KALTIMPOST.ID - Tubuh berbalut rasa takut telah bersembunyi di tempat ini lebih dari dua jam. Tidak ada jam tangan pada kedua lengan, tidak ada jam dinding di sekitar, hanya matahari yang semakin terang kujadikan penanda.
Di rooftop aku sekarang berada. Di balik loket parkir yang tak terpakai dengan bau kencing dan muntah, tepatnya. Para pemabuk dan preman pasar selalu menenggak minuman di sini. Muntah di sini. Bertengkar di sini. Semua itu bakal terjadi malam hari.
Kepala yang tak tahu kapan terakhir keramas ini muncul sedikit-sedikit agar mata bisa melihat di balik kaca, mengawasi sekitar, memastikan tak ada tiga orang yang mengejar tanpa sebab itu. Satu perempuan dan dua laki-laki. Dari Taman Presiden aku tunggang langgang menuju Pasar Duo ini, tempat belanja serba ada. Untung saja lokasi ini memuat empat lantai. Mereka akan hancur fokus melihat banyaknya orang. Tak akan sampai ditemukannya aku.
Aman! Sekarang aku bakal keluar dari tempat yang sembilan bulan sudah tidak difungsikan ini. Pula telah menjadi kamar rahasiaku.
Aku tertegun sebentar. Satu tanya tiba: jika mereka masih mencari di tempat ini dan menemukanku? Ya, tentu aku bakal kena hajar. Tapi toh biar saja. Ini bukan kali pertama diperlakukan dengan buruk dan dijadikan kambing hitam atas perkara yang tak ada sangkut pautnya denganku.
Langkah kaki bergerak menuruni tangga, memasuki lantai nomor empat. Aku ingin buang air besar; perut terasa panas gara-gara sambal nasi uduk tadi.
“Anjing! Jauh-jauh dari tempatku! Sialan, bikin aroma di sini tak enak!” Ia berdiri, tubuhnya tegap dan mengeras. Matanya melotot. Seluruh air mukanya murka. Aku tak mengenal namanya secara resmi. Tapi dia adalah seorang laki-laki tiga puluh tahun yang selalu mengenakan topi koboi. Sehari-hari ia menjual ikat pinggang.
“Minggat ke sana, Anjing!” tambahnya. Dilemparkannya rokok yang masih menyala tapi sudah pendek itu padaku. Mengenai pundak kiri. Aku mengencangkan langkah kaki dan meninggalkan tatapannya.
“Anjing”, Si Gesper memang selalu memanggilku dengan kata itu. Bukan hanya dia saja, melainkan separuh penjual di lantai empat. Di hadapan mereka, namaku bukan lagi Bisa Benar (BB), tetapi Anjing.
“Mau apa kamu ke sini, Anjing?!” Di muka pintu toilet aku ditahan oleh tangan penjaga.
“Mau apa?” tambahnya keras. Badannya yang tambun tepat berada di hadapanku, menghalangi.
Tanganku kutempelkan pada pantat sebagai isyarat.
“Minggat dari sini, Anjing. Bikin bau saja! Bikin hidung sakit saja! Bikin hariku buruk saja! Sana pergi, ke mana saja. Asal jangan di sini!”
Di depan cermin dekat kotak pembayaran toilet, aku memperhatikan wajahku dengan saksama. Hidung tidak mancung, tidak berbulu. Lidah tergolong wajar saat menjulur. Aku pun tidak bisa menggonggong. Kenapa pula aku disebut Anjing? Kenapa pula aku menerima diberi nama Anjing? Nilai anjing? Aku harus melakukan pembalikan!
Aku menendang kaki Si Penjaga Toilet (PT) dan berlari menuju Si Gesper. Melihat kedatanganku sambil dikejar Si PT, para penjual itu berdiri.
“Hei kalian! Nama saya BB. Kalian jangan seenaknya panggil aku Anjing.” Tangan kiri menunjuk satu per satu dan berhenti pada hidung Si Gesper. Tangan kanan sudah dari tadi kuikatkan pada perut dengan tali. Karena ini adalah musuh abadi.
