Setelah menjalani vaksin pertama Covid-19 pada Agustus 2021 lalu, Editha Angi menyadari ada sebuah benjolan di atas payudaranya. Sebelah kanan dekat ketiak. Kecil, ukurannya seperti sebutir kacang tanah. Namun tidak sakit ketika dipegang.
Saat itu, Editha sendiri tengah membangun usaha frozen food atau makanan beku rumahan. Editha sedang bersemangat. Surat izin usaha sudah dikantongi. Karena saat Covid-19, permintaan makanan beku meningkat. Ditambah usaha budi daya ikan lele di belakang rumahnya tengah panen. Dia pun menyiapkan semua bahan yang diperlukan.
“Semangat bersihkan lele. Ada 20 kilogram saya bersihkan. Tapi setelah itu tangan kanan saya sakit. Saya ke Puskesmas buat periksa tangan saya. Sambil saya cerita soal benjolan itu. Sama dokter di sana dirujuk ke rumah sakit Kanujoso (RSUD Kanujoso Djatiwibowo),” kata perempuan yang kini berusia 50 tahun itu.
Di rumah sakit, dokter menyatakan benjolan di atas payudara Editha adalah tumor. Di sana Editha sudah merasakan ketidaknyamanan. Pikirannya kacau. Membuatnya takut datang kembali ke dokter dan melewatkan jadwal pemeriksaan lanjutan.
“Tapi setelah saya baca dan cari informasi apa itu tumor, akhirnya muncul keberanian itu. Saya datang lalu dilakukan pemeriksaan. Berjalan dilakukan biopsi. Lalu Oktober 2021 saya dioperasi,” kata warga Kelurahan Telaga Sari, Balikpapan Kota, itu.
Namun bukan tumor biasa yang diderita Editha. Hasil sampel jaringan yang dikirim ke laboratorium menunjukkan kanker sudah masuk ke Grade 3. Dokter pun memutuskan mengangkat payudaranya untuk memutus penyebaran. Namun karena sudah masuk stadium 3, ada kemungkinan masih terjadi penyebaran. Karena itu, belum juga pulih dari operasi, dirinya segera diminta melakukan kemoterapi.
“Saat itu sebelum operasi saya sudah pasrah dan hati saya menangis. Habis operasi di 4 Oktober, jahitan belum kering , lanjut di 9 Oktober saya kemoterapi. Enam kali kemo, di sana saya sering pingsan, rambut saya habis, pendarahan sampai pernah sekali transfusi habis 8 kantong darah. Badan saya sakit semua. Tapi dalam hati saya terima saja, jalani apa yang dikatakan dokter,” ujarnya.
Pasca kemoterapi, Editha kembali menerima kabar pahit. Kanker masih bersarang di tubuhnya. Bahkan sudah menyebar di lima titik kelenjar getah bening. Oleh dokter dia dirujuk ke RSUD Abdul Wahab Syahranie (AWS) Samarinda. Untuk menjalani terapi radiasi. Karena saat itu, pada 2022, RSKD Balikpapan belum memiliki alatnya. Di Samarinda, Senin sampai Jumat dia datang ke rumah sakit. Terapi ini wajib dilakukan sebanyak 30 kali.
“Selama jalani terapi itu saya tidak pernah mandi. Hanya seka saja. Badan saya yang dipapar radiasi itu diproses ke-18, kulit saya terbakar melepuh sampai jahitan operasi kembali terbuka. Sakitnya luar biasa. Sampai saya berpikir kapan ini selesai,” katanya. Dalam proses penyembuhan ini, Editha banyak mengalami banyak kehilangan ditinggal teman-teman baru yang dikenalnya, sesama pengidap kanker.
“Saya beruntung masih diberi kekuatan. Termasuk dari anak-anak saya yang membantu dan menemani saya. Membersihkan luka saya. Kebetulan anak saya yang sulung kuliahnya di bidang farmasi,” imbuh ibu dari Patricia Amanda Kristanti dan Cecilia Manuela Kristiani tersebut.
Terapi radiasi pun selesai pada Juni 2022. Sebelum pulang, dia pun menjalani pemeriksaan akhir. Termasuk scan menyeluruh dari kepala sampai kaki. Hasilnya membuat Edhita gembira. Dokter menyebut kanker sudah tak ada lagi di tubuhnya. Dia pun kembali ke Balikpapan dengan semangat baru untuk kembali berusaha makanan beku.
“Sebulan, sesuai saran dokter di AWS, saya diminta periksa lagi ke RSKD. Sebulan saya istirahat. Tapi ketika periksa rontgen di RSKD, rupanya ada kanker di tulang belakang saya. Di sana saya kembali pasrah. Sudah ikuti apa kata dokter saja. Akhirnya saya kemo tulang sejak September 2022 sampai sekarang. Kemo sebulan sekali,” ungkap Editha yang kerap tertawa menceritakan perjuangannya tersebut.
Salah satu alasan Editha bisa menjalani kehidupan sebagai pengidap kanker adalah berkat dukungan keluarga dan komunitasnya. Sejak menderita kanker, dirinya pun bergabung ke salah satu komunitas bernama Sahabat Pejuang Kanker Kalimantan.
“Kami di komunitas ini saling memberikan semangat kepada mereka yang sakit, meski kami juga sakit. Membantu berupa donasi ke yang kekurangan. Memang di sisi pengobatan semua gratis ditanggung BPJS Kesehatan. Namun di luar itu tanggungan sangat besar,” ungkap Editha.
Seperti dirinya yang pernah harus mendatangkan perawat untuk membersihkan luka pasca operasi. Atau biaya hidup selama menjalani terapi radiasi di Samarinda. Seperti dirinya, banyak pengidap kanker yang harus ke luar kota bahkan provinsi karena tidak tersedianya layanan di rumah sakit daerah asal. Karena itu dia dan penyintas kanker di Balikpapan bersyukur begitu RSKD Balikpapan telah memiliki fasilitas lengkap untuk terapi melalui layanan kanker terpadu.
“Karena semakin tahun semakin banyak penderita kanker yang memerlukan pelayanan. Di komunitas kami saja, dari saya bergabung pada 2021 lalu hanya 70 orang, kini anggotanya sudah 300-an orang. Itu pun sudah banyak yang mendahului kami,” ungkap Editha.
Kata dia, anggota komunitas didominasi oleh mereka yang mengidap kanker payudara. Bahkan ada salah satunya yang masih remaja. Di keluarganya pun, dia tidak sendiri sebagai penyintas kanker. Keponakannya yang berusia 24 tahun juga divonis kanker ovarium. Menurutnya, kanker yang dideritanya merupakan genetik. Karena melihat riwayat keluarga. Namun ada pula yang terserang karena gaya hidup.
“Karena itu di komunitas kami saling memberi support dan pengetahuan. Salah satunya sebisa mungkin menghindari yang namanya pengobatan alternatif. Ini berdasarkan pengalaman dari teman-teman,” ujarnya. (dwi)