BALIKPAPAN — Kebiasaan menyisihkan uang receh selama Ramadan yang dilakukan ribuan siswa Sekolah Islam Terpadu Al-Auliya Balikpapan berbuah aksi sosial besar.
Dana infak yang dikumpulkan selama 30 hari Ramadan berhasil mencapai sekitar Rp 128 juta dan digunakan untuk mengajak 100 anak yatim berbelanja kebutuhan sekolah menjelang tahun ajaran baru.
Puncak acara digelar di Plaza Balikpapan, Minggu (10/5). Kegiatan yang digelar Yayasan Pendidikan An Nahl Balikpapan juga dirangkaian dengan atraksi dari murid-murid.
Ketua Yayasan Pendidikan An Nahl Balikpapan, Encik Mulyadi, mengatakan program tersebut bertujuan menanamkan budaya berbagi kepada siswa sejak usia dini.
Selama Ramadan, para siswa diminta menyisihkan sebagian uang saku maupun sisa uang belanja mereka ke dalam kaleng tabungan infak. Sebagian siswa mendapat wadah tabungan dari sekolah, sementara lainnya membuat sendiri dari botol maupun kaleng bekas di rumah.
“Anak-anak belajar bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya. Dari receh demi receh yang dikumpulkan selama Ramadan, akhirnya bisa menjadi manfaat besar bagi orang lain,” ujarnya.
Program itu melibatkan seluruh unit pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Anahal, mulai dari TK IT Al-Auliya 1 dan 2, SD IT Al-Auliya 1 dan 2, SMP Full Day, SMP Boarding, hingga SMA IT Al-Auliya.
Dengan jumlah siswa mencapai sekitar 1.911 orang, akumulasi infak harian yang nominalnya relatif kecil mampu berkembang menjadi dana sosial bernilai besar.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya tentang bantuan materi, tetapi juga membangun pola pikir siswa dan orang tua mengenai pentingnya kepedulian sosial serta keberkahan berbagi.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang menganggap memberi akan mengurangi harta. Padahal, nilai yang ingin ditanamkan kepada siswa adalah keyakinan bahwa berbagi justru membuka jalan kemudahan dan keberkahan hidup.
“Kami ingin membentuk mindset anak-anak bahwa infak itu bukan kehilangan, tetapi bentuk investasi kebaikan. Ketika membantu orang lain, terutama yang membutuhkan, di situlah nilai pendidikan karakter dibangun,” katanya.
Dalam kegiatan puncak, anak-anak yatim diajak langsung berbelanja kebutuhan sekolah seperti perlengkapan belajar dan kebutuhan penunjang pendidikan lainnya. Momentum tersebut dipilih karena bertepatan dengan persiapan memasuki tahun ajaran baru.
Berbeda dari tahun sebelumnya yang dilaksanakan masing-masing unit sekolah secara terpisah, tahun ini seluruh jenjang pendidikan digabung dalam satu agenda besar agar semangat kolaborasi dan kepedulian sosial semakin terasa.
Program tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana pendidikan karakter berbasis nilai keagamaan dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang melibatkan siswa, guru, hingga orang tua dalam satu gerakan bersama. (*)
Editor : Ismet Rifani