PHE Siapkan Generasi Muda Hadapi Tantangan Energi

Ajie Chandra • Dipublikasikan Selasa, 3 November 2026 | 18:56 WIB
GALI POTENSI: Program Upstream Youth Champs (UYC) 2026 di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Balikpapan, Kamis (29/10).
GALI POTENSI: Program Upstream Youth Champs (UYC) 2026 di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Balikpapan, Kamis (29/10).  

BALIKPAPAN – Masa depan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam dan kecanggihan teknologi. Di balik keberlanjutan pasokan energi nasional, dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, serta melahirkan inovasi untuk menjawab tantangan industri yang semakin kompleks.

Perspektif inilah yang dibawa PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui program Upstream Youth Champs (UYC) 2026 di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Balikpapan, Kamis (29/10).

Mengusung tema “Menggali Potensi, Menggerakkan Energi”, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara dunia industri, akademisi, dan generasi muda untuk membicarakan masa depan energi Indonesia.

Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan aktivitas industri hulu minyak dan gas bumi (migas), tetapi juga diajak memahami kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan sektor energi di masa mendatang.

Persoalan energi menjadi semakin strategis seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, industri hulu migas menghadapi tantangan yang tidak sederhana, mulai dari menemukan cadangan baru, mengoptimalkan produksi lapangan eksisting, mengembangkan teknologi, hingga beradaptasi dengan arah transisi energi.

Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas nasional. Perusahaan ini mengelola sekitar 27 persen wilayah kerja operator migas di Indonesia, dengan kontribusi sekitar 69 persen terhadap lifting minyak domestik dan 35 persen terhadap lifting gas domestik.

Pada semester I 2026, produksi migas PHE mencapai sekitar 935 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Angka tersebut menunjukkan besarnya skala operasional sekaligus kebutuhan terhadap inovasi dan pengembangan talenta untuk mempertahankan kinerja industri hulu migas.

Senior Engineer Performance & Technical Support Pertamina Hulu Mahakam, Brightly Suryajaya, menilai tantangan industri energi ke depan menuntut generasi muda memiliki kemampuan yang lebih luas daripada sekadar penguasaan bidang akademik.

“Tantangan industri energi ke depan membutuhkan talenta yang tidak hanya memiliki pengetahuan di bidangnya, tetapi juga mampu berpikir kritis, beradaptasi, dan bekerja sama untuk mencari solusi. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk memahami bahwa kontribusi terhadap sektor energi dapat datang dari berbagai disiplin ilmu,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa perlu melihat peluang pengembangan kompetensi secara lebih luas agar dapat mengambil peran dalam mendukung masa depan energi Indonesia.

Peluang tersebut terbuka karena industri hulu migas tidak hanya membutuhkan tenaga ahli teknik. Perkembangan operasional dan bisnis energi juga memerlukan keahlian teknologi informasi, pengolahan data, keuangan, hukum, komunikasi, manajemen rantai pasok, hingga bidang keberlanjutan dan pengembangan masyarakat.

Dengan demikian, mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu memiliki kesempatan untuk berkontribusi. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan persoalan nyata yang dihadapi industri.

Di tengah tantangan mempertahankan produksi, PHE juga terus mengembangkan pendekatan teknologi untuk meningkatkan efektivitas kegiatan hulu migas. Salah satunya melalui penerapan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR), yakni teknologi peningkatan perolehan minyak dari lapangan yang telah beroperasi.

Selain itu, perusahaan turut menjajaki potensi natural hydrogen serta teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS).

Pengembangan tersebut memperlihatkan bahwa industri energi membutuhkan kemampuan untuk terus berinovasi dan beradaptasi. Pengetahuan lintas disiplin, riset, serta keberanian menguji gagasan menjadi bagian penting dalam menemukan solusi atas persoalan energi yang terus berkembang.

Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi relevan. Perguruan tinggi memiliki sumber daya intelektual dan potensi riset, sementara industri mempunyai pengalaman operasional serta persoalan aktual yang membutuhkan penyelesaian.

Upstream Youth Champs 2026 berupaya mempertemukan kedua potensi tersebut. Melalui interaksi langsung dengan praktisi industri, mahasiswa mendapatkan gambaran mengenai tantangan dunia kerja sekaligus peluang untuk mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.

Selain membahas perspektif industri, UYC 2026 menghadirkan sesi pengembangan diri bersama content creator Raihan Aqilah melalui materi bertajuk “From Potential to Impact”.

Sesi ini menekankan bahwa potensi tidak akan memberikan dampak apabila hanya disimpan sebagai kemampuan yang belum pernah diuji. Rasa ingin tahu, keberanian mencoba, kemampuan membangun jejaring, dan kemauan berkolaborasi menjadi modal penting untuk mengembangkan diri.

Inovasi juga tidak selalu lahir dari laboratorium atau ruang kerja teknis. Gagasan baru dapat muncul dari pengalaman sehari-hari, interaksi dengan lingkungan, hingga kemampuan melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.

Perspektif tersebut kemudian dipertemukan dalam sesi talkshow yang melibatkan perwakilan ITK, PHE, dan Raihan Aqilah. Diskusi membahas keterhubungan pendidikan dengan kebutuhan industri, pengembangan karier, serta peluang generasi muda mengambil peran dalam menghasilkan solusi.

Perwakilan Institut Teknologi Kalimantan, Luh Putri Adnyani, S.T., M.T., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan sekaligus memberikan ruang pengembangan potensi.

“Perguruan tinggi memiliki peran untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan sekaligus menyediakan ruang untuk mengembangkan potensi, berkolaborasi, dan memahami persoalan nyata. Melalui interaksi dengan industri dan berbagai perspektif, mahasiswa dapat melihat bagaimana ilmu yang dipelajari tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat dan Indonesia,” ungkapnya.

Keterhubungan antara kampus dan industri menjadi semakin penting di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan capaian akademik yang baik, tetapi juga perlu membangun kemampuan adaptasi, komunikasi, pemecahan masalah, dan kolaborasi.

Bagi mahasiswa, pengalaman mengikuti riset, kompetisi, organisasi, maupun proyek kolaboratif dapat menjadi sarana untuk menguji kemampuan sekaligus memahami persoalan yang ingin mereka selesaikan.

Pada akhirnya, tantangan energi Indonesia bukan hanya persoalan bagaimana menemukan dan memproduksi sumber daya, melainkan juga bagaimana menyiapkan manusia yang mampu mengelola potensi tersebut secara berkelanjutan.

Melalui Upstream Youth Champs 2026, PHE mendorong generasi muda untuk tidak membatasi kontribusi berdasarkan latar belakang keilmuan. Sebab, masa depan energi membutuhkan lebih dari satu bidang keahlian. Dibutuhkan kolaborasi, inovasi, dan keberanian mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata.

Semangat “Menggali Potensi, Menggerakkan Energi” pun menjadi pengingat bahwa mahasiswa hari ini merupakan bagian dari sumber daya manusia yang akan menentukan arah pembangunan energi Indonesia di masa depan. (*)

Editor : Ismet Rifani
Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Program Upstream Youth Champs Upstream Youth Champs 2026 pt pertamina hulu energi