Seragam Kurir Tak Lagi Jadi Limbah: J&T Express Sulap 146 Kg Tekstil Jadi Produk Baru

Agus Prayitno • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 12:02 WIB
Sebanyak 146 kilogram limbah tekstil berhasil diolah menjadi merchandise kit melalui proses upcycling J&T Express. (Foto: Istimewa)
Sebanyak 146 kilogram limbah tekstil berhasil diolah menjadi merchandise kit melalui proses upcycling J&T Express. (Foto: Istimewa)

KALTIMPOST.ID – Seragam kurir biasanya berhenti digunakan ketika masa pakainya berakhir. Namun, bagi J&T Express, pakaian kerja tersebut masih bisa memiliki kehidupan kedua.

Melalui program keberlanjutan, perusahaan logistik ini mengolah seragam operasional bekas menjadi berbagai produk baru. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang untuk mengurangi limbah tekstil dan memberikan manfaat sosial.

Inisiatif itu dijalankan melalui J&T Express Sustainability Impact Program (J&T SIP). Program tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk menghadirkan dampak lingkungan sekaligus manfaat bagi masyarakat.

Yang menarik, material yang diolah bukan berasal dari bahan baru. Seragam operasional kurir yang sudah tidak digunakan dibersihkan terlebih dahulu sebelum diproses menjadi produk dengan fungsi berbeda.

Dari material tersebut, lahir sejumlah produk seperti pouch, reusable bag, bag charm, hingga notebook cover. Dalam prosesnya, J&T Express menggandeng Liberty Society, sebuah social enterprise yang telah memiliki sertifikasi B Corp.

Baca Juga: Beda Aktivitas, Beda Hijab: Kenali 3 Pilihan Material UNIQLO untuk Perempuan Modern

Bagi J&T Express, seragam kurir memiliki cerita tersendiri karena menjadi bagian dari aktivitas operasional sehari-hari. Pakaian tersebut juga digunakan para kurir ketika berinteraksi langsung dengan pelanggan di berbagai wilayah.

Karena itu, berakhirnya masa pakai seragam tidak serta-merta membuat materialnya harus menjadi sampah. Material tersebut justru dicoba untuk dimanfaatkan kembali sehingga mempunyai fungsi dan nilai baru.

“Ketika masa pakai seragam sudah berakhir, kami melihat adanya kesempatan untuk mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang tetap memiliki fungsi dan nilai,” ujar Brand Manager J&T Express Herline Septia.

146 Kg Limbah Tekstil Diolah

Upaya tersebut menghasilkan angka yang cukup menarik. Sebanyak 146 kilogram limbah tekstil berhasil diolah menjadi merchandise kit melalui proses upcycling.

Tidak berhenti pada pengurangan material terbuang, proses tersebut juga diperkirakan mampu menghindari 1,25 ton emisi CO₂e. Angka itu disebut setara dengan emisi dari perjalanan mobil berbahan bakar bensin sejauh kurang lebih 5.000 kilometer.

J&T Express mengolah kembali seragam kurir yang sudah tidak digunakan menjadi berbagai produk baru melalui program keberlanjutan. (Foto: Istimewa)
J&T Express mengolah kembali seragam kurir yang sudah tidak digunakan menjadi berbagai produk baru melalui program keberlanjutan. (Foto: Istimewa)

Konsep upcycling sendiri memberikan perspektif berbeda terhadap barang yang sudah tidak digunakan. Material lama tidak sekadar dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi diolah agar mempunyai kegunaan baru.

Dalam konteks seragam kurir, pendekatan tersebut membuat pakaian kerja yang sebelumnya sudah selesai digunakan dapat berubah menjadi produk dengan bentuk dan fungsi berbeda.

Baca Juga: Daftar Harga BBM Hari Ini 14 September 2026: Pertamina, Shell, Vivo dan BP Lengkap

Namun, cerita program ini tidak hanya berhenti pada persoalan lingkungan. Ada unsur pemberdayaan masyarakat yang ikut menjadi bagian dari proses produksi produk hasil upcycling tersebut.

Libatkan Perempuan Perajin

J&T Express bersama Liberty Society melibatkan perempuan perajin dari komunitas marginal dalam proses produksi. Kolaborasi itu memberikan kesempatan ekonomi sekaligus mendukung pengembangan keterampilan para perajin.

Selama proses produksi berlangsung, kolaborasi tersebut menciptakan sekitar 1.488 jam kerja produktif. Angka ini menunjukkan bahwa pemanfaatan kembali limbah dapat dikaitkan dengan manfaat sosial ketika prosesnya melibatkan komunitas.

Bagi J&T Express, keberlanjutan karena itu tidak hanya berbicara mengenai berapa banyak limbah yang berhasil dikurangi. Ada pula pertanyaan mengenai manfaat apa yang dapat tercipta bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

“Keberlanjutan tidak berhenti pada bagaimana mengurangi limbah, tetapi juga bagaimana menciptakan manfaat yang lebih luas,” kata Herline.

Produk hasil upcycling seragam kurir menjadi bagian dari upaya J&T Express menggabungkan manfaat lingkungan dan sosial. (Foto: Istimewa)
Produk hasil upcycling seragam kurir menjadi bagian dari upaya J&T Express menggabungkan manfaat lingkungan dan sosial. (Foto: Istimewa)

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa barang yang sudah tidak digunakan masih dapat mempunyai nilai apabila dikelola dengan cara berbeda. Seragam yang sebelumnya identik dengan aktivitas pengiriman kemudian memperoleh fungsi baru sebagai produk sehari-hari.

Melalui J&T SIP, perusahaan menyebut akan terus mengeksplorasi penerapan prinsip keberlanjutan dalam aktivitasnya. Salah satu fokusnya adalah mengurangi dampak lingkungan dari material yang digunakan sekaligus mendukung pemberdayaan komunitas.

Baca Juga: Mitsubishi Xforce HEV vs Xforce Bensin, Ini Perbedaan yang Wajib Diketahui Sebelum Beli

Pada akhirnya, perjalanan seragam kurir tersebut menunjukkan bahwa upaya keberlanjutan bisa dimulai dari benda yang sangat dekat dengan aktivitas perusahaan. Dari pakaian kerja yang telah selesai digunakan, muncul produk baru sekaligus kesempatan menciptakan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Bagi J&T Express, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjalankan bisnis secara lebih bertanggung jawab. Lingkungan dan masyarakat ditempatkan sebagai dua aspek yang berjalan bersamaan dalam inisiatif tersebut.

Editor : Agus Prayitno
J&T Express jasa pengiriman paket program keberlanjutan Seragam kurir