Kustaniya Wiwi Besarkan Lima Anak Bersama Gojek, Penuh Perjuangan. Hampir Sedekade di Jalan

Dwi Restu A • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 19:43 WIB
LOYALIS: Kustaniya Wiwi (kanan), salah satu mitra perintis Gojek Samarinda, tetap menjalani aktivitas sebagai pengemudi untuk menopang kebutuhan keluarga dan membesarkan lima anaknya.
LOYALIS: Kustaniya Wiwi (kanan), salah satu mitra perintis Gojek Samarinda, tetap menjalani aktivitas sebagai pengemudi untuk menopang kebutuhan keluarga dan membesarkan lima anaknya.
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di balik helm dan aktivitasnya mengantar pelanggan dari satu titik ke titik lain, tersimpan kisah panjang seorang ibu yang memilih terus bergerak demi keluarganya. 

Kustaniya Wiwi, salah satu mitra perintis Gojek di Samarinda, telah menjalani profesi sebagai pengemudi sejak 2016.

Bagi Wiwi, menjadi mitra Gojek bukan sekadar pekerjaan. Jalanan Samarinda menjadi tempatnya mencari nafkah, sekaligus ruang yang mempertemukannya dengan beragam orang, cerita, dan pengalaman. “Saya sudah gabung tahun 2016. Kalau perempuan, waktu itu saya termasuk yang ke-10 mendaftar,” tutur Wiwi.

Baca Juga: Efisiensi Anggaran, Andi Harun Pilih Bersihkan Teras Samarinda 2 dengan Gotong Royong
Ketika pertama kali bergabung, jumlah pengemudi perempuan masih relatif sedikit. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah Wiwi. Ia terus menjalani aktivitas sebagai mitra pengemudi dan menjadikan penghasilannya sebagai salah satu penopang kebutuhan keluarga.

Waktu kemudian membawa Wiwi pada fase kehidupan yang tidak mudah. Pada 2021, suaminya meninggal dunia setelah terpapar Covid-19. Sejak saat itu, Wiwi harus menjalani peran sebagai orang tua tunggal sekaligus tulang punggung keluarga bagi kelima anaknya.
Situasi tersebut membuat tanggung jawabnya semakin besar.

Namun, Wiwi memilih untuk tetap berada di jalan. Setiap perjalanan yang dijalani bukan hanya tentang mengantarkan pelanggan, melainkan juga ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memastikan anak-anaknya dapat terus tumbuh serta mendapatkan pendidikan. “Alhamdulillah, penghasilan dari Gojek bisa menghidupi anak-anak sampai mereka bisa mandiri,” ungkapnya.

Baca Juga: BSF Academy Juara Liga Balikpapan U9, 60 Persen Pemain Berusia U8

Kini, perjuangan panjang itu mulai memperlihatkan hasil. Dari lima anaknya, dua di antaranya telah bekerja dan mulai mandiri. Bagi Wiwi, pencapaian tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri sekaligus pengingat bahwa setiap perjalanan yang ditempuh selama bertahun-tahun memiliki arti bagi keluarganya.
Hampir satu dekade menjadi mitra pengemudi membuat Wiwi terbiasa menghadapi berbagai karakter pelanggan. Ada yang ramah dan menyenangkan, ada pula yang memiliki karakter berbeda.

Bagi Wiwi, keberagaman tersebut merupakan bagian dari dinamika pekerjaannya. Ia belajar berkomunikasi, menjaga kesabaran, dan memahami orang lain dalam perjalanan yang terkadang hanya berlangsung singkat. “Ketemu customer itu macam-macam. Ada yang baik, ada yang karakternya berbeda-beda. Random lah istilahnya,” katanya.

Sebagai pengemudi perempuan, Wiwi juga cukup sering mendapatkan pelanggan perempuan. Tidak jarang, perjalanan kemudian menjadi ruang berbagi cerita.

Baca Juga: Dayak Basap Karangan Turun ke Hutan Lawan Illegal Logging, 9 Chainsaw dan Peluru Aktif Ditemukan

Ada pelanggan yang sekadar berbincang ringan. Ada pula yang menjadikan perjalanan sebagai kesempatan untuk mencurahkan isi hati. Wiwi memilih menjadi pendengar. “Kadang kita juga jadi tempat curhat mereka. Asyik juga, mereka cerita, kita dengarkan,” ujarnya.

Bagi Wiwi, interaksi tersebut menjadi pengalaman yang tidak selalu ditemukan dalam pekerjaan lain. Jalanan mempertemukannya dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, sekaligus memberinya pelajaran tentang kehidupan.

Soal penghasilan, Wiwi memahami betul bahwa menjadi mitra pengemudi memiliki dinamika tersendiri. Jumlah pendapatan sangat bergantung pada kondisi dan banyaknya pesanan yang diterima dalam satu hari. Dia menyebut kondisi ketika pesanan sedang ramai dengan istilah “gacor”.

Sebaliknya, ada pula hari-hari ketika pesanan relatif sepi. “Kalau sedang gacor, Alhamdulillah pendapatan lumayan. Tapi kalau hari ini slow, ya wajar. Relatif,” tuturnya.

Bagi Wiwi, situasi tersebut merupakan bagian dari pekerjaan yang telah dipilihnya. Ia berusaha menerima setiap kondisi dan tetap mensyukuri penghasilan yang diperoleh. Sebab, selama bertahun-tahun, profesi sebagai mitra Gojek telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Baca Juga: KNMP Nenang PPU Siapkan Dua Opsi Lokasi, Program Berpeluang Ekspansi hingga 2029

Dari pekerjaan inilah Wiwi berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dan mendampingi kelima anaknya hingga perlahan mampu mandiri.
Kini, dari Kecamatan Sambutan, Wiwi masih menjalani aktivitasnya sebagai mitra pengemudi.

Perjalanan sejak 2016 telah membawanya melewati berbagai fase kehidupan, termasuk kehilangan pasangan dan menjalani peran sebagai orang tua tunggal.

Di balik setiap perjalanan, ada perjuangan seorang ibu yang terus bekerja untuk keluarganya. Dua anak yang kini telah bekerja dan mulai mandiri menjadi salah satu buah dari perjuangan tersebut.

Baca Juga: Menjaga Marwah Dokter dengan Etika

Wiwi berharap dukungan dan komitmen Gojek terhadap para mitra pengemudi dapat terus terjaga. Menurutnya, keberlanjutan kolaborasi antara perusahaan dan mitra menjadi bagian penting dalam mendukung kesejahteraan para pengemudi.

Bagi Wiwi, jalanan mungkin menjadi tempat mencari rezeki. Namun, hampir satu dekade menjalaninya telah mengajarkan satu hal penting: selama masih ada alasan untuk berjuang, perjalanan harus terus dilanjutkan. (*)

Editor : Dwi Restu A
gojek samarinda perjuangan kisah inspirasi