KALTIMPOST.ID-Dunia hiburan tanah air berduka atas kepergian artis dan penyanyi legendaris, Titiek Puspa, yang meninggal pada Kamis, 10 April 2025.
Titiek Puspa sempat dirawat intensif selama sekitar dua pekan karena mengalami pendarahan otak yang serius.
Di usia senjanya, Titiek Puspa memang sempat diserang beberapa penyakit. Sebelumnya ia juga sempat dikabarkan mengidap kanker leher rahim atau serviks pada 2011 atau saat akan beranjak usia 73 tahun.
Tidak ringan, pelantun lagu Kupu-Kupu Malam itu divonis mengidap kanker serviks stadium lanjut.
Namun siapa sangka, di balik diagnosis yang menakutkan itu, tersimpan kisah keajaiban yang mengubah hidupnya selamanya.
Berawal dari kondisi fisik yang memburuk—berat badan naik 15 kilogram, tubuh membengkak, dan kesulitan buang air besar—Titiek menjalani perawatan intensif di Singapura. Namun setelah dua setengah bulan menjalani pengobatan yang melelahkan, ia sempat menyerah.
“Saya bilang ke Tuhan, saya sudah nggak kuat. Kalau mau ambil, silakan. Tapi kalau masih bisa sembuh, tolong kasih isyarat,” kenangnya.
Tak lama kemudian, ia pulang ke Jakarta—keputusan yang ditentang anak dan tim medisnya. Di tanah air, ia dikenalkan pada metode meditasi oleh seorang sahabat anaknya.
Ia pun menjalani meditasi intensif selama 13 hari, masing-masing 10 jam sehari.
Hari-hari penuh rasa sakit ia lewati dengan pasrah, hingga pada hari terakhir meditasi, ia merasa seperti dibawa terbang dan merasakan ketenangan luar biasa.
Usai meditasi, tubuhnya terasa ringan. Rasa sakit yang dulu membelenggu tubuhnya menghilang. Saat kembali diperiksa di Singapura, tim dokter terkejut karena seluruh sel kanker di tubuhnya dinyatakan bersih.
“Bagian kemoterapi bilang clean. Dokter sinar bilang clean. Semua bagian clean. Mereka bilang, ini mukjizat,” kata Eyang, sapaan akrab Titiek.
Kini, lebih dari satu dekade sejak divonis kanker, Titiek Puspa masih aktif berkarya. Ia merasa punya “hutang hidup” yang harus dibayar kepada Tuhan.
Ia pun mencurahkan hidupnya untuk mendidik generasi muda lewat musik, membentuk grup anak-anak "Duta Cinta" sebagai bentuk kontribusinya bagi masa depan bangsa.
“Kalau Tuhan kasih saya kesempatan hidup, berarti saya harus berbuat. Saya nggak boleh diam,” tuturnya dengan mata berbinar.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko