KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Pasar Inpres Kebun Sayur yang terletak di Jalan Letjen Soeprapto bukan hanya sekadar tempat perdagangan, tetapi juga menjadi simbol perkembangan Kota Balikpapan.
Diresmikan pada tahun 1983 oleh Wali Kota Balikpapan kala itu, Syarifudin Yoes, pasar yang berada di wilayah barat kota ini telah mengalami berbagai peristiwa dan menjadi salah satu pusat ekonomi penting bagi kota ini.
Meskipun telah mengalami beberapa perubahan kecil seperti perluasan area musala dan peningkatan kenyamanan, pasar ini masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu segera diatasi untuk meningkatkan daya tariknya dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.
Kepala UPTD Pasar Wilayah I Dinas Perdagangan (Disdag) Balikpapan, Normaniah, menuturkan bahwa sejak awal berdirinya, pasar ini telah menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Kalimantan. Terlebih lagi dua dekade lalu, Balikpapan masih begitu ramai dengan ekspatriat maupun wisatawan asing yang berkunjung.
“Dengan beragam produk dan kerajinan tradisional yang ditawarkan, Pasar Inpres Kebun Sayur tidak hanya menarik pengunjung lokal, tetapi juga pengunjung dari luar kota maupun asing. Kehadiran pasar ini tidak hanya sebagai tempat berbelanja, tetapi juga sebagai landmark yang mencerminkan kemajuan ekonomi dan sosial Balikpapan,” ucap Normaniah, Kamis (27/6).
Selama hampir empat dekade beroperasi, pasar ini belum mendapatkan sentuhan signifikan. Oleh karena itu, Normaniah menegaskan pentingnya segera dilakukan revitalisasi. Revitalisasi pasar ini menjadi sangat penting untuk meningkatkan potensi ekonomi lokal dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung.
“Kita sudah lama menginginkan adanya revitalisasi. Jika terlaksana, tentu akan membuat pedagang dan pembeli lebih nyaman,” lanjutnya.
Hal pertama yang menjadi perhatian adalah peningkatan infrastruktur fisik, termasuk perbaikan jalan di sekitar pasar untuk memastikan akses yang lancar dan aman bagi kendaraan dan pejalan kaki. Selain itu, diperlukan pembangunan area parkir yang teratur untuk mengakomodasi jumlah pengunjung yang meningkat.
Disadari pula perlunya pembangunan taman atau area hijau yang menyediakan ruang santai bagi pengunjung, serta penambahan fasilitas tempat duduk yang nyaman di area umum pasar untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. Selain itu, juga diperlukan peningkatan keamanan pasar dengan pemasangan CCTV dan peningkatan pencahayaan di area terbuka.
Selain pembangunan fisik, Normaniah berharap revitalisasi pasar ini akan mendorong para pedagang untuk meningkatkan kualitas dan variasi produk yang ditawarkan.
“Beberapa kali kami juga telah mengadakan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan manajerial serta pemasaran bagi para pedagang lokal. Bersama beberapa pihak, kami harap revitalisasi pasar semakin membuat banyak pihak mau terlibat dan menjadikan Pasar Inpres tidak hanya lebih modern melalui perkembangan teknologi, tetapi juga nyaman,” harapnya.
Editor : Thomas Dwi Priyandoko