Universitas Mulia Bangun Ekosistem di Era AI: Jadi Asisten Riset, Bukan Sekadar Kejar Scopus

Maria Irham • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:27 WIB
BIMTEK: Agenda Bimbingan Teknis Pemanfaatan AI dibuka langsung oleh Rektor Universitas Mulia Agung Sakti Pribadi menghadirkan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman.
BIMTEK: Agenda Bimbingan Teknis Pemanfaatan AI dibuka langsung oleh Rektor Universitas Mulia Agung Sakti Pribadi menghadirkan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman.

BALIKPAPAN – Universitas Mulia (UM) mendorong pemanfaatan artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu untuk memperkuat kualitas penelitian, bukan sekadar mempercepat penulisan artikel atau mengejar jumlah publikasi terindeks Scopus.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Bimbingan Teknis Pemanfaatan AI untuk Penelitian dan Penulisan Artikel Jurnal Bereputasi Internasional Terindeks Scopus di Universitas Mulia, Rabu (12/8).

Kegiatan menghadirkan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman, Prof Rudy Agung Nugroho, serta mendapat dukungan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI). Bimtek juga diikuti peserta dari sejumlah perguruan tinggi swasta di Balikpapan.

Prof Rudy mengatakan, AI dapat dimanfaatkan sebagai research assistant yang membantu peneliti dalam berbagai tahapan penelitian.

Mulai dari memetakan topik, menemukan kata kunci, menelusuri dan membandingkan literatur, mengeksplorasi data, hingga membantu menyempurnakan struktur dan bahasa artikel.

“AI dapat menjadi research assistant yang membantu mempercepat beberapa pekerjaan tersebut,” ujar Prof Rudy.

Baca Juga: Hima Manajemen Universitas Mulia Bahas Penguatan Organisasi dan Pengembangan Pantai Segara  

Meski demikian, penggunaan AI tidak menggantikan peran peneliti. Keputusan mengenai ide penelitian, metodologi, interpretasi hasil hingga tanggung jawab ilmiah tetap berada pada peneliti.

Kenalkan Sejumlah Perangkat AI

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan sejumlah perangkat pendukung riset, di antaranya Scopus AI, Consensus, Elicit, Research Rabbit, dan Connected Papers.

Perangkat tersebut diarahkan untuk membantu peneliti memetakan state of the art, menemukan research gap, merumuskan pertanyaan penelitian hingga mengidentifikasi novelty.

Kerangka penelitian yang diperkenalkan menghubungkan past research, state of the art, research gap, novelty, aims, dan benefits.

Dengan pendekatan tersebut, publikasi ditempatkan sebagai bagian dari proses penelitian yang lebih panjang. Prosesnya mencakup penyusunan research roadmap, pembentukan kelompok riset, pendanaan, pengumpulan dan analisis data, penulisan manuskrip hingga submission dan revisi.

Fokus Riset pada Kebutuhan Kaltim dan IKN

Rektor Universitas Mulia Agung Sakti Pribadi mengatakan, UM tidak memisahkan kuantitas dan kualitas publikasi. Menurutnya, peningkatan jumlah publikasi seharusnya menjadi konsekuensi dari terbentuknya budaya riset yang baik.

“Visi kami adalah membangun budaya riset yang berkualitas, relevan dengan kebutuhan IKN, dan berdampak langsung pada masyarakat Kaltim,” kata Agung.

Karena itu, UM mendorong penelitian yang berkaitan dengan persoalan nyata di Kalimantan Timur dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Beberapa bidang yang menjadi perhatian antara lain UMKM digital, energi baru terbarukan, dan pendidikan.

Untuk mendukung agenda tersebut, UM menyiapkan pendampingan melalui bimtek, UM Research Clinic, mentor, akses database serta dana riset internal.

Dalam satu tahun ke depan, UM menargetkan terbentuk lima tim riset lintas program studi yang mengembangkan riset unggulan bertema IKN.

AI Tetap Harus Berjalan dengan Etika Akademik

Di sisi lain, pemanfaatan AI juga dibarengi perhatian terhadap integritas akademik. UM menyiapkan Pedoman Etika Penggunaan AI untuk mengatur penggunaan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

AI dapat dimanfaatkan untuk ideasi dan penyuntingan, sedangkan data, analisis serta kesimpulan penelitian tetap menjadi tanggung jawab penulis.

“Lebih baik lambat terbit tapi jujur, daripada cepat terbit tapi plagiat,” tegas Agung.

Melalui pendekatan tersebut, UM menargetkan peningkatan produktivitas publikasi, kolaborasi riset serta hilirisasi hasil penelitian. Universitas juga mendorong peningkatan sitasi karya dosen dan menghasilkan penelitian yang dapat diadopsi pemerintah.

Bagi UM, keberhasilan pemanfaatan AI tidak hanya diukur dari jumlah artikel yang terbit, tetapi dari sejauh mana hasil riset dapat dibaca, dikutip dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin dosen UM menjadi ‘Pengendara AI’, bukan ‘Penumpang AI’,” pungkas Agung.

Editor : Muhammad Ridhuan
AI untuk Penelitian publikasi Scopus riset Kaltim penelitian IKN Universitas Mulia