“Lihat Anjing ini sedang bermain lawak! Pergi sana ke televisi, ketololanmu akan dapat harga.” Semua yang mendengar itu terbahak dengan cara berbeda-beda. Kupingku semakin bising. Rasa kesal dalam diri kian nyaring.
“Kalian yang Anjing. Kalian! Kalian!”
“Haha. Dia memulai lagi. Benar-benar lucu sekali. Hiburan untuk pekerja rentan seperti kita,” sahut penjual emas.
“Betul… betul… betul…” timpal Si PT.
“Tumben sekali dia ngomong. Punya mulut sekarang?” dari penjual jam tangan.
“Biasanya hanya diam. Matamu yang bicara. Mengintai seperti pemburu! Hati-hati… hati-hati…” sahut penjual kerudung. Semua tertawa kembali.
“Aku tidak mau lagi dipanggil Anjing! Kalian harus menghormati pilihanku. Perubahanku. Aku BB!”
“Diam kamu! Banyak sekali tingkah.” Aku didekati oleh petugas keamanan lantai empat yang khusus aksesori ini. Badannya pendek, penuh otot, dengan batu akik besar di jari tengah kanan.
“Baiklah, BB. Ini buat kamu!” Ia memukulku tiga kali pada bagian perut. Benar-benar sakit terasa. Bahkan membuat mual dan ingin muntah.
Tak ada pilihan lain. Aku harus lari. Kuambil ancang-ancang, namun tertebak. Langkah pertamaku berhasil dijegal. Aku terguling-guling sebelum dapat berdiri, kemudian berlari menuju lantai tiga. Tawa mereka yang tak henti mengantarkan kepergian kaki ini.
Aku menuruni tangga kembali untuk masuk lantai tiga, tempat yang dikhususkan untuk menjual barang-barang elektronik. Tak berbeda rupanya. Mereka yang melihatku lekas menjaga barang jualan dan berdiri tepat di samping display.
“Hei, Brengsek! Gara-gara kau temanku dipecat! Pembawa sial! Pembawa penyakit!” Seorang perempuan usia belasan yang menjaga mesin cuci melemparkan pernyataan itu padaku.
Aku ingin membela diri seperti sebelumnya, namun penjaga keamanan telah siap siaga. Aku tak mau masuk pada kesakitan yang sama.
“Oh, jadi karena Si Brengsek ini dia dipecat? Aku kira karena tidak mencapai target penjualan,” tanggap seorang penjaga ruko servis kipas angin.
“Ya, karena Si Brengsek ini kaca mesin cuci pecah. Dan kawanku harus mengganti jika ingin tetap bekerja. Dan kamu tahu sendiri berapa biaya ganti rugi, kan? Jelas tidak sepadan dengan upah yang kami terima.”
“Ah, Brengsek. Pergi jauh dari sini. Biang keladi kesialan.”
Dinamo kipas angin melayang, tepat menghantam ubun-ubun. Berdarah. Mengucur deras karena sobekan kulit yang lebar. Tak kuseka. Sepanjang langkah yang kupijak, samar bercampur warna merah.
Aku tak ambil hati sebab tidak merasa telah melakukan itu semua. Itu semua fitnah terhadap kedirian ini.
Aku pergi ke lantai dua yang diisi dengan para penjual kebutuhan rumah tangga. Ketika aku terlihat oleh mereka, tak jauh beda: berjaga dan waspada. Ada yang berdiri di depan display lemari, kitchen set, dan gorden.
“Sialan! Gara-gara kamu saya tidak naik jabatan!” seorang penjual kasur memprotes. Sapu panjang yang digunakan untuk membersihkan kotak empuk itu diarahkan padaku.
“Memangnya kenapa? Loh, kok bisa?” timpal penjual keramik lantai.
