KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Institut Teknologi Kalimantan (ITK) kembali menunjukkan kiprahnya dalam pemberdayaan masyarakat melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat 2025. Tahun ini, ITK mendampingi Kelompok Swadaya Mentari di KM 21, Perumahan Mentari Village, Balikpapan Utara—wilayah yang tengah menghadapi persoalan serius terkait pengelolaan sampah seiring meningkatnya jumlah penduduk.
Program yang dipimpin oleh Muhammad Azka SSi, MSc ini melibatkan dosen dan mahasiswa lintas prodi dari Ilmu Aktuaria, Teknologi Pangan, hingga Teknik Lingkungan. Mereka hadir untuk membantu warga memperkuat kembali sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang selama ini belum berjalan optimal akibat minimnya fasilitas TPS, ketidakstabilan jadwal pengangkutan sampah, serta pemilahan sampah yang belum tertata.
Melalui program ini, ITK membangun berbagai fasilitas pendukung, seperti kanopi TPS, buku tabungan sampah, hingga penyusunan SOP pemilahan sampah. Tak hanya itu, ITK juga memperkenalkan komposter pintar yang mampu mengolah sampah organik menjadi pupuk cair, sehingga selain mengurangi residu, warga juga memperoleh nilai tambah ekonomi dari hasil pengolahannya.
Azka menyampaikan, tidak hanya fokus pada lingkungan, ITK turut mengembangkan kemampuan ekonomi warga melalui pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kelompok Swadaya Mentari sebenarnya telah memproduksi olahan herbal, namun variasi produk masih terbatas.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim ITK memberikan pelatihan diversifikasi produk, mulai dari rempah kering, empon-empon, manisan herbal hingga pelatihan penggunaan food dehydrator dan teknik pengemasan modern seperti Modified Atmosphere Packaging (MAP). Teknologi ini membuat produk lebih tahan lama, higienis, dan kompetitif untuk dipasarkan.
“Untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan, ITK juga mendampingi pembentukan pra-koperasi sebagai wadah ekonomi sirkular masyarakat. Melalui koperasi ini, warga dapat mengatur produksi, pemasaran, permodalan sederhana, dan mengelola sistem tabungan sampah yang dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi dalam pembelian produk,” ucapnya.
Konsep ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan warga sekaligus memperkuat solidaritas dan kemandirian Kelompok Swadaya Mentari.
Seluruh rangkaian kegiatan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kemendikting Sains dan Teknologi melalui skema PkM 2025.
Program ini juga menjadi bagian dari capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) ITK dengan melibatkan mahasiswa sebagai pelaksana aktif di lapangan.
Dengan menggabungkan teknologi, inovasi lokal, dan pemberdayaan berbasis komunitas, ITK berharap program ini menjadi model pemberdayaan berkelanjutan yang dapat direplikasi di kawasan lain di Balikpapan maupun Kalimantan Timur.
Program ini bukan hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat KM 21—mengubah tantangan lingkungan menjadi gerbang menuju kemandirian. (*)
Editor : Ismet Rifani