Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Sinar Surya Jadi Listrik untuk Petani, Inovasi Mahasiswa ITK untuk Petani Sungai Merdeka Samboja

Maria Irham • Selasa, 23 Desember 2025 | 18:39 WIB
INOVATIF: Mahasiswa ITK saat berada di Desa Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara
INOVATIF: Mahasiswa ITK saat berada di Desa Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara

KALTIMPOST.ID, SAMBOJA - Keterbatasan akses listrik di lahan pertanian seringkali menjadi hambatan utama bagi produktivitas petani di Kalimantan Timur. Menjawab tantangan tersebut, sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan meluncurkan inovasi sosial berupa purwarupa pengisian daya berbasis energi surya off-grid (mandiri) yang dirancang khusus untuk kondisi iklim tropis.

Program kegiatan yang didanai oleh Pengmas BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Direktorat Penelitian  dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2025 ini dilaksanakan di Desa Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara ini merupakan kolaborasi lintas disiplin ilmu dari Program Studi Teknik Elektro, Teknik Kimia, dan Teknik Sipil ITK.

Solusi untuk Tantangan Lokasi Ketua Tim, Rayna Maryam Aulia, menjelaskan bahwa ide ini lahir dari permasalahan nyata di lapangan. Para petani di Desa Sungai Merdeka Samboja kerap kesulitan mengoperasikan alat pertanian modern karena tidak adanya jaringan listrik PLN di area sawah, serta risiko banjir yang kerap melanda wilayah tersebut.

"Berdasarkan survei kami, area ini memiliki risiko genangan air hingga 70 cm saat hujan deras. Oleh karena itu, kami merancang struktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kaki penyangga setinggi 80 cm agar komponen listrik tetap aman dari banjir," ujar Rayna.

Uniknya, alat ini tidak ditanam permanen secara kaku, melainkan berupa rangka yang “diletakkan” pada permukaan tanah. Hal ini membuat pengguna dapat memindahkan stasiun daya ini sesuai titik kebutuhan akan akses listrik.

Teknologi canggih yang digunakan pada sistem yang dibangun tidak main-main, Tim ITK menggunakan panel surya berkapasitas 555 Wp yang terbukti optimal menyerap sinar matahari tropis, dipadukan dengan inverter 6.2 kW dan baterai penyimpanan energi. Dengan alat ini, petani dapat mengoperasikan mesin penggiling padi elektrik dan penyemprot hama tanpa perlu membeli bensin untuk genset, yang selama ini membebani biaya operasional.

 "Sistem ini bersifat off-grid, artinya berdiri sendiri tanpa bergantung kabel PLN. Kami juga menyematkan teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan kondisi baterai dan daya secara real-time melalui website, sehingga perawatan menjadi lebih mudah," tambah anggota tim lainnya.

Dukungan penuh warga dan mitra kehadiran teknologi ini disambut antusias oleh warga setempat. Bagus, mitra petani di RT 11 Sungai Merdeka, mengungkapkan bahwa alat ini sangat membantu efisiensi kerja.

Photo
Photo

 Berdasarkan hasil uji coba dan sosialisasi, 100% warga yang terlibat menyatakan bahwa teknologi ini penting dan bermanfaat bagi kemajuan desa. Keberadaan alat ini dinilai mampu menjamin ketersediaan energi saat jaringan listrik konvensional tidak menjangkau lahan mereka.

Kolaborasi nyata akademisi dan industri kesuksesan program ini tidak lepas dari bimbingan dosen Happy Aprillia PhD., serta dukungan pendanaan dan material dari mitra industri, CV. Borneo Energy Harapan (BEH).

Kolaborasi ini membuktikan bahwa riset kampus dapat di hilirisasi menjadi produk yang berdampak langsung bagi ekonomi kerakyatan di sekitar wilayah penyangga IKN.

 Tim mahasiswa yang terdiri dari Rayna Maryam Aulia, Muhammad Iskandar Yusuf, Firdaus Abrur Haqqi, dan Achmad Daffa Raihan Faizah berharap inovasi ini dapat direplikasi ke desa-desa lain di Kalimantan Timur yang memiliki tantangan serupa.

 "Harapan kami, ini menjadi langkah awal menuju kemandirian energi bagi petani kita. Matahari di Kalimantan sangat terik, sayang jika tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan warga," tutup Rayna. (*)

Editor : Ismet Rifani
#ITK Balikpapan #energi surya off grid #listrik untuk petani samboja