TENGGARONG – Kearifan lokal Kutai dikenalkan kepada anak usia dini melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar tim dosen dan mahasiswa semester 3 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Mulawarman (Unmul).
Kegiatan berlangsung di TK Tiara Pertiwi, Jalan PT Exhima RT 14, Desa Loa Duri Ilir, Sabtu (5/9) pagi. Program tersebut mengangkat tema pendidikan anak usia dini berbasis kearifan lokal dan merupakan bagian dari hibah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tingkat fakultas.
Ketua Tim PKM Unmul Fachrul Rozy mengatakan, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan materi perkuliahan secara langsung. Pembelajaran berbasis kearifan lokal, kata dia, tidak hanya mengenalkan budaya, tetapi juga mengajarkan anak menghargai keberagaman.
“Jadi kearifan lokal ini lebih ke arah bagaimana kita menghargai keunikan bangsa sendiri,” ujarnya.
Tahun ini, tim memfokuskan materi pada kearifan lokal Kutai. Sebelumnya, pengembangan materi mencakup sejumlah suku asli Kalimantan, seperti Dayak, Kutai, Banjar, dan Paser.
Selain menyusun modul ajar, tim juga membuat media pembelajaran berbahan alam melalui kolaborasi dengan mahasiswa bidang kehutanan. Media tersebut diharapkan dapat membantu guru menyampaikan materi budaya dengan cara yang lebih menarik bagi anak.
Fachrul menjelaskan, TK Tiara Pertiwi dipilih karena lokasinya berada di kawasan yang berdekatan dengan Samarinda dan Kutai Kartanegara. Sekolah tersebut juga telah menjadi mitra kegiatan pengabdian pada tahun sebelumnya.
Kepala TK Tiara Pertiwi Tiara Ferdiyanti mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, pengenalan budaya lokal sejak dini penting dilakukan agar nilai-nilai tradisi tetap dikenal hingga generasi berikutnya.
Selama ini, pihak sekolah berupaya memasukkan unsur budaya lokal melalui lagu daerah, pakaian adat hingga pengenalan pola pengasuhan yang berkaitan dengan budaya setempat.
Koordinator PKM Nazwa Anindya Savitry menambahkan, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami kearifan lokal secara teori, tetapi juga mampu mengemasnya menjadi pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak usia dini.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami kearifan lokal secara teori, tetapi juga mampu mengemasnya menjadi pembelajaran yang menarik,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diikuti Aura Elvareta Qurnia, Misna Liya, Nadya Octavia Simbolon, dan Savira. (pms/as)
Editor : Thomas Priyandoko