Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kasus Kekerasan Kerap Terjadi di Lingkungan Kampus

Muhammad Ridhuan • Minggu, 28 April 2024 | 09:20 WIB
Myrna Asnawati Safitri
Myrna Asnawati Safitri

BALIKPAPAN-Banyak faktor yang menyebabkan tingginya kasus kekerasan pada anak dan perempuan. Kekerasan bisa terjadi karena norma budaya yang memperkuat pandangan patriarki dan stereotip gender. Sehingga memperkuat sikap-sikap yang merendahkan perempuan dan melegitimasi kekerasan terhadap mereka.

Ketidaksetaraan kekuasaan dan akses terhadap sumber daya antara perempuan dan laki-laki bisa menyebabkan perempuan lebih rentan terhadap kekerasan. Karena mereka mungkin memiliki sedikit atau tidak ada pilihan lain dalam situasi yang berpotensi berbahaya.

“Perempuan begitu diberi kekuatan sedikit saja, maka dia bisa melaju dan punya peran signifikan dalam perubahan sosial. Namun begitu perempuan berada di dalam komunitas dengan kultur patriarki yang begitu kuat, maka dia rentan terhadap kekerasan,” ungkap Ketua Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) Kaltim, Myrna Asnawati Safitri dalam Rembuk Etam Goes To-Campus di Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) pada 23 Maret.

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN itu menyebut, kekerasan pada perempuan juga tidak terbatas pada status pendidikan maupun strata sosial ekonomi. Apalagi di dunia pendidikan, kasus kekerasan belakangan mencuat luar biasa. Dan di banyak tempat kasus ini cenderung ditutupi.

“Makanya kami adakan Rembuk Etam Goes To-Campus itu. Karena kasus kekerasan di perguruan tinggi luar biasa. Seperti fenomena gunung es, kasusnya mencuat di beberapa tempat,” ucapnya. Sebab menurutnya relasi antara atasan-bawahan atau dosen-mahasiswa masih tidak seimbang. Sehingga di situ muncul kerentanan.

Anggota IKA UB Kaltim Irvan Wirayuda menambahkan, perjalanan dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan merupakan proses panjang. Namun bukannya menurun, kasus kekerasan tersebut malah meningkat. Dirinya sepakat ini efek dari fenomena gunung es.

“Menjadi tantangan bagi kita untuk mengevaluasi kembali proses penanganan kekerasan pada perempuan dan payung hukumnya. Meski sulit, harus ada optimisme untuk menghilangkan kasus kekerasan,” ucap Irvan. (rom)

Editor : Romdani.