KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Institut Teknologi Kalimantan (ITK) baru saja melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pelatihan Digitalisasi dan Inovasi Produk Batik untuk Meningkatkan Daya Saing Ekonomi Kreatif IKN”.
Dengan menyasar belasan pembatik, kegiatan itu dimulai sejak Juni dan diketuai oleh dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) ITK Hesti Rosita Dwi Putri. Dengan anggota tim Eko Agung Syaputra (Dosen DKV ITK) dan Arini Anestesia Purba (Dosen Teknik Industri ITK).
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa DKV ITK yaitu Shopy Farras Khairunnisa, Muhammad Rizqi, Kanaya Anada Lukito, dan Arishty Cicilia Calista Senduk.
Hesti Rosita menjelaskan, program pengabdian ini didanai oleh BIMA Kemenristekdikti melalui skema Program Kemitraan Masyarakat tahun 2025.
Menurutnya, ekonomi kreatif memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dalam memanfaatkan potensi daerah dan sumber daya manusia yang kreatif serta terampil. Salah satu sektor yang berkontribusi besar adalah industri kriya dan kerajinan, termasuk batik. Di mana di era digital, pemanfaatan teknologi dan artificial intelligence (AI) menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing industri kreatif.
Dalam pelatihan ini, pihaknya bekerjasama dengan komunitas Batik Tiga Zaman di Kelurahan Batu Ampar yang beranggotakan 14 perajin di bawah pimpinan Oki Hendro Julianto.
“Komunitas ini telah menghasilkan berbagai jenis batik seperti batik tulis, cap, dan sablon. Pemerintah setempat juga memberikan bantuan berupa mesin CNC klowong batik untuk mendukung proses produksi, namun pemanfaatannya belum optimal karena keterbatasan kemampuan perajin dalam desain digital,” ujar Hesti.
Selain itu, sebagian besar produk masih dijual dalam bentuk kain batik lembaran dan transaksi daring melalui platform e-commerce masih minim.
Dengan kondisi tersebut, tim ITK merancang pelatihan digitalisasi dan inovasi produk batik untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, kreativitas desain, dan pemasaran digital. Program ini juga mendukung SDGs poin 8 dan 9 serta Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, sekaligus melibatkan mahasiswa dalam skema Pendidikan Luar Prodi (PLP).
Kegiatan yang di pusatkan di Batik Shaho itu, tambah Hesti digelar dalam beberapa tahapan, antara lain pembukaan dan pemaparan program pada 24 Juni 2025 yang diikuti 14 perajin dari Balikpapan dan Penajam Paser Utara, pelatihan pembuatan desain batik menggunakan Generative AI pada 25 Juni 2025.
Pelatihan desain digital menggunakan CorelDRAW dan Adobe Illustrator pada 26 Juni 2025, serta pelatihan inovasi produk batik pada 26–28 Juli 2025.
Selanjutnya dilaksanakan pelatihan foto produk pada 12 Oktober 2025, sosialisasi e-commerce untuk membantu perajin membuat akun Shopee dan mengunggah produk, serta kegiatan penutupan dan serah terima hasil pelatihan.
Owner Batik Zahro Iin Endah Prianti didampingi Owner Batik Pulau Sayang PPU, Ida Tuti Rusintan yang merupakan peserta mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada ITK karena telah menggelar pelatihan tersebut. “Kami sangat bersyukur karena ilmu yang didapatkan banyak. Khususnya terkait materi digital marketing dengan menggunakan AI yang sangat bermanfaat untuk kami berpromosi nantinya,” ujar Iin Endah.
Ia menyebut, masalah yang selalu menghantui para perajin adalah perkembangan dunia digital saat ini, untuk itu UMKM dipaksa melek teknologi. “Dengan adanya bantuan pelatihan menggunakan AI, selain dapat menghemat tenaga tentunya biaya, baik dari model, fotografer hingga promosi,” ujarnya.
“Dulu kami harus memutar otak untuk bisa mendesain manual namun dengan adanya pelatihan ini, kami bisa jauh lebih mudah dan cepat diaplikasikan. Dan setelah hasilnya jadi kita juga diajarkan untuk foto produk dengan model yang disediakan oleh ITK,” tambah Ida Tuti.
Ia menyebut keikutsertaannya di Balikpapan tentunya merupakan peluang besar untuk mengembangkan usahanya kelak. “Ini begitu bermanfaat bagi saya, karena dari pelatihan ini kita juga diajarkan untuk berinovasi mengembangkan motif serta berlatih menjahit hingga produknya jadi,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, para perajin berhasil menghasilkan beragam produk inovatif yang telah dipamerkan dalam berbagai kegiatan dan sebagian telah terjual. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat posisi batik lokal di pasar global, sekaligus menjadi langkah nyata dalam pengembangan industri kreatif berbasis budaya di kawasan IKN. (*)
Editor : Ismet Rifani