KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Harapan warga Balikpapan Barat untuk mendapatkan akses layanan kesehatan ibu dan anak yang lebih dekat masih harus tertunda. Pembangunan Rumah Sakit (RS) Sayang Ibu yang sejak awal dirancang memperkuat layanan kesehatan masyarakat hingga kini belum dapat dimanfaatkan, lantaran proyeknya terhenti pada progres fisik sekitar 17 persen.
Terhentinya pembangunan rumah sakit ini membuat sebagian warga Balikpapan Barat masih harus mengakses layanan kesehatan ke wilayah lain. Padahal, RS Sayang Ibu diharapkan menjadi solusi pemerataan layanan kesehatan, khususnya bagi ibu dan anak, di kawasan Balikpapan Barat.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Gasali mengungkapkan bahwa penghentian proyek disebabkan persoalan serius pada pihak kontraktor pelaksana. Kinerja kontraktor dinilai tidak memenuhi ketentuan yang telah disepakati.
“Karena kinerja kontraktor tidak memenuhi ketentuan, kontraknya diputus dan perusahaan tersebut masuk daftar hitam,” ujar Gasali, Selasa (3/2).
Menurutnya, secara fisik pembangunan baru mencapai sekitar 17 persen. Meski perencanaan proyek telah disusun sesuai regulasi, kendala teknis di lapangan membuat kelanjutan pembangunan tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Saat ini, seluruh tahapan lanjutan proyek masih menunggu penyelesaian pemeriksaan, termasuk audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hasil audit tersebut akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk kembali mengusulkan anggaran pembangunan.
“Hasil pemeriksaan ini menjadi dasar pengusulan anggaran kembali,” jelas Gasali.
DPRD menegaskan, pembangunan RS Sayang Ibu tidak dapat dilanjutkan tanpa melalui prosedur yang berlaku. Mengingat kontrak sebelumnya telah diputus, proyek wajib melalui proses lelang ulang sesuai ketentuan pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Jika seluruh proses administrasi dan penganggaran berjalan lancar, DPRD bersama pemerintah daerah menargetkan pembangunan RS Sayang Ibu dapat kembali dilanjutkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada 2027.
Selain progres fisik, DPRD juga menaruh perhatian serius pada aspek akuntabilitas keuangan proyek. Dari total realisasi anggaran yang terserap sekitar 17,1 persen, masih terdapat sisa dana lebih dari dua persen yang wajib dikembalikan oleh kontraktor.
“Pengembalian dana ini bagian dari menjaga keuangan daerah tetap tertib dan transparan,” tegas Gasali.
Bagi warga Balikpapan Barat, RS Sayang Ibu bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol harapan akan layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau. DPRD berharap, ke depan proyek ini dapat dilanjutkan dengan perencanaan yang lebih matang serta pengawasan ketat, agar benar-benar menjawab kebutuhan dan harapan masyarakat. (*)
Editor : Ismet Rifani