Setelah semesta menghancurkan hidupmu berkali-kali
meski kau memohon dengan teramat sangat,
rasa perih itu tak kunjung juga berhenti.
Terkadang, tak percaya lagi pada kekuatan doa
menjadi hal yang rasanya wajar sekali.
Demikianlah rangkaian kalimat yang mengawali novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Terasa muram, pedih, putus asa. Namun, memang begitulah isi sebagian besar novel karya Brian Khrisna ini.
Dibandingkan kisah CEO kaya raya, selebritas glamor, quote kesuksesan, tentu buku dimaksud berbeda. Isu mental health yang marak tahun-tahun terakhir, menemukan jalannya, dan menjadi sukses besar. Oktober 2025 lalu, buku ini memasuki cetakan ke-67 serta dinyatakan sebagai mega bestseller, yang artinya laku lebih dari 100 ribu eksemplar. Kesuksesan novel tersebut juga mengantarkannya pada rencana alih media menjadi film. Hingga Januari 2026, perusahaan filmnya membuka lowongan casting untuk beberapa pemeran, termasuk pemeran utama.
Kesan pertama melihat kovernya, mirip buku resep masakan: gambar semangkuk mi ayam. Lebih teliti, tampaklah gambar belakang tubuh seorang laki-laki sedang duduk di tepi mangkuk tersebut; gemuk, berkaus hitam, memegang kepala (atau menutup telinga?) dengan kedua tangan. Selanjutnya, hiasan mangkuknya pun aneh. Alih-alih bergambar ayam jago dan bunga peoni yang ikonik itu, tetapi burung bangau dan kaktus.
Sebagaimana judulnya, buku ini bercerita tentang keinginan seseorang untuk menyantap seporsi mi ayam sebelum mati. Dan, harus mi ayam tertentu. Cerita pun mengalur dari sini.
Ale, lelaki yang digambarkan tinggi besar, hitam, dan bau, telah sampai di puncak frustasinya; budak korporat, merasa tidak bahagia dan tidak sesukses teman-temannya, sendirian, tanpa support system. Tidak ada yang peduli, tidak teman kerja, tidak keluarga, bahkan tidak ibunya --tidak sesiapa pun. Pada malam ulang tahunnya yang ke-37, semesta seolah bersekongkol untuk memboikot, sehingga Ale memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Namun, sebelumnya, dia terpikir ingin makan mi ayam, yang enak, yang langganannya, sebagai kenikmatan terakhir. Ternyata, warung mi ayam yang ditujunya tidak ada. Ale mencari. Peristiwa demi peristiwa kemudian dilaluinya silih berganti. Mulai dari ditangkap polisi karena dituduh terkait sindikat narkoba, bergaul dengan bos preman, hingga bercengkerama dengan muncikari dan WTS.
Banyak karakter yang dijumpai Ale dalam mencari mi ayamnya, silih berganti mewarnai hidupnya yang dulu dirasanya monokrom.
Selain alur cerita yang memikat, daya tarik novel ini juga karena hadirnya kalimat-kalimat quoteabel di setiap awal bab, termasuk juga yang tercecer sepanjang narasi. Di setiap akhir bab pun diselipkan ilustrasi. Pada cetakan-cetakan awal, seluruh ilustrasi sketsa hitam putih teknik konte. Namun, sejak cetakan ke-33 beberapa ilustrasi telah berwarna. Lembar awal dan beberapa bagian akhir, halamannya berwarna hitam. Umumnya ini trik penerbit agar jika difotokopi atau diperbanyak dengan kualitas rendah, tulisan tidak akan terbaca. Namun, pada novel ini, halaman hitam tersebut menambah kesuraman keseluruhan cerita.
Patut dihargai kepiawaian Brian Khrisna dalam menciptakan beragam karakter pada novelnya ini. Yang saya suka, penulis cermat sekali menggambarkan suasana gang-gang bersahaja dan hunian penduduk sepanjang rel kereta yang khas Jakarta, terasa begitu alami hingga dapat terlihat, terdengar, dan tercium jelas ekosistemnya.
Jika ada yang dianggap mengganggu, saya rasa hanya pada “terlalu banyak hal yang ingin disampaikan novel ini”. Tokoh-tokohnya cenderung terlalu terbuka untuk mengisahkan kehidupannya. Misalnya Juleha dan Louisse, yang menumpahkan seluruh kisah hidupnya pada Ale pada saat pertama jumpa dan di dalam waktu yang singkat pula.
Satu lagi, jika Anda pembaca santun, sering-seringlah beristigfar. Kata-kata vulgar berseliweran, baik sumpah serapah, aktivitas seks, atau ungkapan kekerasan. Saya pribadi ketika membaca novel ini, teringat gaya Eka Kurniawan ketika menulis Cantik Itu Luka. Omong-omong, Brian menyebut diksi “cantik itu luka” di halaman 97 novel ini.
Novel ini memang merasuki sisi gelap pembacanya; rasa sepi, gelisah, terbuang, tak berdaya. Saat kecil Ale mengalamai perundungan, tidak hanya dari teman, tapi juga keluarganya sendiri. Ketika dewasa, rekan kantor, atasan, hingga pacarnya pun melakukan hal yang sama.
Ada satu skena saat malam Ale memandang “….gedung-gedung perkantoran dan apartemen menjulang dengan warna mengepul keemasan dari setiap jendelanya. Sesekali aku bisa melihat kilatan bayangan dari orang-orang yang hidup di dalamnya. Mereka semua tertawa, bercengkerama dengan pasangannya, dan tampak hidup dengan bahagia.” Lalu seorang pengamen bernyanyi dengan sumbang lagu Radiohead, Creep.
I’m creep. I’m just a weirdo. What the hell I’m doing here? I don’t belong here.
Beberapa orang bercerita kepada saya, mereka menangis saat, bahkan hingga usai membaca novel ini. Katanya relate.
Di media sosial, tagar dan meme tentang mi ayam ini pun sempat viral, yaitu “Jangan mati dulu, mie ayam masih enak.”
Kehidupan sekarang memang seperti nasib Ale. Beranjak dewasa berarti membuka kotak pandora, berbagai jenis kesengsaraan muncul silih berganti tanpa ampun. Ketika akhirnya menyembul satu makhluk astral bersuara lemah, dia adalah harapan, berupa seporsi mi ayam. (*)
Inui Nurhikmah
Pernah bercita-cita jadi komikus dan komika, suka bermain harmonika tapi tidak becus dan peka. Waktu kecil punya penyewaan komik, dan lihatlah nasibnya kini, jadi pustakawan.
surel: inui.nurhikmah@gmail.com
Instagram: @inui.nurhikmah