Guru SMK Kesehatan Samarinda Kembangkan Media Pembelajaran Digital Berbasis No-Code

Khairul Anwar • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 16:38 WIB
Pengenalan dan pelatihan platform. (IST)
Pengenalan dan pelatihan platform. (IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Perkembangan teknologi digital mengubah cara generasi muda memperoleh informasi dan belajar.

Peserta didik saat ini semakin terbiasa mengakses informasi melalui telepon pintar, video, gambar, aplikasi, dan berbagai bentuk konten digital.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan mudah diakses.

Tantangan itu terasa pula dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang kesehatan. Pembelajaran kesehatan tidak hanya membutuhkan penjelasan konsep, tetapi juga visualisasi prosedur, tahapan praktik, ilustrasi, video, latihan, dan sumber belajar yang dapat dipelajari kembali oleh siswa.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim dosen Politeknik Negeri Samarinda melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat berupa kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru SMK Kesehatan melalui Pendampingan Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis No-Code Platform.

Pengenalan konsep digitalisasi media pembelajaran. (IST)
Pengenalan konsep digitalisasi media pembelajaran. (IST)

"Program ini menyasar sekitar 15 guru pegiat digital learning SMK Kesehatan di Samarinda, baik guru mata pelajaran produktif maupun nonproduktif. Para guru memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak transformasi pembelajaran digital di lingkungan sekolah," ungkap Ketua Kegiatan Hamdani, M.Pd., dosen Jurusan Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Samarinda.

Hamdani menambahkan bahwa teknologi sudah tersedia, tetapi tantangannya terletak pada pemanfaatannya.

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran masih banyak berpusat pada presentasi, dokumen digital, dan bahan ajar yang relatif statis. Tidak semua guru memiliki pengalaman membuat media pembelajaran digital interaktif secara mandiri.

"Persoalan berikutnya adalah media pembelajaran yang dibuat guru sering tersimpan secara terpisah. Materi berada pada perangkat pribadi, aplikasi pesan, penyimpanan daring, atau berbagai tautan yang berbeda," sambung Hamdani.

Lebih lanjut, Hamdani menjelaskan bahwa transformasi pembelajaran digital tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat.

Guru juga perlu memiliki kemampuan dalam memanfaatkan teknologi. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah teknologi no-code.

"Konsep no-code memungkinkan seseorang membuat aplikasi atau media digital tanpa harus menguasai bahasa pemrograman. Guru diharapkan mampu merancang, membuat, mengelola, dan memanfaatkan media digital berdasarkan tujuan pembelajaran," jelas Hamdani.

No-Code Membuka Peluang bagi Guru

Pendekatan ini relevan bagi guru karena fokus utama mereka tetap pada materi dan proses pembelajaran. Teknologi berfungsi sebagai alat untuk membantu guru mengemas pengetahuan menjadi pengalaman belajar yang lebih mudah diakses siswa.

"Materi yang sebelumnya tersebar mulai disusun ke dalam struktur yang lebih terorganisasi, seperti mata pelajaran, bab, materi setiap pertemuan, gambar pendukung, bahan pustaka, serta aktivitas belajar berupa pre-test, post-test, kuis, latihan, tugas, dan refleksi," sebut Hamdani.

Dengan pola tersebut, media digital tidak sekadar menjadi “bahan bacaan yang dipindahkan ke layar”, tetapi dirancang sebagai bagian dari proses pembelajaran.

"Program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi, hingga penguatan keberlanjutan," tutur Hamdani.

Pelatihan dilaksanakan dengan pendekatan learning by doing. Guru tidak hanya menerima penjelasan mengenai konsep media pembelajaran, tetapi langsung mengembangkan konten berdasarkan mata pelajaran yang mereka ampu.

"Pendampingan menjadi bagian penting karena kemampuan membuat media digital tidak cukup dibangun melalui pelatihan satu arah. Guru perlu mencoba, mengalami kendala, memperbaiki desain, kemudian mengujinya kembali," jelas Hamdani.

Pada proses tersebut, tim pengabdian mendampingi guru mulai dari penyusunan struktur materi, pemilihan bentuk konten, pengaturan tampilan, sampai integrasi materi ke dalam platform pembelajaran.

"Salah satu hasil yang sedang dikembangkan dalam program ini adalah platform sumber belajar siswa berbasis no-code. Dengan 10 media pembelajaran mata pelajaran terintegrasi dalam satu platform sumber belajar siswa dan mekanisme pengelolaan konten yang dapat dilanjutkan dan dikembangkan oleh sekolah," imbuhnya.

Melalui platform tersebut, siswa diharapkan tidak lagi bergantung pada materi yang dikirim secara terpisah.

Mereka dapat menemukan materi berdasarkan mata pelajaran dan bab, membaca penjelasan, melihat media visual, mengakses bahan pustaka, serta mengikuti aktivitas pembelajaran yang disiapkan guru.

"Kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru SMK Kesehatan melalui Pendampingan Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis No-Code Platform merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat tahun pendanaan 2026, BIMA Kemdiktisaintek yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia," kata Hamdani.

Sebagai informasi, kegiatan ini melibatkan dua tim dosen, yakni Sarwo Eddy Wibowo, M.M., dan Almasari Aksenta, M.Eng., dosen Jurusan Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Samarinda, serta dibantu oleh dua mahasiswa.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh BIMA Kemdiktisaintek dan didukung oleh mitra terkait, yakni Kepala Sekolah Abdul Syakir, S.T., M.T., serta Ketua Mitra Pegiat Digital Learning, Andi Abdul Rozak, S.Pd. (*)

Editor : Almasrifah
No-Code Pembelajaran Digital SMK Kesehatan Samarinda teknologi digital