KALTIMPOST.ID – Hampir bersamaan dua anak perempuan keluar dari rumahnya masing-masing, berjalan menuju pertigaan ke arah waduk. Setiap Minggu keduanya selalu bertemu di tepi waduk, mengobrolkan banyak hal.
Anak perempuan pertama suka berbicara tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi saat libur semester. Anak perempuan yang satunya suka berbicara tentang koleksi komik bekas yang dibeli di pasar loak. Keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Yang satu di sekolah swasta favorit, yang satunya lagi negeri.
Baca Juga: Hari-Hari Ungu Kembang Perawan
Saat keduanya tiba di tepi waduk, tak ada satu pun yang mulai berbicara. Mereka hanya duduk manis sembari memandang ke arah waduk. Air yang tenang seperti kaca membuat keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Tak lama angin bertiup pelan membuat hamparan ilalang menari-nari mengikuti irama. Mereka menikmatinya, tak ada wajah yang lebih berseri dari wajah kedua anak perempuan itu.
“Puput, hari ini bekal sekolahmu apa?” tanya Alila.
“Nasi putih hangat dan tahu kecap yang dipotong dadu menjadi delapan belas bagian. Rasanya enak.”
Puput tersenyum, matanya tak lepas dari waduk.
“Isi bekalku sushi, dipesan langsung dari resto Jepang. Tadi minumnya cuma susu kotak. Lama-lama aku bosan minum susu kotak terus, besok mau bawa jus mangga aja.” Alila mengeluarkan iPad-nya. Ada gambar apel setengah tergigit di bagian belakang.
Layar perangkat itu menyala, menampilkan deretan berita yang berganti hampir setiap menit. Salah satu yang menarik perhatian Alila adalah kasus keracunan MBG yang terjadi di sekolahnya. Semakin ia menggulir ke bawah, semakin banyak media yang menyebutkan nama sekolahnya. Ia kemudian membaca salah satu berita.
Puluhan siswa dari sekolah swasta dilaporkan mengalami keracunan setelah menyantap makan siang bergizi gratis. Pemerintah daerah bergerak cepat. Wali kota langsung turun tangan mengusut tuntas masalah tersebut, ada satu SPPG yang kini berhenti beroperasi.
Alila selesai membaca. Ia keluar dari situs berita dan membuka aplikasi hijau. Di sana ia menuliskan status singkat. ‘Terima kasih karena sudah mau bersuara’.
“Put, barusan aku baca berita loh. Kasus keracunan di sekolahku sudah diusut tuntas sama wali kota. Senang deh karena ada yang mau bersuara,” Alila tersenyum bangga.
“Aneh ya,” Puput tersenyum sinis.
“Aneh kenapa?” kening Alila mengernyit.
“Bulan lalu sekolahku juga keracunan MBG. Beritanya cuma sekilas, setelah itu hilang. Waktu sekolahmu keracunan beritanya viral dan wali kota langsung turun tangan,” Puput memandang Alila lekat.
Baca Juga: Sore Bersama Pacer
“Mungkin karena jumlah korban di sekolahku lebih banyak.”
“Tapi kan kami juga anak sekolah. Apa harus tunggu korbannya banyak dulu baru bisa disuarakan?”
Alila diam. Dia kembali mengecek situs berita. Dari sekian banyaknya media yang meliput kasus keracunan di sekolahnya, ia hanya menemukan satu berita yang benar-benar fokus membahas kasus keracunan di sekolah Puput.
Belasan siswa dan guru di sekolah negeri mengalami gejala mual, muntah-muntah, hingga diare setelah menyantap menu makan siang bergizi gratis. Pihak sekolah berhenti menerima MBG dan meminta siswa untuk membawa bekal dari rumah masing-masing.
Alila membaca sampai akhir. Ia lalu melihat Puput sekilas kemudian beralih melihat jam tangannya. “Sudah jam segini, kita balik yuk Put. Aku ada les Bahasa Inggris,” ajak Alila.
Puput tersenyum. “Oke. Minggu depan kita ketemuan di sini lagi ya.”
Alila mengangguk. Ia memasukkan iPad ke tas lalu memakainya di punggung. Keduanya berjalan beriringan lalu berpisah di pertigaan, pulang ke rumahnya masing-masing. Yang satu pulang ke rumah besar dengan halaman yang luas. Sementara yang satu lagi pulang ke rumahnya yang berdinding papan.
Saat Puput membuka pintu rumahnya. Ia melihat bapak dan ibunya duduk di meja makan. Di sana sudah tersaji nasi hangat, sayur bening, ikan asin dan sambal matah. Sederhana, tapi nikmat.
Puput duduk pelan. Ia mulai makan. Suasana di meja makan awalnya hening sampai bapak mulai berbicara. “Bu, maaf ya bapak masih belum dapat kerjaan.”
“Gak papa pak. Ibu kan juga masih kerja jadi masih bisa bantu-bantu ekonomi,” kata ibu.
Baca Juga: Para Pencari Raungan Keadilan; Cerita Pendek Karya Wahdi Anwar
“Tapi kan ibu cuma guru honorer dan penghasilannya juga gak seberapa. Nanti bapak bakal berusaha lebih keras lagi cari kerja biar ada tambahan.”
Puput diam. Ia buru-buru menghabiskan makanannya lalu masuk ke kamar. Di meja belajarnya ia duduk termenung. Lama-lama pikirannya melayang memikirkan nasibnya ke depan. Baru-baru ini bapaknya memang kena PHK, katanya sih untuk efisiensi anggaran. Sementara ibunya, hanya seorang guru SMP, honorer. Gajinya imut, tapi harus cukup sampai sebulan.
“Di sekolah anak dapat makanan gratis, di tempat kerja orang tua kena PHK.” Puput menghela napas panjang, ia membuka buku pelajarannya. “Sekarang makanan gratis sudah gak ada, apa kerjaan bapakku bisa dikembalikan?” (dwi)
*)Bella Sapitri. Kelahiran Bontang, Kalimantan Timur. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman. Sangat suka menulis semenjak duduk di bangku SMA dan telah menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan melalui platform kepenulisan online.
*)Redaksi memberi ruang berekspresi bagi para penulis dalam bentuk cerita pendek, cerita bersambung, atau karya puisi. Redaksi tidak menoleransi segala bentuk pelanggaran etika penulisan, termasuk plagiarisme.
Editor : Duito Susanto