Sore Bersama Pacer

Redaksi KP • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 08:38 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Cerita Pendek Karya Fajar Djafri

“Le, ayo segera daftar!” desak Laras kesal. Ia melirik ke arah Legi yang duduk tidak jauh darinya. Bukannya melakukan pendinginan usai berlari bersama menjajaki lintasan joging, Legi malah mengeluarkan ponsel. Tangan dan matanya bersiap memainkan Mobile Legends. Ia rupanya sudah janjian dengan Rian, sohibnya, melalui sambungan daring.

Sembari menunggu game dimulai, Legi membuka botol minuman dan meneguknya beberapa kali hingga tersisa setengah. Keringat mengucur deras dari pori-pori kulit tangan, tengkuk, dan dahinya, membuat jersey yang ia kenakan basah dan lengket di badan.

Di ujung saluran, Rian sudah menanti. Suaranya terdengar jelas, mengarahkan Legi untuk segera beraksi.

“Jangan lari terus, tuh minion lagi tersebar di mana-mana, Le!”

"Rian, bersihkan minion-nya aja, fokus minion! Jangan pedulikan hero musuh!" teriak Legi panik. Matanya fokus pada layar ponsel dan kedua jempolnya bergerak lincah di atas layar.

Baca Juga: Para Pencari Raungan Keadilan; Cerita Pendek Karya Wahdi Anwar

"Nggak sempat, Le... MM mereka bebas nembak menara utama... kalah kita," suara Rian meninggi, terdengar jelas di kuping Laras. Penasaran, Laras pun melirik lewat ekor matanya.

"Yah, defeat. Kena epic comeback kan. Padahal di awal game kita sudah menang banyak," umpat Legi kesal. Raut wajahnya memerah dan dengus napasnya terdengar jelas. Ia meneguk kembali sisa air di botolnya hingga tandas.

“Sudah selesai mainnya?” protes Laras sewot. Permintaannya agar Legi segera mendaftar sama sekali tidak digubris.

“Iya, besok saja. Toh ini masih hari pertama registrasi. Santai dulu,” kata Legi sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. Acuh.

“Apa susahnya sih daftar sekarang? Mumpung jaringan masih bersahabat dan belum banyak peserta yang mengantre,” tegas Laras gemas. Rasanya ia hendak merebut gawai Legi, tetapi Legi lebih gesit dan berhasil menyembunyikannya ke dalam saku celana.

“Itu bedanya pelari baru (newbie) dengan pelari senior. Mudah panik dan takut tidak kebagian kuota,” cibir Legi sambil mencolek pundak Laras iseng.

“Lebih cepat lebih baik. Jadi mulai besok sudah bisa menyusun jadwal program lari untuk sepuluh kilometer,” ujar Laras sambil mengangkat bahu. Ia lalu beranjak karena sore sudah mendekati senja.

“Ras, kok pilihannya sepuluh kilometer?” Legi mengejar langkah Laras menuju tempat parkir kendaraan.

“Lho, kenapa? Takut, khawatir, atau tidak percaya?” balas Laras yakin sambil berkacak pinggang.

Baca Juga: Dalam Bayang Universitas

“Nggak, sih. Kita latihan bareng, ya. Saya adalah pacer-mu (penjaga ritme lari),” tawar Legi malu-malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Laras tidak menggubris tawaran Legi. Ia terus saja berjalan menjauh, meninggalkan Legi yang hanya bisa mematung.

***

Malam hari, Laras meraih ponselnya dan segera membuka tautan pendaftaran peserta ajang lari terakbar di Balikpapan yang akan digelar Oktober ini. Hari ini adalah hari kedua registrasi, dan peserta mendaftar secara daring. Prosesnya mudah, tidak sampai lima menit. ia selesai memasukkan identitas, QR code registrasi langsung masuk ke surelnya. Laras pun tersenyum semringah.

Ajang lari terbesar di Balikpapan ini sukses menyita perhatian para pelari. Bukan saja dari kota-kota besar di Kalimantan Timur, melainkan peserta dari luar provinsi pun antusias. Selain hadiahnya yang fantastis, ajang ini menjadi sarana silaturahmi antardaerah sebagai wadah reuni dan tatap muka. Laras mendadak melompat ke Oktober nanti. Ia bisa membayangkan betapa meriahnya atmosfer Balikpapan saat ajang lari akbar itu resmi dimulai.

Dalam benaknya, Stadion Batakan akan berubah menjadi lautan manusia. Koridor stadion bakal dipadati deretan tenant UMKM yang sibuk memamerkan aneka produk khas lokal. Pusat-pusat kuliner pasti akan panen omzet, diserbu para pelari dari luar daerah yang sibuk berburu makanan untuk agenda carbo-loading menjelang hari perlombaan.

Laras juga membayangkan betapa penuhnya hotel-hotel di tengah kota oleh kedatangan ribuan pelari dari luar provinsi. Di sepanjang lintasan nanti, suasana pasti akan riuh oleh ribuan orang yang sibuk menyelaraskan aplikasi di jam tangan pintar mereka, melakukan live streaming, atau sekadar merekam video singkat untuk merayakan garis finis—sebuah momen selebrasi massal yang pasti akan membuat jaringan internet di sekitar stadion dipaksa bekerja ekstra keras. Semua kemeriahan itulah yang membuat registrasi hari pertama ini begitu krusial.

