tiada lagi dilirik. Tak ayal, Narendra yang hanya mengandalkan tulisan sebagai mata pencaharian kini tak sanggup lagi nongkrong di cafe langganannya, sambil memandangi waitress yang memakai celemek merah sepadan dengan warna lisptiknya. Kumala namanya, sesekeli ia mengerling manja kepada Narendra berharap mendapatkan tips dari senyuman setipis tisu.

Kini, jika beruntung Narendra hanya bisa menyeduh kopi hitam tanpa gula dan menghisap sebatang rokok lintingan. Sambil mengusir satu per satu gumpalan asap yang membentuk bayangan waitress merah, mantan istrinya, Ratri, yang kini menikah dengan pejabat pembuat surat tanah [lelaki itu bukan hanya merebut Ratri tetapi juga mengembat tanah peninggalan Narendra], dan anak semata wayangnya, Woro Palupi yang kini beranjak dewasa dan baru saja lulus SMA.

Selagi ia punya pengasilan tetap, Woro tetap mendapat kiriman dari Narendra. Namun kini tersendat dan membuat buntu sisa otak kreatif Narendra.

Malam itu Narendra kembali menekan tuts mesin ketik berkarat, Si R. Bunyinya masih sama clack-clack. Namun kali ini tak banyak yang bisa ia ketik, hanya beberapa baris puisi cinta dan patah hati. Dibawanya kertas-kertas itu ke stasiun kereta yang sehari-hari dilewatinya menggunakan sepeda jengki.

Narendra nekad menghampiri sepasang kekasih, gadisnya menangis sesunggukan karena akan berpisah dengan prianya yang hendak berangkat naik kereta.

”Maukah kubacakan engkau puisi, mungkin ini bisa menguatkan hatimu,” pintanya sembari membuka kertas puisinya dan mulai membaca tanpa aba-aba.

Pasangan itu tertegun sejenak, dan beranjak menjauh, selembar uang lima ribu diletakkan di atas meja, Narendra cepat mengambil dan memberikan kembali uang itu kepada si pemuda.

”Aku pelacur kata, tanpa kata yang bermakna kau tak perlu membayarku.”

”Maaf, kami tidak butuh puisi dan keretaku sebentar lagi akan berangkat.”

Pemuda itu berlalu, menyeret koper dan kekasihnya yang masih sesenggukan, meninggalkan Narendra berdiri mematung di peron yang bising.

Narendra pulang dengan bahu merosot. Di atas meja loteng, Si R masih setia menunggu. Ia memasukkan selembar kertas sisa, bukan untuk menulis puisi, melainkan sepucuk surat untuk Woro Palupi.
Clack... clack... bunyi tutsnya merintih.

"Nak, maafkan Bapak. Di ujung tahun ini, hanya doa yang bisa Bapak kirimkan secara utuh. Maaf jika janji Bapak untuk mengirimkan biaya pendaftaran kuliah belum bisa Bapak tunaikan. Bersabarlah, Nak.”

Ia berhenti. Air matanya jatuh, mendarat tepat di atas tuts huruf 'R' yang macet, membasahi karatnya hingga berkilau. Di bawah temaram lampu 40 watt, Narendra menghirup kopi terakhirnya dan mengepulkan asap rokok lintingannya.

Aroma kopi dan rokok bercampur dengan aroma kertas yang lapuk seperti bau kayu yang hancur dimakan usia—sama seperti harapan-harapan yang ia ketik dengan jemari yang gemetar.

Resolusi Tahun 2026 … tak sanggup lagi ia lanjutkan. Malam semakin larut dan dingin, selimut sarungnya tak sanggup mengusir gulana. Narendra tertidur, di antara tumpukan kertas yang masih kosong. (*)

 

 

Shanti Agustiani, guru penulis, sosialistor program literasi dan pecinta seni. Shanti beraktivitas sebagai Koordinator Bimbingan dan Konseling, Pembina PIK R dan Pembina Literasi di Madarsah Aliyah Negeri 2 Kutai Kartanegara.

Shanti mulai aktif menulis fiksi semenjak tahun 2011 bersama para penulis Kaltim yang digawangi oleh Korie Layun Rampan. Setelah itu aktif di Komunitas Guru Menulis, Gerakan Literasi Kutai (GLK) dan Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) sehingga puluhan karyanya (cerita anak, novel, kumpulan cerpen, pantun dan puisi) telah diterbitkan oleh Lingkar Antar Nusa Percetakan dan Penerbit Intishar. Beberapa cerpen dan artikel opininya juga telah terbit di harian Kaltim Post.

Editor : Duito Susanto
#mesin tik #era digital #shanti agustiani #cerita pendek #penulis kaltim #drama sosial