Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ternyata Salah Ketik; Cerita Pendek Karya Sahari Nor Wakhid

Redaksi KP • Minggu, 12 April 2026 | 08:45 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Bagaimana bisa salah ketik berpengaruh terhadap hidup mati seseorang? Pertanyaan itu terus berdenyut di kepala Arga, seirama dengan detak jam dinding di ruang sidang yang terasa lebih keras dari biasanya. Waktu seakan dipaksa berhenti pada satu titik, pada siang yang pengap ketika nasib seseorang akan diputuskan.

Arga duduk di kursi terdakwa. Dadanya sesak seperti diimpit sesuatu yang tak terlihat. Tangannya saling menggenggam. Semua mata memandangnya dengan tafsir masing-masing. Di hadapannya, jaksa berdiri dengan map tebal yang tampak lebih berwibawa daripada dirinya sendiri. Arga merasa dirinya mengecil, seolah seluruh keberadaannya bisa ditentukan oleh angka-angka yang bahkan tidak ia pahami asal-usulnya.

“Saudara Arga, apakah ada yang ingin saudara sampaikan sebelum putusan dibacakan?” suara hakim terdengar datar, nyaris tanpa emosi.

Baca Juga: Darsim, Sebuah Cerita Pendek Karya Ali Mahfud

Arga mengangkat wajahnya perlahan. Ia ingin berbicara, tetapi kata-kata tertahan di tenggorokan. Pada saat itulah, ingatannya bergerak mundur. Ia kembali pada hari pertama menginjakkan kaki di sebuah desa, ketika semuanya masih sederhana dan belum menjadi perkara hukum.

Desa itu kecil, dengan jalanan tanah dan langit yang terlalu luas untuk dipandang sendirian. Ia datang dengan kamera di bahu, membawa keyakinan bahwa setiap tempat memiliki cerita yang layak direkam. Kepala desa menyambutnya dengan senyum yang tak pernah benar-benar ia mengerti.

“Kami ingin desa ini dikenal. Buatlah seindah mungkin,” kata kepala desa waktu itu.

Arga mengangguk, menerima pekerjaan itu tanpa banyak pertanyaan. Baginya, yang penting jelas. Satu paket video profil desa dengan nilai tiga puluh juta rupiah, angka yang menurutnya wajar untuk seluruh proses produksi dari awal hingga akhir. Ia tidak hanya mengerjakan satu desa, melainkan dua puluh desa, masing-masing dengan karakter, lanskap, dan cerita yang berbeda. Ia menganggapnya sebagai tantangan, sekaligus kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.

Hari-harinya dipenuhi oleh kerja yang nyaris tanpa jeda. Pagi-pagi ia sudah berada di sawah, menangkap cahaya pertama yang menyentuh daun padi. Siang hari ia merekam aktivitas warga, suara percakapan, dan gerak kehidupan yang mengalir tanpa dibuat-buat. Malamnya, ia duduk di depan layar, mengedit berjam-jam, menyusun warna, suara, dan ritme agar setiap video memiliki jiwa. Semua itu ia lakukan dengan keyakinan bahwa kerja keras akan selalu memiliki nilai.

Baca Juga: Di Huma-Huma Sepi, Cerita Pendek Karya Akhmadi Swadesa

Namun kini, semua itu seperti dipotong-potong menjadi angka yang kehilangan makna, disusun ulang menjadi sesuatu yang bahkan tidak ia kenali.

“Saudara Arga, berdasarkan fakta persidangan, proyek yang saudara kerjakan mencakup dua puluh desa dengan nilai tiga puluh juta rupiah per desa. Apakah saudara membenarkan hal tersebut?”

“Ya. Benar, tetapi biaya tersebut digunakan untuk keseluruhan proses produksi.”

“Namun berdasarkan perhitungan kami, terdapat selisih sekitar lima koma sembilan juta rupiah per video, yang kami bulatkan menjadi enam juta rupiah.”

Jaksa berhenti sejenak, memberi ruang pada angka itu untuk membentuk kesan yang ia inginkan.

“Sehingga total kerugian negara yang ditimbulkan mencapai dua ratus dua juta rupiah.”

Angka itu terasa berat, seolah memiliki kekuatan untuk menekan siapa pun yang mendengarnya. Bagi Arga, angka itu bukan sekadar jumlah, melainkan tuduhan yang mereduksi seluruh proses panjang menjadi selisih yang harus dipertanggungjawabkan.

“Selisih tersebut kami anggap sebagai mark-up, karena komponen biaya jasa kreatif seperti ide, konsep, editing, dan dubbing tidak memiliki nilai yang dapat dibuktikan secara riil.”