“Ras, kok tautan registrasinya tidak bisa diakses, ya?” Notifikasi pesan singkat dari Legi masuk ke ponsel Laras semenit lalu. Karena tidak ada respons, Legi langsung mengalihkan pesan ke panggilan telepon.

“Ah yang benar?” jawab Laras dengan suara serak. Ia menggeliat, terbangun oleh panggilan telepon di subuh buta. Laras melirik jam digital di bagian atas layar ponselnya. Pukul 05.30 pagi.

“Iya, sejak jam lima subuh tadi kucoba tapi gagal terus. Kayaknya jaringannya putus,” umpat Legi memelas. “Kenapa ya? Apa operatornya belum bangun, seperti dirimu?”

“Memangnya satpam kantor?” kilah Laras sambil menguap.

“Tolong dong, Ras. Aku lagi semangat mau registrasi mumpung masih ingat. Kamu kan ahli di bidang jaringan,” todong Legi sedikit memaksa.

“Nah, sekarang faktanya terbalik. Siapa yang panik dan takut tidak kebagian kuota?” cibir Laras, masih ingat olokan Legi kemarin sore. Legi tidak menjawab dan langsung mematikan sambungan telepon.

Laras memilih mengerjakan salat Subuh terlebih dahulu sebelum meluluskan permintaan Legi. Usai salat, ia melepaskan mukena lalu meraih ponselnya. Segera membuka peramban dan mencoba mengakses sendiri tautan pendaftaran tersebut. Halaman putih bersih berputar lama sekali di layarnya, sebelum akhirnya memunculkan tulisan “connection timeout”.

Laras menghela napas. Lalu mulai berasumsi; jam setengah enam subuh adalah waktu senggang, tetapi karena ini hari ketiga pendaftaran, ribuan pelari dari Samarinda, Bontang, Kutai Kartanegara, bahkan luar pulau tampaknya punya pikiran yang sama dengan Legi. Mereka menyerbu situs secara serentak sejak subuh buta. Komputer server panitia kolaps karena tidak kuat menampung limpahan data pendaftar yang masuk bersamaan.

Laras memeriksa media sosial yang sudah gaduh. Tangkapan layar berupa pesan eror situs pendaftaran berseliweran di dunia maya. Kolom komentar akun resmi panitia penuh dengan keluhan, protes, hingga sindiran dari para pelari yang gagal masuk ke sistem.

“Tim teknis kami sedang bekerja cepat memperbaiki sistem agar pendaftaran bisa segera diakses kembali. Pantau terus media sosial resmi kami untuk mendapatkan informasi jadwal pembukaan terbaru.”

“Gimana, sudah bisa dibuka?” suara Legi kembali terdengar di telepon satu jam kemudian. Nada suaranya kini terdengar cemas, kehilangan sisa-sisa kesombongan kemarin sore.

“Nihil, Le. Server-nya tumbang. Tunggu saja informasi panitia,” jawab Laras pendek sembari meletakkan ponselnya di meja.

***

Dua hari berselang, lintasan joging Stadion Batakan tampak ramai. Laras tidak lagi memikirkan tautan registrasi ataupun transaksi pembayaran. Ia fokus menjalankan jadwal lari ketahanan (endurance) untuk menjaga stamina sejauh sepuluh kilometer.

Demikian juga dengan Legi. Ia perlahan mulai mengikuti anjuran Laras dan menyampingkan egonya sebagai pelari senior. Hari ini ia datang tepat waktu, serta mau melakukan pemanasan dan peregangan pascalari. Pagi tadi mereka memang sudah janjian untuk latihan bersama. Tautan registrasi sudah pulih dan ia sukses mendaftar.

“Ras, aku minta maaf ya dan terima kasih yah,” ucap Legi menunduk sambil tersenyum malu-malu. Ia melihatkan QR registrasinya.

“Kenapa? Lebaran masih jauh, Le,” hibur Laras sambil mengernyitkan alis. Usai pemanasan, Laras segera berlari mendahului Legi.

“Ras, tunggu! Aku kan pacer-mu. Tidak bisa langsung ditinggal begitu saja,” ujar Legi mengejar langkah Laras dari belakang.

“Pacer itu bukan cuma mendampingi, tetapi juga harus mau mendengarkan masukan pelarinya,” sahut Laras menoleh ke arah Legi yang kini berada di sampingnya.

“Iya, aku tidak menyoalkan registrasi lagi sekarang. Yang penting, sore ini aku bisa latihan bersamamu,” imbuh Legi mengacungkan jempol sambil menyejajarkan ayunan langkahnya dengan Laras.

“Oke, selamat sore pacer-ku,” lirih Laras menyunggingkan senyum. (*)

 

*)Penulis adalah ASN BPBD Kota Balikpapan.

*)Redaksi memberi ruang berekspresi bagi para penulis dalam bentuk cerita pendek, cerita bersambung, atau karya puisi. Redaksi tidak mentoleransi segala bentuk pelanggaran etika penulisan, termasuk plagiarisme.

Editor : Duito Susanto
fajar djafri muhammad fajar komunitas lari cerita pendek stadion batakan