Penelitian Dana Hibah BIMA Universitas Mulia, Modern Green Skills Siap Jawab Transisi Ekonomi Kaltim

Maria Irham • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 19:33 WIB
KOMPAK: Tim Penelitian Dana Hibah BIMA Universitas Mulia. 
KOMPAK: Tim Penelitian Dana Hibah BIMA Universitas Mulia. 

BALIKPAPAN- Sebuah model ilmiah tidak lahir ketika kuesioner selesai dibagikan atau data berhasil dikumpulkan. Bagi Tim Penelitian Dana Hibah BIMA Universitas Mulia, justru pada tahap itulah pekerjaan yang sesungguhnya dimulai: menguji gagasan, mendengarkan kritik, memeriksa kesesuaian konsep dengan realitas lapangan, hingga memastikan model yang dibangun mampu menjawab persoalan yang dihadapi para pemangku kepentingan.

Penelitian yang diketuai Dr. Sudarmo, SH MM bersama anggota peneliti Gunawan ST MT dan Yamani SS MPd ini mengembangkan Model Konseptual Green Skills sebagai determinan penguatan sumber daya manusia dalam perspektif ekonomi lingkungan berkelanjutan pada pemerintah daerah di Kalimantan Timur. Dalam beberapa pekan terakhir, tim melakukan rangkaian diskusi dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, Sangatta, Bontang, hingga Penajam Paser Utara sebagai bagian dari proses penyempurnaan model sebelum memasuki tahapan analisis ilmiah.

Sudarmo menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap penelitian selesai ketika data lapangan telah terkumpul. Padahal, menurutnya, penyebaran kuesioner hanyalah satu bagian dari desain penelitian mixed methods yang digunakan tim.

“Data angka yang terkumpul masih berstatus bahan mentah. Ia memberi tahu kami pola, tetapi belum menjelaskan makna pola itu pada konteks masing-masing daerah,”jelasnya. Tahap yang sedang dijalankan tim saat ini berfokus pada pengujian keabsahan kontekstual model, yakni memastikan apakah dimensi Green Skills yang dirumuskan memiliki makna yang konsisten ketika diterapkan pada daerah dengan karakteristik ekonomi yang berbeda.

Salah satu ruang dialog tersebut berlangsung di STITEK Bontang. Pemilihan perguruan tinggi ini bukan tanpa alasan. Sebagai institusi yang memiliki kedekatan dengan sektor teknologi dan industri, STITEK dinilai mampu memberikan perspektif yang melengkapi pandangan pemerintah daerah mengenai kompetensi hijau.

Menurut Sudarmo, Bontang memiliki karakter sebagai kota industri energi dan petrokimia yang menghadapi isu-isu konkret seperti efisiensi energi, pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun, dekarbonisasi proses produksi, hingga transisi energi. Dalam konteks tersebut, masukan dari akademisi vokasi menjadi penting untuk menguji apakah dimensi Green Technical Skills yang disusun tim benar-benar dapat diterjemahkan ke dalam kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja, bukan sekadar menjadi konsep normatif.

Bagi tim peneliti, kualitas sebuah model tidak ditentukan oleh keyakinan penyusunnya, melainkan oleh kemampuannya bertahan ketika diuji dari berbagai sudut pandang. Karena itu, setiap diskusi dengan akademisi maupun praktisi diposisikan sebagai bagian dari mekanisme pengendalian mutu penelitian sebelum hasilnya dipublikasikan.

“Mutu ilmiah tidak lahir dari klaim penulisnya, melainkan dari ketahanan gagasan ketika diuji orang lain,” tegas Sudarmo. Ia menjelaskan bahwa akademisi menguji kekokohan teori dan kebaruan konsep, sedangkan praktisi menilai apakah indikator yang dirumuskan benar-benar dapat diterapkan di lapangan. Kombinasi keduanya menjadi bagian penting dalam memperkuat validitas isi instrumen penelitian.

Tidak semua masukan kemudian diadopsi. Seluruh kritik didokumentasikan dalam logbook penelitian, dikelompokkan berdasarkan substansinya, lalu ditelaah kembali dengan mempertimbangkan bukti empiris dan rujukan ilmiah.

“Kami memperlakukan kritik sebagai data, bukan sebagai serangan pribadi,”ujar Sudarmo. Bahkan, salah satu diskusi yang berkembang selama proses tersebut mendorong tim menyederhanakan lima komponen awal Green Skills menjadi empat dimensi operasional yang memiliki batas konseptual lebih tegas dan lebih mudah diukur.

Keempat dimensi tersebut kemudian disusun dalam sebuah model konseptual yang menggambarkan hubungan antara literasi lingkungan, keterampilan teknis hijau, kemampuan analisis sistem dan efisiensi sumber daya, serta kolaborasi dan inovasi hijau dengan perilaku kerja hijau, penguatan sumber daya manusia, hingga kesiapan daerah menuju ekonomi lingkungan berkelanjutan. Bagi pemerintah daerah, model ini dirancang agar gagasan tentang Green Skills tidak berhenti sebagai konsep abstrak, tetapi dapat diterjemahkan menjadi indikator yang dapat diukur, dijadikan dasar pelatihan, serta diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan.

Sudarmo menambahkan bahwa pengembangan model Green Skills memang tidak mungkin dilakukan hanya oleh satu tim peneliti. Isu tersebut berada pada persimpangan manajemen sumber daya manusia, kebijakan publik, teknologi lingkungan, dan pendidikan, sehingga membutuhkan dialog dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Model yang hanya dibangun dari satu kota akan lemah daya transfernya. Karena itu kami sengaja melibatkan berbagai daerah dengan karakteristik ekonomi yang berbeda agar model yang dihasilkan memiliki daya guna yang lebih luas,” katanya.

Dalam pandangannya, ukuran keberhasilan penelitian bukanlah tebalnya laporan ataupun cepatnya publikasi, melainkan sejauh mana hasil penelitian mampu digunakan, diuji kembali, dan memberikan kontribusi terhadap pengambilan keputusan.

Menutup wawancara, Sudarmo menyampaikan refleksi yang menurutnya menjadi pelajaran paling berharga selama memimpin penelitian Dana Hibah BIMA.

“Ilmu pengetahuan itu pekerjaan sosial, bukan kerja sunyi seorang diri. Publikasi yang dibaca orang hanyalah puncak gunung es. Sebagian besar waktu justru habis untuk mendengarkan, berdebat, dan merevisi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, proses penelitian juga mengajarkan pentingnya kesabaran epistemik untuk tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan, serta kerendahan hati intelektual untuk menerima bahwa gagasan terbaik sering kali lahir dari ruang dialog, termasuk dari para pelaksana di lapangan. (*)

Editor : Ismet Rifani
Modern Green Skills Penelitian Dana Hibah Bima Dr. Sudarmo Universitas Mulia Balikpapan