“Saat pembeli sedang duduk dan merasakan kenyamanan kasur, Sialan ini merobek plastik pada kasur, yang mana itu sama dengan membeli. Pembeli mengira aku dan Sialan ini bekerja sama. Oleh pembeli aku dilaporkan pada atasan. Dan kamu tahu risikonya apa? Nama baik jadi tercoreng. Puas kau! Aku selamanya cuma jadi pemberi brosur! Cita-cita jadi manajer pupus sudah!”
Sapu itu dipukulkan pada pundak ini agar menjauh dari tempatnya segera.
“Kalau begitu jangan sampai dia mendekati barang jualan kita. Kita cuma pekerja. Kalau kita tidak rapi, bakal dipecat!” masih penjual keramik.
“Betul!”
“Setuju!”
“Sialan! Jauh-jauh kau dari sini! Dari lantai ini!”
Ujaran itu serentak. Aku tidak tahu yang mana keluar dari mulut siapa.
Tongkat, sapu, dan alat yang tak kutahu namanya apa dipukulkan ke arah tubuh ini. Kaki lari terbirit. Dengan jejak yang masih merah.
Keinginanku untuk buang air besar sudah tidak ada lagi. Berganti dengan lapar yang tak bisa ditahan. Tidak ada pilihan lain. Tak punya uang. Tak bakal ada yang memberi makan. Tak ada yang percaya terhadap diri yang tak mengenal namanya lagi.
Oh, maafkan! Aku terpaksa melepaskan musuh kita dari ikatannya. Tangan Kanan (TK) gila. Gara-gara kau, semua orang di gedung ini murka padaku! Cuih! Aku meludahinya. TK menjawab dengan meliuk-liuk seperti ular yang terbebas dari pemangsa. Aku tahu maksudnya: walau aku jahat, kamu tak akan bisa hidup tanpa aku!
Di lantai satu sekarang aku berada, tempat menjual serba-serbi makanan. Serta-merta tanpa tedeng aling-aling, TK membawa seluruh tubuh. Mendominasi tanpa kompromi. Menghipnotis tanpa merelaksasi. Seperti biasa, TK tak bisa dihalau oleh organ lain, sekalipun oleh dua kaki yang tetap merah ini.
Tiga roti, dua jagung rebus, dan satu botol minum telah dalam pelukan sekarang. Aku berlari keluar Pasar Duo, mengarah pada Taman Presiden.
Tidak ada yang gratis. Kepergianku dari lantai satu ditimpuki dengan sayuran basi bahkan sampah basah.
Sesampainya di taman, TK langsung menyuapkan barang rampasan pada mulut. Belum habis semua —bahkan belum selesai mengunyah— aku dipukuli dari arah belakang pada bagian kepala yang masih mengeluarkan darah oleh tiga orang yang mengejarku tadi pagi. Aku pingsan sebentar dan saat terjaga mereka sudah tidak ada.
Aku habiskan lagi makanan yang tersisa. Dengan segala babak belur fisik dan metafisik.
Kenapa pula kamu selalu melakukan ini dan membuat diriku dalam bahaya? Woi TK, jawab! Kuperhatikan bentuknya: masih lebam dan tampak ada remukan. Tadi pagi aku memukul-mukulnya pada tembok pasar yang permukaannya tak rata agar dia kapok dan aku yang memegang kendali seluruh hidup ini.
Aku terus mencak-mencak padanya. TK masih bungkam.
Maafkan aku, ini merupakan pembalasan atas rasa susah mereka dan biar kamu tidak berulah lagi!
Tangan kiri memotong semua jari TK dengan golok milik petugas kebersihan taman.
“Mampus kamu! Mampus!”
TK mulai lemas dan tak banyak tingkah. Aku masukkan jari-jarinya ke dalam plastik roti, dan
kembali ke pasar dan memamerkannya pada setiap lantai.
TK sudah mati… TK sudah mati…
Apakah aku seseorang yang lain kini? (*)
Editor : Duito Susanto