Arga terdiam, menatap lurus tanpa benar-benar melihat. Dalam pikirannya, satu per satu kenangan tentang proses kerja itu kembali muncul. Ia melihat dirinya di ruangan sempit dengan laptop yang menyala dalam gelap, mengulang adegan berkali-kali hanya untuk mendapatkan warna yang tepat.

Ia mengingat bagaimana ia memilih musik dengan hati-hati, merekam ulang suara narasi, dan memperbaiki detail kecil yang mungkin tidak akan pernah disadari orang lain. Semua itu nyata baginya. Tetapi di ruang sidang, semua itu lenyap karena tidak tercatat.

“Apakah saudara memiliki bukti penggunaan dana tersebut?”

“Sebagian besar digunakan untuk proses kreatif.”

“Namun, proses kreatif tidak memiliki nilai ekonomis yang dapat dihitung jika tidak didukung bukti tertulis.”

Kalimat itu jatuh seperti vonis yang lebih kejam daripada putusan itu sendiri. Tidak ada kuitansi untuk waktu, tidak ada bukti fisik untuk kelelahan, dan tidak ada angka yang mampu mewakili proses kreatif. Dalam satu kalimat, seluruh kerja itu dihapus, seolah tidak pernah ada.

“Sidang akan dilanjutkan dengan pembacaan putusan,” suara hakim mengembalikan pada kenyataan pahit yang sedang dihadapi Arga.

Hakim membuka berkas terakhir. Suara yang terdengar datar itu kembali memenuhi ruangan, membawa seluruh proses panjang menuju satu kesimpulan yang tak bisa ditunda.

“Setelah mempertimbangkan seluruh fakta persidangan, ditemukan bahwa perhitungan kerugian negara tidak mempertimbangkan komponen biaya jasa kreatif sebagai bagian dari proses produksi.”

Ruangan itu hening. Semua orang menunggu.

“Selain itu, terdapat kekeliruan administratif dalam pencatatan laporan keuangan, yaitu salah ketik dalam rekapitulasi perhitungan total anggaran.”

Kata itu kembali muncul, ringan, nyaris tanpa beban. ‘Salah ketik’.

“Sehingga angka kerugian negara sebesar dua ratus dua juta rupiah tidak memiliki dasar yang kuat. Dengan demikian, terdakwa dinyatakan tidak bersalah.”

Palu diketukkan. Segalanya selesai begitu saja. Cepat, ringan, hampir seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Arga tetap berdiri di tempatnya, mencoba memahami bagaimana sesuatu yang begitu rumit bisa berakhir dengan penjelasan yang begitu sederhana.

Untuk pertama kalinya, Arga tidak merasa marah. Ia melihat sesuatu dengan lebih jelas. Masalahnya bukan sekadar angka tiga puluh juta, bukan pula selisih enam juta per video, bahkan bukan dua ratus dua juta yang dituduhkan. Masalahnya adalah cara berpikir yang sejak awal sudah keliru, cara melihat yang mengabaikan proses dan hanya mempercayai apa yang tertulis.

Dalam satu kilasan terakhir, ia teringat percakapan warga desa tentang uang tambahan agar urusan dipercepat, tentang biaya yang tidak pernah masuk laporan, tentang praktik yang dianggap biasa karena semua orang melakukannya. Dari situ, semuanya terasa utuh, seperti potongan-potongan yang akhirnya menemukan tempatnya.

Pemberantasan korupsi selama ini terlalu sibuk menghitung kerugian negara, angka-angka yang tampak di atas kertas, tanpa benar-benar menyentuh mekanisme tersembunyi yang bisa dimanipulasi. Padahal, yang paling merusak bukan angka yang hilang, melainkan praktik suap dan pemerasan yang terus berlangsung tanpa pernah benar-benar diadili.

“Ternyata salah ketik,” ucap Arga sambil melangkah keluar dari ruang sidang.

Matahari masih menggantung di tempat yang sama. Ia menggenggam kameranya lebih erat, merasakan dinginnya logam itu sebagai sesuatu yang nyata di tengah segala absurditas yang baru saja ia alami. Kini ia tahu, yang harus direkam bukan lagi keindahan yang tampak, melainkan kebenaran yang selama ini sengaja tidak dihitung. (dwi)

 

Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 11 buku solo dan 56 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Di Antara Sampiran dan Isi (Kumpulan Puisi, 2026). Bisa dikontak melalui Instagram @saharienwe

Editor : Duito Susanto
#ternyata salah ketik #kritik hukum #cerita pendek #Sahari nor wakhid #kaltim post